Label

Senin, 01 Juni 2015

Terlupa dan Dilupakan

 

Bagaimana rasanya, ketika suatu hari kau menyapa seseorang yang kau kenal, ternyata dia lupa namamu? Bagaimana rasanya, ketika kau menerima janji bertemu, ternyata dia lupa dan tidak menemuimu. Bagaimana rasanya, ketika seseorang meminjam barangmu, dan dia lupa dimana meletakkannya? Sakit. Kesal. Kecewa. Tanpa perlu aku sebutkan jawabnya, sepertinya kau telah membatin jawaban setelah selesai membaca satu per satu kalimat.

Ya, memang begitu hakikat manusia. Pada dasarnya ia diciptakan sebagai makhluk yang lalai dan lupa. Begitulah kita, makhluk yang diberi hati untuk merasa. Sampai semua rasa bisa bercampur aduk, berganti-ganti, sesuka yang memiliki hati. Lalai dan lupa memang tidak bisa dikendalikan, itu autonom.

Salah seorang peneliti memori terkemuka saat ini, Elizabeth Loftus, telah menemukan empat alasan utama mengapa orang lupa: kegagalan mengambil informasi, memori-memori yang ada saling mengganggu, kegagalan untuk menyimpan informasi, dan termotivasi untuk melupakan.

Untuk menguji ingatan kita tentang apa yang disampaikan Elizabeth Loftus di atas, yuk, kita bahas secara acak. Pertama, termotivasi untuk melupakan. Nah, ini bisa jadi karena kenangan yang begitu menyakitkan sehingga dia hanya ingin melupakan. Tapi, coba kita lihat realita. Terkadang, sesuau yang ingin kita lupakan, justru ia semakin melekat di pikiran kita. Why? Karena kita sering berpikir untuk ingin melupakannya. Yah, bagaimana bisa lupa jika dipikirkan terua? J

Kedua, lupa karena kegagalan mengambil informasi. Terkadang informasi-informasi hanya lalu lalang begitu saja di pikiran, sedangkan kita tidak mengikatnya dengan reseptor di otak. Ketiga, kegagalan menyimpan infomasi. Hm, kenapa ini bisa terjadi ya? Pernah tidak, ketika seseorang menitipkan sesuatu lalu kita melupakannya. Karena saat infomasi itu masuk, rupanya kita sedang terburu-buru hendak pergi mengejar waktu.

Ketiga, karena ada gangguan di otak, misanya stress, stroke, tumor, infeksi, dan lainnya. Padahal sudah kita ketahui bahwa otak adalah pusat memori. Bagaimana isinya bisa bagus dan terjaga, jika wadahnya rusak?

Keempat, adanya gangguan memori lain. Memori kita mungkin bisa aus seiring berjalannya waktu. Ketika mendapat materi di bangku kuliah, materi-materi lain ketika SMA terlupa. Ketika menyerap infomasi baru, infomasi lama dilupakan. Itu hal biasa, bukan?
 
Kelima, ingatkah kamu 4 poin yang disebutkan oleh Elizabeth Lotfus di atas? Sadarkah kamu, bahwa poin ‘ketiga’ yang pertama sebelum ini sebenarnya tidak termasuk factor yang disebut Elizabeth Lotfus? Tuh kan…

Nah, di sinilah titik pentingnya. Tulisan ini tidak akan membahas tentang faktor-faktor penyebab lupa. Tapi, sesuai judulnya, tentang ‘terlupa’ dan ‘dilupakan’. Berbeda? Jelas.

Ketika terkecoh dengan paragraf di atas, apakah kamu merasa ‘sengaja’ melupakan empat faktor yang disebutkan Elizabeth? Apakah kamu memang sengaja dan tidak berniat mengingatnya? Bisa jadi. Atau memang segalanya di luar kuasamu?

Di sini akan membahas tentang orang yang ‘terlupa’ dan ‘dilupakan’. Jika kamu merasa tidak sengaja melupakan sesuatu, berarti itu wajar juga jika dilakukan oleh oranglain terhadapmu. Karena sekali lagi, hakikat manusia itu adalah lupa. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Sesuatu yang dianggap penting sekalipun, materi ujian misanya, bisa terlupa begitu saja ketika kita sedang mengerjakan ujian. Apakah itu sengaja? Tidak, kan? Sekaipun kita menganggap ujian sangat penting. Pun halnya, ketika kita berada di posisi sebagai orang yang ‘terlupa’ atau ‘dilupakan’, ayolah, jangan berkecil hati. Bisa jadi, bukan karena kesengajaan. Karena seperti yang telah dibahas di atas, sesuatu yang ingin kita lupakan justru malah sulit dilupakan karena kita secara tidak sadar memikirkannya terus. Jadi, dari sini, berani diambil kesimpulan bahwa tidak akan ada kata ‘dilupakan’. Jika bicara kata ‘dilupakan’, maka itu condong pada ‘sengaja’. Padahal, belum tentu.

Nah, selesai. Sekarang giliran bahasan kita tentang ‘terlupa’. Tidak perlu panjang lebar, sudah terbahas bahwa hakikat manusia memang lupa. Suatu masa, ada saatnya kita riwuh dengan banyak urusan dan urusan lain terlupa. Belum tentu ‘urusan lain terlupa’ itu adalah sesuatu yang tidak penting. Karena ia bisa datang lagi kapan saja, ketika urusan-urusan lain yang riwuh itu sudah selesai. Cobalah kita berkaca pada diri sendiri. Ketika hari itu lupa makan karena rentetan urusan tidak berhenti sepanjang hari. Tapi ketika semua urusan telah selesai, di malam hari atau keesokannya, pasti kau akan ingat bahwa kau belum makan. Lalu, apakah urusan makan itu tidak penting?

Jika lupa itu terkadang tidak bisa dikendalikan, tapi urusan hati dan rasa selalu bisa diolah. Kau sedih, karena kau memilih untuk sedih. Tapi ketika kita memilih untuk berpikir positif ketika seseorang lupa dengan urusan kita, tidak akan ada rasa sedih, kecewa, atau kesal.

Urusan hati, ada pada kita. Urusan lupa, itu masalah orang lain. Bukankah mengatur diri sendiri lebih mudah daripada mengatur masalah oranglain? (AL)


#Sekaligus permohonan maaf dariku, jika ada yang merasa ‘terlupa' :))