Label

Selasa, 14 April 2015

Mastatho'tum

Jazakillaah...
Tapi makna mastatho'tum (semampuku) : Jangan pernah berhenti jika bukan Allah yang menghentikanku!
^^

Kamis, 09 April 2015

Non-Fiksi untuk Pak Jokowi




Rasanya semua untaian kata di sini, sebenarnya sudah lama menggunung dalam pikiran. Baiklah, ijinkan saya menulis cerita nonfiksi, melepas semua atribut media, dan ini hanyalah secuil ungkapan hati salah satu gadis Solo. Ijinkan saya menatanya dengan kalimat santun, untuk mengobati media yang mungkin menyakiti Bapak – itupun jika Bapak membaca semua pemberitaan.

Inilah ungkapan hati gadis kecil yang dulu masih polos. Semua rasanya berlalu begitu cepat. Pernahkah melihat gadis kecil itu matanya berbinar, diikuti seruan teman-teman seusianya. Ketika Bapak pernah datang ke masjid kami di bulan Ramadhan. Hingga masjid yang sudah sepi jamaah karena ramadhan sudah terlalu lama, mendadak malam itu jamaah membludak. Demi mengharap pertemuan dengan bapak. Ah, wajah-wajah polo situ, bangga saja menerima uang dan alat tulis. Yaa, sungguh polos dan sewajarnya seusia mereka begitu hormat karena hadiah dari bapak. Tapi, semoga bapak memang ikhlas memberi ketika itu.

Dan beberapa bulan kemudian, ketika bapak sudah ‘jadi’ seperti apa yang Bapak inginkan, semua rakyat Solo mengelu-elukan nama Bapak. Termasuk, ketika hari itu, Bapak dengan beberapa kawanan pejabat yang bersepeda, menerobos ‘blusukan’ ke daerah, dan sebuah SD. Sayangnya gadis kecil itu sudah memiliki gengsi untuk sekedar bersalaman dan meminta tanda tangan. Hari sabtu itu, semua piranti masyarakat berbenah dan menghias jalan yang hendak dilalui Bapak. Ah, sungguh spesialnya orang nomor satu di Solo itu. namun gadis itu, sekali-kali hanya melirik dan sibuk dengan urusannya sendiri, bermain kuas cat dan mengoleskannya di tembok. Beberapa teman bertanya, “ Kok kamu nggak minta tanda tangan?”. Dia menjawab, “ Kenapa harus minta tanda tangan?” Ah, ‘congkak’ dan ‘gengsi’ memang dia. Tapi, sekilas dalam hatinya mulai segan, melihat pejabat itu mau bersalaman dengan teman-temannya yang kotor, berdebu setelah kerja bakti sekolah, kumal, dan penampilan tak jelas. Ah Pak Jokowi, wajah yang bersinar dengan kostum putih. Mungkin gadis kelas 4 SD itu hendak mengungkapkan ‘kerakyatan’, tapi dalam pikirannya hanya sampai pada ‘walikota yang baik’.

Beberapa tahun beranjak. Sikap pak Jokowi sungguh spesial di hati kami, orang Solo. Gadis itu mulai paham dan bangga memiliki pemimpin seperti pak Jokowi. Ketika dia mendengar langsung, bahwa pak Jokowi memberikan bantuan bagi orangtua manapun yang datang ke kantornya karena anaknya terancam tidak sekolah. Lantas pak Jokowi menjanjikan dengan real akan membiayai. Ah, itu sungguh perbuatan mulia.

Beberapa tahun berlalu lagi. Beberapa kejadian tak sempat diingat. Namun kota Solo berubah banyak. Dari tata letak wilayah kota, go green di beberapa sisi jalan, dan event-event menarik dengan budaya khas Solo. Ketika itu, gadis kecil sudah beranjak remaja. Beberapa kali pula menjumpai pak Jokowi dalam event itu.

Hingga sebuah tragedi yang tak terlupakan dan sempat mencekam wilayah Solo tempatku tinggal, bentrok antar agama, karena terbunuhnya dua muslim oleh Iwan Walet. Ah, sungguh pemimpin yang ‘ngayomi’ bagi kami. Ketika akhirnya beliau terjun dan berkata, “ Kalian maunya bagaimana?” Ah, kata itu sederhana sekali. Tak terelakkan lagi, gadis itu sungguh kagum. Ya, amat kagum dengan sikap ‘santai’ Bapak.

Beberapa tahun lagi. Tentu saja orang sebaik Bapak, tidak akan berhenti sampai di sini. Kami sungguh bangga mendengar Pak Jokowi dinobatkan sebagai Walikota terbaik. Tentu saja, semua yang Bapak lakukan, sungguh bukan main-main. Namun seiring penghargaan ini, rupanya ada tugas yang lebih mulia di Jakarta. Meski terpilihnya Bapak menjadi Gubernur, berarti kami orang Solo telah kehilangan, namun rasa bangga kami menyertai kepergian Bapak. Ya, Bapak sudah teramat baik dan sempurna membenahi Solo, mungkin lebih adil jika saudara kami di Jakarta juga terbenahi oleh Bapak. Andai Bapak ingat, betapa besar harapan kami untuk Bapak kala itu. Harapan bahwa Pak Jokowi bisa membenahi Jakarta. Harapan ini, bukan semata dilepaskan orang Solo atas kepergian, tapi juga disematkan orang-orang Jakarta atas kedatangan Bapak.

