Label

Minggu, 28 Agustus 2016

Anak-Anak Tanjung Aru


Malam ini, entah mengapa aku ingin menuliskan beberapa kisah tentang anak-anak desa Tanjung Aru, Sebatik Timur, tempat kami KKN di Pulau Sebatik. Mereka bukan hanya potongan kecil dalam rangkaian kisah KKN kami, Tapi mereka sungguh berharga jika hanya tergambar dalam dokumentasi foto. Kenyataannya, sudah hampir 3 pekan ini, hp kami masih ramai oleh sms dan telpon-telpon mereka yang menyatakan rindu pada kami. Bahkan lucunya, hari itu ketika kami datang ke wisuda kak Inas (teman KKN kami, FKH 2012) dan makan bersama di restoran, mereka melakukan video call. Aku langsung tertawa, beramai-ramai mereka mengelilingi hp, sampai yang terlihat di layar tak jelas itu wajah siapa. Sebagian kepala hanya terlihat rambutnya saja, terlihat pula sepasang mata yang lain, bahkan sepasang lubang hidung pula.
Kadang pula, beberapa masih suka menyanyikan lagu rindu untuk kami. Duh Dek, jahatnya Kakak, di atas rindu-rindu kalian, barangkali kami sudah sangat sibuk dengan urusan kuliah dan tetek bengeknya.
Berikut kupaparkan beberapa tentang mereka.
1.      Muhammad Nur Ahmad
Dari badannya yang kecil, tak ada yang menyangka bahwa dia sudah SMA, di SMA 1 Sebatik lebih tepatnya. Sejak kedatangan pertama kami di desa ini, Ahmad sudah sangat memoriam bagi kami. Dia bocah yang lucu, aktif, tipikal leader, berisik, suka membantu ibu. Gaya bicara antara Bugis dan Melayunya sangat menghibur bagi kami. Kadang kami tidak paham apa yang dia bicarakan, tapi tanpa harus paham pun itu sudah lucu dan membuat kami tertawa dan selalu tertarik mendengarkan. Gaya bicaranya selalu bernada dan kalimatnya suka terbalik-balik (ala orang Bugis), hehe.
“ Kau makan sudah?” (Kau sudah makan)
“ Ee Kak, macam mana ini?” (Kak, bagaimana ini?)
Di bulan ramadhan, dia sangat aktif dan rajin datang TPQ, meski usianya tergolong paling tua di antara teman-teman lainnya. Dulu sewaktu masih di sana, pengen banget rekam suaranya untuk kubawa pulang ke Jawa. Sayangnya hari-har terakhir kami hectic dengan acara perpisahan dan packing. Dan kuingat, malam terakhir kami di desa itu, Ahmad tidur di pondokan kami, menghibur malam kami yang sibuk dengan beberes pasca acara perpisahan dan packing untuk kepulangan. Ahmad, kami rindu. Semoga baktimu pada ibumu selama ini menjadi amal unggulamu. Kau bilang nanti ingin kuliah di Jogja, yang rajin belajar ya! Kami tunggu di Jogja!

