Label

Sabtu, 15 Agustus 2015

Partner Surga

 

" Kami bukan kumpulan manusia yang sempurna, tidak pernah berbuat salah, dan maksum. Tapi kami adalah manusia yang beritikad baik untuk memperbaiki dunia." __ustad Deden

Sejujurnya, bertemu orang-orang seperti mereka tidak pernah kumintakan Tapi Allah telah begitu banyak memberi. Banyak kehilangan sebelumnya, hal-hal yang tidak terkabul, harapan yang tidak terpenuhi, tapi Allah selalu punya cara untuk mengganti. Orang-orang yang akan selalu menjadi yang pertama untuk mendengar, menguatkan, mengingatkan. Sahabat yang bukan hanya mengajak bersenang-senang urusan dunia, tapi mau berletih-letih bersama mengejar akherat. Mereka bilang, kita partner surga. InsyaAllah.

#AsmaAmanina

Rabu, 12 Agustus 2015

Itsar




Kelas pagi telah bubar setengah jam lalu. Beberapa santri meramaikan dan membisingkan dapur dengan obrolan-obrolan sembari sarapan. Beberapa terlihat berlari-lari kecil dari ujung blok ke ujung lain. Beberapa terburu-buru dengan menenteng tas, kuliah kampus pagi.

Dian sedang mengepel lantai keramik blok Raudhoh. Hari ini jadwalnya piket. Tiba-tiba datang Ime dengan langkah terburu-buru melewati lantai itu.

“ Ya Allah, maafkan, nggak liat sedang dipel,” seru Ime, melihat tapak kakinya di lantai.

“ Nggak papa, Im,” jawab Dian.

“ Sini sini, biar aku yang ngepel,” kata Ime, berusaha merebut tongkat pel dari Dian.

Dian mempertahankan. “ Eh, nggak usah! Nggak papa aku aja.”

“ Aku harus bertanggungjawab. Sini!” seru Ime.

Keduanya masih saling merebutkan tongkat pel dan berseru dengan kalimat masing-masing.

“ Yaelah, kain pel aja diperebutkan!” celetuk seseorang yang memperhatikan dari dapur.

“ Itsar, Sis, mendahulukan kepentingan saudaranya,” balas yang lain.

“ Mana, Dian!”

“ Nggak usah!” berontak Dian.

Tiba-tiba, bruk bruk bruk. Langkah lari seorang akhwat berjilbab merah marun, beransel di punggung dan meneteng tas laptop. Langkah kakinya yang belum berkaos kaki juga menapak tilas di lantai. Dian dan Ime hanya melongo melihatnya berlalu cuek.

“ Nurul, lantainya!!!” seru keduanya.