Waktu berlalu lagi. Gadis itu sungguh bukan anak kecil lagi. Sedikit banyak ia tahu. Karena sesuatu yang dia tahu itulah, harapannya membalik menjadi kecewa. Ketika mendengar bahwa Pak Jokowi mencalonkan Presiden. Ah, memang seharusnya kami orang Solo turut bangga, Pak Jokowi, mantan walikota kami, mencalonkan presiden. Akan lebih membuncahkan bangga kami jika Bapak berhasil memimpin Indonesia. Mungkin diantara ribuan penduduk Solo, dia termasuk dari segelintir orang yang mengaku kecewa atas keputusan ini. Ya, kecewa dan berharap yang terbaik agar Bapak menjadi presiden di lain kesempatan saja – insyaAllah masih ada waktu kok Pak. Maafkan gadis itu, Pak. Ia telah meninggalkan Solo sejak kuliah, dan justru bergabung dengan kebanyakan mahasiswa lain yang jelas menolak Bapak. Bukan bermaksud ia durhaka, sungguh bukan. Ini bukan tentang pak Jokowi. Bapak adalah walikota terbaik yang pernah dikenal gadis itu, dan semua orang tahu. Tapi, jika politik ini hanyalah urusan ‘kepentingan’, semua orang pun juga tahu Bapak tidak akan menjadi diri sendiri. Sudah banyak yang menduga sejak awal, bahwa ada pemimpin di atas kepemimpinan Bapak.

Gadis itu juga beberapa kali mendengar, bahwa uang tersebar dimana-mana. Ah, ia jadi teringat ketika masih SD, dengan polosnya menerima label ‘fitrah lebaran’ dari Bapak. Wajar, karena gadis itu masih kecil dan belum mafhum. Tapi, apakah kepolosan dan keluguan tentang semacam ini juga bisa terjadi pada orang-orang dewasa, tukang becak, tukang parkir, buruh, hingga masih berbinar menerima selebaran untuk dijajakan itu?

Ah, sudahlah, itu hanyalah masa lalu yang terlalu naïf untuk dibahas. Gadis itu, dan ribuan mahasiswa lain tetap mendukung kerja pak Jokowi setelah terpilih. Bagi mereka, Bapak tetaplah orang baik yang memimpin negeri ini. Mereka para mahasiswa itu, dengan bangga mengawal orang nomor satu di negeri ini. Sebab bagi mereka, pemimpin tetap harus dihormati dan dipatuhi selama tidak menyimpangkan negeri.

Beberapa bulan berlalu. Ah, gadis itu terlalu menangkap banyak perubahan di Indonesia. Karena media begitu ramai memberitakan. Tentu saja, orang nomor satu, sayang sekali jika tidak disorot. Sayangnya lagi-lagi, media hanya urusan ‘kepentingan’. Bapak tidak perlu peduli pada siapa gadis itu percaya, tentang semua pemberitaan miring, bahkan dibahas sejak semua kejadian serong di Solo. Tapi Bapak harus peduli, bahwa ia sedih ketika harapan yang dipaksa bangkit sejak terpilihnya Bapak, bersama ribuan mahasiswa lain, rupanya seperti kesalahan yang disengaja oleh mereka. Coba tilik, jutaan rakyat kecil memilih Bapak, tapi justru mereka yang paling dibuat kecewa.

Ah, gadis itu hanya ingin berprasangka baik. Bahwa mengurus Indonesia memang tak sesimpel mengurus Solo yang hanya kota kecil. Bagaimanapun, Bapak tetap keluarga kami di Solo, tolong tetap amalkan nilai-nilai luhur selama puluhan tahun dewasa di Solo, Pak. Bagaimanapun juga, Bapak tetap tercatat sebagai alumni, tolong amalkan setiap pendidikan kerakyatan yang pernah universitas itu ajarkan. Sudah lama tidak melihat wajah Bapak, apakah semakin sendu dan bertambah keriput karena memikirkan negeri? Ataukah bapak bertambah kurus karena tak sempat makan, demi kami? Atau senyum Bapak pada mereka, sebenarnya menuai dilema yang mungguk di pikiran?

Penduduk Solo sudah mengharapkan Bapak kembali ke Solo. Namun saran gadis itu, semalu apapun dirinya, tetap jadilah diri sendiri Pak. Iya, gadis itu, bersama penduduk Solo lain, merasa malu. Atau bahkan, orang-orang yang pernah memilih Bapak, kini hanya terbungkam. Orang yang pernah dielu-elukan, dibuka semua kebaikannya, ditutupi aibnya ketika masa kampanye, rupanya tetaplah manusia yang bisa berevolusi kapan saja. Atau bahkan sebenarnya ia tidak berevolusi, melainkan seperti siput yang sudah terbuka cangkang indahnya. Yang terlihat hanya siput yang lembek dan menjijikkan bagi kebanyakan orang. Tenang Pak, gadis itu sedang tidak memikirkan itu.

Jika politik Bapak adalah urusan kepentingan, maka, dimana Bapak menaruh rakyat dalam kepentingan itu? Tetaplah menjadi pak Jokowi seutuhnya. Karena kami yang mengenal Bapak, bagi kami dalah orang yang ‘legowo’, sederhana, dan merakyat. AL