2.      Irfan
Aku mengenalnya dekat ketika di Dokter Kecil. Dia masih kelas 6 SD dan sangat polos. Jadi dari medika punya program pelatihan Dokcil, dan dia adalah salah satu pesertanya. Teman berisiknya Hafidz, tapi dia sangat pandai berpuisi dan membuat kata-kata puisi. Saking puitisnya, malam itu ketika kami berbondong-bondong ke dermaga bermaksud untuk melihat bintang-bintang (Tahukah kamu? Langit Sebatik selalu indah ketika siang ataupun malam), dia berkata,
“ Kak, di dunia ini tak ada perempuan secantik kak Alya. Tapi, hidung kak Alya pesek,” katanya, dan aku memasang muka jengkel.
Berkali-kali dia mengulurkan tangan untuk meminta maaf. Duh Dek, comelnya...
3.      Muhammad Hafidz
Ini dia, adek kesayanganku di Pelatihan Dokter Kecil. Dia juga masih kelas 6, teman trouble maker bagi Irfan ketika kelas Dokcil. Dia pernah bilang, cita-citanya adalah marinir, selanjutnya dia ingin jadi presiden. Aamiin, Dek, semoga tercapai cita-cita dan kebermanfaatanmu yang luas.
Di setiap kelas Dokcil, dia yang paling aktif, aktif berkomentar maksudnya. Saking kesalnya, setiap pertemuan Dokcil aku selalu menghukumnya menyapu pondokan kami. Kan katanya Dokcil, harus bisa menjaga kebersihan juga dong, hehehe. Bukan hanya itu sih, salah satu tujuannya supaya dia jadi sering main ke pondokan kami. Ngefans deh sama bocah aktif ini.
Meski selalu terlihat ceria dan berisik, eh di hari terakhir kami, sabtu pagi sebelum kepulangan kami, dia menyempatkan diri berkunjung ke pondokan sebelum berangkat sekolah. Tak kusangka, pagi itu dia sesenggukan menangis. Duh Dek, Kakak tidak bisa melakukan apapun selain memelukmu. Sudah kuanggap kau sebagai adikku sendiri – Kakak juga punya adik seusiamu. Tetap belajar yang rajin, semoga tercapai semua cita-citamu.
4.      Sabri
Nah kalo yang satu ini sudah SMP. Kami juga mengenalnya sejak hari-hari awal KKN ketika TPQ di bulan Ramadhan. Dia yang paling sering gangguin dan bully teman-teman ceweknya, sampai dibuat nangis. Gini-gini, dia sangat jago mengaji. Tilawah Qur'annya, wuush, keren dan syahdu banget. Bahkan pernah menampilkan tilawahnya ketika sebelum tarawih – sebagai pengganti qultum ramadhan.
Suku Bugis memang mayoritas islam dan mereka sangat mendalami agamanya, atau kata lain ‘ndeles’. Jadi anak-anak kecil itu meski sekolah di SD negeri, mereka selalu ada jadwal belajar ngaji dengan para haji dan imam desa. Itulah outputnya, tilawahnya bagus.
Aku juga ngefans dengan bocah ini, karena penghormatannya pada kami. Kakak juga masih ingat kebaikanmu, ketika Kakak melakukan piket, kau sering menawarkan bantuan. Dan malam itu, malam perpisahan, dia sungguh menangis lama dan sesenggukan sepanjang acara. Semoga lancar segala urusanmu ya, Sabri.
5.      Syazwani
Panggilannya Wani, badannya kecil mungil. Dia masih kelas 4 SD, tapi ketika bicara, ceplas-ceplos seenaknya, cerdas, dan kritis. Orangnya terlihat cuek, tapi sebenarnya dia hanya gengsi. Kecil-kecil gengsinya gedhe. Dia juga yang sering datang ke pondokan kami. Ibunya adalah guru di SD-nya. Pernah sekali kami diundang datang ke ulangtahun Wani ke-9, yang rupanya dirayakan di sekolah. Lucunya, ketika memotong kue, dia langsung memakannya sendiri. Ditambah acara ulangtahun yang begitu anarkis, sampai kami anak KKN hanya bengong di depan melihat semua kejadian di akhir acara – bahkan kami belum sempat menutup acara.
6.      Humairoh (Merah)
Nama panggilanya Merah, dia juga masih SD. Badanya kurus kecil, kulitnya putih, wajahnya cantik. Dulu hampir setiap hari Merah bermain ke pondokan kami tanpa mengenal waktu. Bahkan dia pula yang menarik kami untuk berkunjung ke rumahnya setelah sholat idul fitri. Merah ini bocah yang pandai dalam urusan bahasa, ia mudah sekali mencerna bahasa. Ia pula yang sering mengajariku bahasa bugis dan menjelaskan dengan sabar ketika aku banyak bertanya tentang bahasa bugis.
7.      Tira
Tira namanya, badannya tinggi kurus, rambutnya lurus, matanya bulat, dan orangnya usil sekali. Ia sangat cerewet, semua hal bisa saja dia komentari tanpa berpikir panjang. Yah, namanya juga anak-anak. Dia pula yang sering bersama Wani, sering berkunjung ke pondokan kami. Meski sekadar foto-foto selfie alay dengan hp kami (hehehe), atau membuat keributan dengan kakak-kakaknya. Tapi dia juga yang selalu membuat suasana pondokan kami ramai. Ah, Tira, baik-baik ya di sana!
8.      Amira
Amira, besok ketika dewasa kau mungkin akan jadi gadis cantik, aktif, prestatif, dan selalu sopan. Meski baru kelas 6, fisiknya sudah sangat tinggi, wajahnya selalu sumringah, kritis cara berpikirnya dan blak-blakan kalau ngomong. Aku juga mengenalnya di pelatihan Dokter Kecil. Gadis kecil yang manis, saat ini sudah aktif di sekolah, menjadi petugas pengibar bendera upacara, ekstrakurikuler tari, dan pandai menggambar (ia suka memberi nama pada tokoh-tokoh yang dia gambar). Ia pernah bercerita, dulu rumahnya pernah kebakaran, dan dia kehilangan adik kandung dan kucingnya. Sukses selalu ya, Mira.
9.      Icha
Icha termasuk tokoh anak yang datang di hari-hari akhir kami. Dia baru mengenal kami di tiga pekan terakhir, ketika sekolah sudah mulai masuk dan program-program kami menjamah wilayah sekolah. Dia sangat baik dan sayang pada kami. Seminggu terakhir keberadaan kami di Sebatik, ada salah seorang yang berkata bahwa kami akan pulang. Spontan dia menangis, katanya tidak ingin kami pergi. Hari itu juga, dia menulis surat untuk kami. Hehe, lucunya. Padahal kami masih seminggu ada di Sebatik.
Hari-hari setelahnya, dia selalu bermain ke pondokan sambil nyanyi-nyanyi lagu galau untuk kami – entah lagu apa itu. Intinya melarang kami untuk pergi, karena mereka pasti akan rindu. Haha, lucu memang ini anak.
Merah (pojok kanan berbaju putih), Wani (pojok kiri baju putih dengan kaos hitam), Icha (berjilbab abu-abu)
 
