Label

Sabtu, 19 Maret 2016

Presiden Kita Terkenal (?)



Sabtu sore, usai mengikuti agenda konferensi seharian, kami langsung jalan-jalan menggeledah kota bersih itu. Dengan panduan peta stasiun MRT, semua urusan perjalanan keliling Singapore akan mudah.
Dari stasiun terdekat hotel, kami segera menuju stasiun Botanic Garden, salah satu tujuan kami. Begitu sampai dan keluar dari pintu stasiun, di hadapan kami sudah menjulang pagar Botanic Garden. Taman yang luas, bersih, dan desain yang bagus, kami bisa memasukinya gratis. Masyarakat memanfaatkannya untuk olahraga atau sekadar berjalan-jalan. Spot-spot tanaman tertata rapi berdasarkan pengelompokan familinya. Barangkali wilayah seperti ini di Indonesia, tidak mungkin gratis, dan perawatannya susah bila sering dikunjungi para selfiers.
Hampir satu jam kami berjalan, dua hari hidup di sini cukup membuat kaki terbiasa berjalan lama, tiba-tiba kami merasa susah menemukan arah stasiun MRT. Biasanya petunjuk selalu ada di sektor wilayah mana pun. Rupanya kami sudah berjalan keluar garden dan menyusuri jalan kecil yang sepi – tapi sudah biasa jalan aspal Negara ini seringkali sepi.
Beberapa menit kami berjalan, datanglah seorang laki-laki usia 30an mendatangi kami, menanyakan apakah kami butuh bantuan. Kami tanyakan secara singkat tentang stasiun MRT. Akhirnya dengan ramah, beliau mengajak kami berjalan untuk masuk kembali ke area Botanic Garden untuk menjumpai petunjuk lokasi menuju stasiun MRT. Sepanjang perjalanan, beliau tidak bosan mengajak kami bercakap.
“ Nama saya Asad, dari India. Saya sedang kuliah di sini mengambil Ilmu Politik. Bagaimana dengan kalian, kenapa bisa sampai di sini?” tanya beliau.
“ Kami ada acara konferensi di NUS.”
“ Oh, ya saya tahu acara itu. Kalian dari universitas mana?”
“ UGM. Gadjah Mada,” jawab kami.
“ Oh ya, saya hanya tahu Gadjah Mada dan satu lagi, apa namanya…”
“ UI? Universitas Indonesia?”
“ Ya, benar! Yang di Jakarta itu. Gadjah Mada di Yogyakarta, saya pernah ke kota itu. Hm, apakah semua wanita di Indonesia berjilbab seperti kalian?”
“ Mayoritas begitu,” jawab kami, mulai nyaman dengan obrolan.
“ Wah, bagus sekali.”
Perjalanan berlanjut, menyusuri jalan kecil itu. Kami berada di sebelah luar pagar Botanic Garden. Hanya butuh menemukan gerbang untuk masuk lagi ke dalamnya.
“ Saya juga tahu Jokowi, Megawati, Habibie,” lanjut beliau.
“ Tentu saja, Jokowi presiden kami.”
“ Wah, anak muda seperti kalian pasti suka dengan Jokowi, ya?”
Spontan aku tersenyum dan menjawab, “ Hm, tidak juga.”
Pak Asad menimpali dengan tawa atas jawaban kami. “ Ya, saya tahu maksud kalian, tidak apa. Tapi tidak perlu kita membicarakan keburukan presiden. Mari, di sana sudah mulai masuk Botanic Garden.”
Beberapa meter kemudian kami sampai, beliau hanya menunjukkan petunjuk lokasi menuju MRT, kami masih harus berjalan menuju gerbang keluar.
“ Senang bertemu kalian. Semoga sukses acaranya, dan semoga kita bisa bertemu lagi. Mungkin kita bisa berjumpa lewat internet, saya akan cari nama Alya dan Atsana UGM kira-kira akan ketemu tidak ya?” candanya.
Kami hanya tertawa. Meskipun dalam hati aku bertanya, Ilmu Politik semacam beliau, apa saja yang beliau tahu tentang presiden kami, ya? Bagian mana yang beliau kenali tentang Presiden Indonesia? Hehehe... (AL)

Tangan yang Sama


"Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah hidp kita, harta benda kita, ataupun tanah kita. Tapi rasa takut ini menguap begitu kita menyadari bahwa kisah-kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh tangan yang sama."
(Paulo_Sang Alkemis)

Jumat, 18 Maret 2016

Allah disposes


Kita boleh menginginkan apapun. Hanya butuh keyakinan, maka seluruh jagat raya akan membantumu. Tapi, sadari juga bahwa ada tangan yang berkuasa. Mungkin kau melihat keinginan itu dari cermin cekung-cembung, yang bagi Dia, itu tidak indah buatmu...

Sabtu, 05 Maret 2016

Ustad Datang!

Gb. Ilustrasi Jamaah Sholat Asma


Malam itu, kegiatan halaqoh ba'da magrib molor, sehingga ketika adzan isya' berkumandang, halaqoh belum diakhiri. Kelompok-kelompok kecil yang tersebar di tempat masing-masing, masih asyik bercengkerema, bahkan ketika jarum telah menunjuk setengah delapan. Di jam itu pula, bel bertalu-talu memanggil para makmum sholat isya. Sang imam yang digilir setiap hari sudah siap berada di musola yang bisa disulap menjadi kelas kapan saja - hanya perlu tambahan karpet dan meja-meja.

Akhirnya pukul 19.45, baru dimulai takbir pertama sholat. Ibadah itu berlangsung dengan kadar kekhusyukan masing-masing. Sampai pada salam terakhir, beberapa santri berdiri melanjutkan rakaat yang tertinggal, dan yang lainnya bersiap berdoa maupun shola rawatib. Ketika tiba-tiba terdengar suara gerbang yang khas mencekik keika dibuka.

Aku berinisiatif berdiri untuk menengok, siapa tahu ustad sudah datang. Kepalaku melongok dari pintu musola - sekaligus kelas. Samar-samar bayangan itu muncul dari kegelapan palmerah parkir. Aku semakin memicingkan mata. Sosok laki-laki bertubuh padat mulai jelas terlihat. Mataku membulat.

" Ustad sudah datang!!" seruku, sambil menoleh.

Dalam sekejap aku menularkan ekspresi panik itu. Mereka yang duduk bersiap menengadahkan tangan berdoa, segera beranjak berdiri menyerobot sajadah di bawahnya. Pun yang bersiap berdiri rawatib, hampir takbir pula, segera berlari ke belakang.

" Piket kelas!" teriak pemandu, sambil membunyikan bel. " Ustad sudah datang!"

Aku cekikikan menahan tawa, sekaligus terheran. Bahkan mereka tidak jadi berdoa dan sholat rawatib, terburu-buru, berlari, terbirit-birit dengan bawahan mukena yang panjang.

" Heh, segera bersiap pakai jilbab cantik!" seru seseorang padaku. (AL)


*)Jilbab cantik: jilbab wajib ke kelas, yang penting harus segiempat dan syar'i, karena dianggap lebih sopan daripada jilbab bergo (langsungan).