Label

Minggu, 24 Januari 2016

Sunnah Tidur


Gb. Ilustrasi Kelas Asma

Seharusnya hari ahad kosong dengan agenda asrama. Namun khusus hari itu, kami ada dauroh dari sabtu-ahad, Dauroh Fiqh.

Ahad siang, beberapa kepala sudah tergeletak di atas meja. Itu masih sekitar pukul 11. Pikiran mulai lelah dengan materi sejak pagi tadi. Mataku juga sudah tidak mau berkompromi. Coretan-doretan tangan sudah tak jelas arah, naik turun dengan berbagai tipe tulisan. Akhirnya aku merebahkan kepala di atas meja.

Salah seorang teman sebelah menyenggol. " Heh, jangan tidur!"

Aku dengan malas kembali tegak, berusaha lebih tegar. Beberapa detik kembali tumbang. Dia kembali menyenggol.

" Aku hanya ingin mengamalkan sunnah nabi untuk tidur satu jam sebelum dhuhur," jawabku, asal.

" Tapi nggak saat jam materi juga kali! Hey."
(AL)

Minggu, 03 Januari 2016

Bus TJ Saja Tahu



Hari ahad sore itu, jajaran manusia duduk dalam diam di atas bangku tunggu shelter bus Trans Jogja (TJ) di bandara Adi Sucipto/stasiun Maguwo. Aku turut di antaranya, sambil sesekali membaca chat di hp ketika bosan membaca buku materi untuk ujian senin besok. Beberapa bus Tj sudah melintas, tapi bukan bus tujuanku untuk kembali ke asrama. Sudah kuduga, bus yang kutunggu adalah yang paling lama melintas tapi paling ramai penumpang.

Beberapa menit berlalu. Ketika tiba-tiba terdengar dari microphone suara petugas shelter TJ seperti biasa menyebutkan nomor bus dan tempat-tempat tujuannya, “ Yak, jalur 3A menuju ke Ringroad Utara, Makro, Instiper, UPN, bla bla bla….” Sangat panjang dan hafal semua daerah tujuan bus dengan frekuensi pengucapan sangat cepat.

Seperti dugaanku, kerumunan calon penumpang terbanyak untuk bus ini. Dari jauh sudah kulihat bus cukup penuh. Jadi, aku masih duduk tanpa beranjak, karena pasti penumpang sangat dibatasi. “ Beri jalan untuk yang turun! Beri jalan dulu untuk yang turun!” seru petugas shelter. Aku memperhatikan, sepasang muda yang sedari tadi mesra duduk di bangku di hadapanku, turut mengantre untuk masuk bus. Satu per satu masuk, kernet bus masih mempersilakan. Hingga tiba giliran gadis itu, namun tiba-tiba kernet bus menutup pintu dan memberi perintah sopir untuk berjalan. Gadis itu berteriak, mengulurkan tangan pada laki-laki yang masih berdiri di tepian shelter, namun percuma bus sudah berjalan dan kernet menahan gadis itu. Bus semakin jauh. Aku? Segera menutup sebagian muka dengan buku, menahan tawa. Terlebih ketika seseorang di sebelahku tidak sengaja nyeletuk, “ Hoo, kasihan. Terpisah oleh jarak dan waktu.” Jadilah aku tertawa sungguhan.

Beberapa menit masih menunggu, tibalah bus selanjutnya. Aku segera naik dan duduk di kursi kosong. Di hadapanku ada seorang kakek kira-kira usia 70an. Bus terus melaju, hingga beberapa penumpang turun di shelter tujuan. Kursi sebelah kakek itu kosong, dan terdengar panggilannya pada seorang nenek yang duduk di kursi lain agak jauh dari beliau. Berdirilah sang nenek, hendak pindah di sebelah suaminya. Namun bus mulai melaju, membuat tubuh lemah nenek ini terhuyung. Untungnya kakek segera sigap menangkap tangannya, dan menuntun sampai di kursinya. Aku yang di hadapannya, hanya tersenyum haru.

Beberapa menit tentang bus TJ, punya dua kisah di sore itu. Bus TJ saja tahu mana yang harus dipisahkan dan mana yang terus disatukan. Kamu bagaimana? (AL)

#UdahPutusinAja (Ups! :v)

Jumat, 01 Januari 2016

Ujian Ikhlas

 "Keikhlasanmu diuji ketika melakukan hal-hal besar, sementara tidak ada orang yang melihatmu."