Label

Selasa, 31 Januari 2017

Jangan Eksklusif

Image result for gambar kartun sendiri dalam keramaian 

Masa-masa ini saya melihat kenyataan tentang kesenjangan diantara kita. Yang paham hanya terus-menerus berkumpul di masjid, yang belum paham juga masih asyik berhuru-hara. Yang paham, mencela huru-hara dan memvonis kesalahan mereka. Yang belum paham pun mencibir ketaatan dan menganggap ‘orang paham’ itu kaum ekstrimis. Saling menunjuk kesalahan orang dan membenarkan aliran sendiri. Padahal, mereka dalam satu kebenaran (agama) yang sama. Bagaimana bisa saling berusaha menjatuhkan?
Maka jika boleh saya katakan – meski rasanya tidak pantas untuk menggurui – bisa jadi ini kesalahan orang-orang yang telah paham itu. Ibarat kata, “sholeh sendiri, yang penting saya masuk surga, yang lain urusan mereka”. Padahal, Allah mendahulukan perintah amar ma’ruf nahi munkar, lebih dahulu dibanding perintah ibadah yang lainnya.
Islam terhijab oleh kaum muslim itu sendiri. Yang sudah alim (tahu), berbaurnya dengan orang-orang sholeh saja supaya semakin alim dan tertular sholehnya. Yang sudah sholeh, mendekap di masjid saja untuk ibadah dan ceramah. Padahal, orang-orang yang mendatangi masjid untuk mendengar ceramah, biasanya memang sudah paham atau memang sudah mendapatkan hidayah untuk mengaji. Lalu, bagaimana nasib mereka yang belum tersentuh oleh hidayah? Kita terlalu takut untuk berbaur, takut ketularan sifat buruk, takut iman kita semakin lemah, takut ini-itu.
Dulu, Islam masuk ke Indonesia dengan berbagai jalur, bahkan bercampur dengan budaya-budaya nenek moyang. Wali Songo, sebagian besar adalah orang-orang Palestina. Salah satu produk dakwah Wali Songo adalah seni wayang. Hari ini kita sibuk berdebat masalah seni itu haram atau halal? Drama itu dosa atau tidak? Musik itu hukumnya apa? Tidak apa, itu tidak salah. Hanya tidak terlalu penting untuk dijadikan alasan terpecah belah. Seni wayang pada jaman dahulu juga sebagai sarana dakwah. Misalnya tokoh Pandawa bernama Puntadewa, ia memiliki jimat kalimasada. Dalam cerita wayang, kalimasada diartikan kalimat syahadat. Tokoh kedua, bernama Bima yang memiliki kuku Pancanaka. Itu pun ada artinya. Kuku (kukuh), panca (lima), naka (sholat), yang berarti kukuh dalam mendirikan sholat lima waktu. Ada pula tokoh kembar, bernama Nakula dan Sadewa, yang bermakna bahwa haji dan zakat itu memiliki syarat yang sama.
Itulah salah satu makna dakwah. Akan terasa lebih sulit dakwah para Wali Songo itu, jika datang tiba-tiba hanya berceramah di mimbar, di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang masih jahiliyah saat itu. Dakwah itu, seolah-olah kita mengikuti mereka, namun sebenarnya kita juga membelokkan mereka pada kebaikan. Dalam dakwah mengajarkan bagaimana cara kita membungkus dakwah tersebut dengan cara yang menarik. Membaur, namun tidak ikut melebur. Ya, membaurlah dengan orang-orang itu, tapi kita tetap berbeda.
Kita adalah dai, bukan hakim. Dai itu mengajak, bukan memvonis apakah itu benar atau salah. Kenalkan islam melalui diri kita. Kita berpakaian syar’i, tapi jangan menjaga jarak dengan teman-teman yang masih berpakaian minim. Kita rajin sholat ke masjid, tapi jangan menolak bila sekadar diajak makan atau menonton film. Siapa tahu, sedikit demi sedikit mereka juga akan luluh jika kita ajak ke masjid. Kita rajin berdzikir, tapi jangan menutup telinga dengan curhatan mereka. Barangkali, kalimat dari mulut kita menjadi muasal hidayah itu dititipkan. Kita rajin mendatangi majelis ilmu, tapi sesekali sempatkan datang ke rumah teman untuk silaturahim. Itu pemantik kita untuk menarik objek dakwah.
Jangan bangga menjadi orang yang sendiri dalam kebaikan. Jika kita bisa mengajak mereka berada di jalan kebaikan, bukankah itu lebih indah? Seorang dai yang hanya sendiri, tidak mau berbaur, bahkan tidak mendapat dukungan dari masyarakat, energinya akan terkuras karena sibuk melakukan pembelaan-pembelaan. Jauhi fanatisme, tapi kita juga harus tegas mengambil sikap. Ambil sikap sesuai kebenaran yang kita tahu.
Dalam QS. Ibrahim (4): “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali dengan bahasa kaumnya”. Bahasa kaum di sini, bisa bermakna kedalaman sastra, bisa pula menggambarkan budaya (historis masyarakat). Makna sederhananya adalah, kalau masuk kampus, ya gunakan bahasa kampus. Kalau masuk kampung, ya gunakan bahasa kampung. Ekstrimnya, sesuaikan diri kita seperti objek dakwah, tapi kita sudah memiliki pegangan iman. Tidak perlu memvonis, “Pakai jilbab, anak ustad, tapi kok nyanyi-nyanyi?”. Disitu seni dakwah. Barangkali objek dakwahnya adalah para artis. “Tilawah bagus, hafalan banyak, tapi kok suka hangout dan penampilan biasa saja?”. Memangnya kenapa? Barangkali objek dakwahnya adalah teman dia sendiri yang masih suka berhura-hura. “Katanya sholeh, kok ikut nongkrong malem-malem dengan para penjudi”. Siapa sangka, setelah menonton judi, ia bisa mengajak mereka shubuhan jamaah? Dulu, ada seorang preman yang masuk islam setelah kalah berkelahi dengan Rasulullah saw. Ada pula kisah seorang ikhwah yang tinggal di Papua, lebih diterima ketika membangun masjid dengan sebutan ‘gereja muslim’, dan menyebut babi, dengan sebutan babi muslim (sapi).
Jadi, jangan eksklusif. Pahala mengajak kebaikan itu bersifat kuadrat. A mengajak B, maka A mendapat pahala B. B mengajak C, A tetap dapat pahala B dan C. Hidup yang singkat, pilihlah pahala yang serba kuadrat. Wallahu a’lam. (AL)
 