Sebenarnya masih ada puluhan anak lagi yang selalu mengisi hari kami, mulai dari anak TK-SMA. Bahkan anak-anak yang sering kutemui di pelatihan dokter kecil jumlahnya 24. Belum pula anak-anak TPQ yang pertama menyambut di kedatangan kami di bulan ramadhan. Bisa dibayangkan betapa riwuhnya pondokan kami setiap saat. Mereka bisa datang kapanpun. Pagi hari meski sekadar menyapa kami dari bawah rumah panggung, sebelum mereka pergi sekolah. Siang hari, meski mereka sekadar membaca-baca buku kami atau bermain laptop - sementara setiap siang yang sangat panas di Kalimantan dan lelah setelah program, biasanya kami semua terkapar dengan posisi tidur masing-masing. Tapi mereka tetap setia saja bermain. Sore hari untuk meramaikan Rumah Belajar di pondokan, atau sekadar menjemput kami untuk datang ke masid mengajar TPQ. Dan malamnya, mereka lebih heboh lagi. Kami sibuk rapat pun, mereka masih tetap stay di sana.

Suasana itu, tidak kami jumpai lagi di Jogja. Kalian anak-anak yang baik, semoga tetap lurus di jalan yang baik pula. Terimakasih atas segala kebaikan kalian, meramaikan hari-hari kami, menghibur kami dengan bahasa kalian, menulis surat-surat untuk kami, bahkan membawakan banyak oleh-oleh di malam perpisahan. Ketika ada masanya, aku ingin kembali lagi ke Sebatik dan menemui kalian. Semoga, kelak kalian menjadi pemuda yang berguna dan bisa berkontribusi untuk pembangunan negeri di perbatasan.
“ Kakak, nanti balik ke Tanjung Aru lagi ya!” seru Irfan.
“ Hm, insyaAllah ya, kalau Kakak sudah jadi dokter gigi.”
“ Bener ya Kak! Kakak janji ya!”
Aku, hanya tersenyum.