Minggu, 02 Agustus 2015

Penghuni Langit Menyebut Namamu


Pernahkah, suatu ketika kau merasa telah melakukan banyak hal, memaksimalkan segalanya terbaik, menyerahkan segenap kemampuan, untuk seseorang, banyak orang, komunitas, organisasi, bahkan bos di tempat kerja. Namun balasan yang kau peroleh tak serupa dengan usaha dan perlakuan terbaikmu. Pasti pernah.
Pernahkah dalam sebuah tim kerja – kerja apapun, baik dalam urusan profesi, tim belajar, proyek bersama – dimana masing-masing sudah terbagi tugas sesuai bidang dan kemampuan. Namun, ketua tim sangat mengapresiasi dan memuji hasil pekerjaan teman daripada milik kita sendiri. Bukan tentang mana yang lebih baik hasilnya, karena bidang fokus kalian berbeda. Tapi, pujian dan penghargaan itu bukan untuk kau yang telah menjadi orang terbaik untuk urusan bidang sendiri. Pasti pernah.
Pernahkah, dalam suatu forum, kau merasa yakin telah menyumbangkan segenap ide-ide terbaik, menyiapkan gagasan dengan sangat rapi semalam sebelumnya, menjelaskan semua argument dengan sangat meyakinkan, dan seakan kaulah sorotan utama di forum itu karena banyak menyumbangkan pikiran. Rupanya, pemimpin forum menolak semua gagasanmu, dengan alasan yang kadang kamu tidak mengerti. Suatu ketika seorang teman yang sedari tadi diam, dia hanya sekali berbicara menyampaikan pikiran, semua sepakat menerimanya. Merasa tidak didengar? Merasa sia-sia usahamu? Merasa ketua forum pilih kasih? Pasti pernah.
Pernahkah, ketika menjelang ujian, kau memang sengaja menyepi di kamar untuk fokus belajar. menyengajakan diri tidur siang supaya mata lebih bertahan lama ketika malam. Di saat semua tertidur, kau berjam-jam menekuni lembaran slide materi dan catatan kertas. Tidak ada yang mengusik, sangat tenang dan fokus. Namun, tak selamanya kita bisa berpaku pada usaha saja. Kecewakah, ketika nilai jauh dari harapan? Sedihkah, ketika nilai atau IP bahkan turun dari semester sebelumnya? Disaat kau sedih dan kecewa, justru orang-orang menimpali dengan tidak adil, menganggapmu tidak serius belajar, sering tidur, dan bermain-main dengan ujian. Terlebih jika yang mengatakan itu adalah orangtua, menganggapmu tidak belajar dengan serius. Hm, pasti pernah juga. Setidaknya sepintar apapun kau, ada masa ketika kau merasa nilaimu jatuh dan orang-orang menyalahkanmu.
Terlalu banyak dekripsi jika membahas urusan perasaan kecewa dan kawan-kawannya. Terkadang, tidak bisa dipungkiri bahwa penilaian oranglain juga berarti untuk kita. Apresiasi oranglain bisa menjadi motivasi bagi kita. Pujian oranglain – bila dilihat dari sisi positif – semakin membuat kita bersemangat untuk melakukan lebih baik karena ketagihan pujian. Bahkan penghargaan kecil seukuran didengarkan oranglain, ditanggapi, diberi hadiah, dilihat, itu bisa memicu bahagia dan kebanggaan.
Tapi, bagaimana jika itu tak kita dapatkan? Merasa menyesal telah bekerja dengan baik, toh oranglain tidak menganggap usahanya. Merasa sia-sia dengan usaha, toh hasil tidak sesuai harapan. Merasa lelah berusaha kembali, toh tidak ada yang menganggap usahanya penting. Padahal sebenarnya ADA.
Ada satu yang akan selalu melihat apapun yang kau lakukan, Allah. Merasa biasa saja? Coba renungkan satu hadits ini baik-baik. Sebelum membacanya, simpan dulu semua perasaan kecewa yang pernah terjadi itu. Simpan dulu, boleh dibuka nanti. Dan bersiaplah membaca dengan hatimu.










“ Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan berkata, ‘Wahai Jibril, aku mencintai orang ini. Maka cintailah dia!”. Maka Jibril pun mencintainya dan mengumumkan pada penduduk langit, “ Wahai penduduk langit, Allah telah mencintai orang ini, maka cintai pula oleh kalian!” Maka seketika seluruh penduduk langit mencintainya. Kemudian orang itu dicintai segenap makhluk Allah di muka bumu.” (HR Bukhori)

Jangan sedih, jika kau merasa tidak ada orang yang melihat dan menghargai usahamu. Adakah cinta yang lebih mulia dari kecintaan seorang Tuhan untuk hambanya? Tidak tanggung-tanggung, namamu disebutkan dan dibanggakan oleh Allah di depan malaikat. Adakah kebanggan yang paling istimewa selain kebanggaan Tuhan untuk hambaNya, ditambah kebanggan malaikat? Lebih mengesankan lagi, malaikat mengumumkan kecintaannya dan menyebut namamu di depan seluruh penghuni langit. Tahukah kau siapa penghuni langit? Langit yang berlapis-lapis itu, yang setiap lapisnya ada tempat sendiri untuk malaikat, para nabi dan rasul, para syuhada, dan ruh-ruh orang beriman. Kau hanya tidak dianggap segelintir penghuni bumi saja, lantas merasa kecewa? Ada yang lebih istimewa di langit sana, mereka bukan sekadar makhluk-makhluk biasa. Sebagai bonusnya, seluruh penghuni langit pun membanggakanmu, dan menyebut-nyebut namamu, maka seluruh penghuni bumi pun mendengar dan mengikutinya. Ingat, penghuni bumi bukan hanya manusia. Jangan dikira benda-benda mati seperti udara, hujan, air, batu itu tidak berarti. Mereka semua patuh pada Allah. Jika kau dicintai oleh mereka, segala hal untuk menolongmu bisa saja terjadi. Udara yang menyejukkanmu, hujan yang membawakan rahmat untukmu, air yang menyehatkanmu, atau batu yang tidak mau kau terjatuh karenanya. Semua mungkin terjadi.
Ingat, Allah selalu melihat. Sangat cukuplah segala usaha terbaik hanya untuk Allah. Bekerjalah dan biarlah Allah dan RasulNya yang melihat.
Tak apa bila tak didengar di bumi, tapi seluruh langit menyebut namamu. Lakukan yang terbaik untuk Allah, temukan cintaNya. (AL)