Jumat, 06 Januari 2017

Observasi (Negeri Tapal Batas)

Buku 'Negeri Tapal Batas'
Buku 'Negeri Tapal Batas'
Satu hal yang paling mengerikan di daerah ini adalah badai di malam hari. Seringkali listrik dipadamkan setiap malam untuk mencegah arus pendek dan kebakaran ketika terjadi hujan deras dan petir Kalimantan yang terkenal dahsyat itu.
Malam itu terjadi pertama kalinya. Listrik padam selama dua jam dari pukul 22.00 WITA. Kami semua menunda rapat dan terlelap setelah sholat tarawih. Bersamaan pula angin yang sangat kencang. Pintu utama rumah kami bukan pintu seperti biasanya. Pintu itu seperti jeruji pagar besi, yang perlu didorong ke samping untuk membukanya. Sehingga bisa dibayangkan betapa dinginnya setiap malam bila ada angin kencang, karena ada bagian yang terbuka di sela-sela jeruji besi itu. Angin kencang malam itu menerobos kuat hingga membuat gorden pink pembatas ruangan perempuan juga bergerak naik. Beberapa perempuan terbangun dengan sigap untuk menahan gorden itu dengan beberapa benda. Angin mulai dibarengi dengan hujan deras yang sangat berisik.
“Ngeri banget.” Satu chat Line masuk di grup.
“Tenang saja. Itu hanya efek seng di atap,” jawab Alfabi, yang rupanya masih terbangun.
Huwaa, tidak bisa tidur,” balas yang lain.
Sesekali petir terdengar menggelegar, membuat kami terbangun spontan. Semua perempuan menghambur keluar, ketika menyadari angin semakin kencang, hujan deras, dan mereka tidak bisa lagi tidur. Rupanya semua laki-laki sedang berjuang keras di depan pintu jeruji besi. Mereka sudah setengah basah memasang sarung masing-masing di pintu, untuk menahan supaya air dan angin tidak banyak masuk. Radius beberapa meter lantai sudah basah. Karpet-karpet lantai pun sudah tidak teratur bentuknya karena diusik oleh angin. Semua sofa sudah basah. Para perempuan hanya membantu sebisanya. Mereka memindahkan meja, menggeser sofa, menutup kembali jendela-jendela, yang lainnya bergidik di pojokan.
Baru beberapa hari di Sebatik. Di malam hari yang berisik oleh hujan besar dan angin kencang, sesekali petir menyambar, kami berjuang dengan sisa-sisa rasa takut hingga tengah malam. Takut, tentu saja. Siapa yang menyangka akan terjadi badai mengerikan di sana. Tapi ternyata, malam-malam seperti itu akan sering kami lalui. 

____________________________________________________________
Baca kisah selengkapnya di buku 'Negeri Tapal Batas'