Label

Sabtu, 31 Januari 2015

Hikmah Pohon Bambu Cina

 

Kamu tahu pohon bambu Cina? Yang biasa jadi makanannya Panda. Ups, salah fokus, kita tidak akan membahas tentang hewan panda.
Jika kamu termasuk orang yang tidak sabar menunggu pertumbuhan tanaman, mungkin pohon bambu Cina sudah menjadi korbanmu. Tahukah kau? Pohon bambu Cina tidak akan menujukkan pertumbuhan yang berarti selama 6-7 tahun pertama, mungkin hanya beberapa centimeter saja. Tapi,setelah waktu tersebut, ia tumbuh sangat cepat dan ukuran pertumbuhannya bukan lagi centimeter melainkan meter.
Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan pohon bambu itu? Jadi begini. Selama 6-7 tahun pertama, ia bukanya tidak mengalami pertumbuhan, hanya saja kita tidak melihat pertumbuhannya secara kasat mata. Fokus pertumbuhan bambu Cina di waktu tersebut adalah pada akarnya, bukan batang. Pohon babu cina sedang menyiapkan pondasi yang kuat agar ia bisa menopang ketinggiannya yang berpuluh-puluh meter. Bayangkan jika pohon bambu Cina tidak mempunyai akar yang cukup kuat untuk menopang ketinggiannya. Sedikit tiupan angin saja akan membuatnya tumbang. Nah, dari sinilah kita bisa mengambil hikmah.
Jika kau (ataupun aku) seringkali mengalami kegagalan dan merasa jauh sekali dari kesuksesan yang kamu impikan,bukan berarti kita tidak memiliki perkembangan, justru bukan tidak  mungkin kita sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa di dalam diri. Mental kita sedang ditempa dan dipersiapkan menuju kesuksesan. Sama halnya dengan pohon bambu Cina itu.
Jika kita hanya mengharapkan hasil yang instan, apapun itu, nasib kita hanya seperti pohon bambu Cinya yang tidak memiliki akar kuat. Sedikit goncangan saja, kita mudah jatuh. Jadi, tetap bersyukurlah dengan segala kesulitan yang kita hadapi, karena kita akan meperoleh kekuatan darinya. Ingat, usaha apapun itu meskipun gagal, tidak akan pernah sia-sia. Allah sedang mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kegagalan itu. Tetap semangat berproses ya, jangan mengeluh! ^^

#share from WhatsApp
 

Sabtu, 17 Januari 2015

" Mbak, Kasihan Jilbabnya!"




Jilbab bukan sekadar pelaksanaan kewajiban agama untuk  menutup aurat bagi kaum hawa. Rupanya dia membawa identitas bahwa kita seorang muslimah. Mungkin bisa dikatakan alhamdulillah jaman sekarang hampir seluruh muslimah Indonesia berjilbab, tidak ada lagi kebijakan larangan berjilbab seperti beberapa tahun sebelumnya. Namun mungkin bisa juga dikatakan bahwa identitas yang sebenarnya tentang seorang muslimah, hancur karena dengan jilbab itu tidak lantas menghijabi hati dan akhlak. Termasuk saya yang menulis ini, tak jarang pula masih belum menghijabi akhlak. Semoga Allah senantiasa menuntun dan merahmati kita.

Ini adalah kisah nyata. Tanpa pernah sedikitpun ada niat mencemarkan nama baik sesama saudara. Mereka orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Kejadian ini satu bulan yang lalu, dan saya baru berani menuliskan. Semoga setiap kalimat di sini diridhoi Allah.

Sejujurnya lupa tanggal berapa tepatnya. Saya dan teman asrama, Ime (nama samaran), mengendarai motor menuju UGM, hendak menghadiri Forum FLP Fiksi. Tepat pukul 9, seharusnya acara sudah dimulai, tapi kami masih terjebak macet Sunmor. Akhirnya kami memutuskan parkir di Fakultas Biologi dan berjalan menuju Balairung Utara UGM. Mungkin bagi mahasiswa UGM bisa menangkap deskripsi singkat tentang beberapa daerah di UGM.

Dari Biologi, kami melintangi jalan Kaliurang, jalan yang menghubungkannya dengan Balairung Utara. Di sana ada gerbang merah, yang biasanya di pinggirnya dibuka untuk pejalan kaki. Rupanya belum dibuka. Sementara di depan kami, juga ada dua orang akhwat – jilbab merah dan krem lebar- yang hendak masuk ke Balairung. Salah satu dari mereka aku merasa tidak asing wajahnya, barangkali pernah bertemu di kegiatan bareng tingkat universitas.

Di pinggir pagar itu ada tembok batu kira-kira setinggi dada. Mungkin dengan memanjat tembok itu dan meloncat ke pagar, lebih simpel daripada harus berjalan jauh menelusuri jalan Kaliurang sampai pagar merah di depan GSP. Pertimbangan lain kami sudah terlambat, sangat disayangkan ketinggalan beberapa kalimat dari penulis kece novel The Lost Java, mas Kun Geia.

Salah satu dari akhwat itu sudah memanjat, kemudian merosot, dia sudah masuk ke Balairung. Akhwat berjilbab krem, berusaha naik, dibantu temannya. Dan temanku, Ime, sudah bersiap hendak mengikuti.

Mudah saja hanya naik ke tembok itu lalu merosot di samping pagar, aku hanya perlu berjalan beberapa langkah lagi menghadiri acara. Tapi…, ini bukan sekadar tentang simpel dan dekatnya perjalanan kami. Bukan tentang mudah atau tidaknya memanjat tembok. Ini pun bukan tentang kenal atau tidak orang-orang di jalan raya, yang akan melihatku memanjat. Tapi…

Allah selalu punya cara untuk menegur dan mengingatkan. Ketika tiba-tiba aku mendengar suara, “ Mbak, kasihan jilbabnya!” Aku menoleh, dari seorang bapak dengan baju koko putih, berambut dan berjenggot putih di dalam mobil. Di sampingnya ada laki-laki berhem biru, sopir yang fokus pada spion karena mobil hendak putar balik. 


“ Ime, kata bapak itu, kasihan jilbabnya!” seruku pada Ime.
“ Bapak yang mana?”
“ Yang tadi naik mobil. Sekarang udah pergi,” kataku, mencari mobil yang beberapa detik lalu masih di pinggir jalan.

Sreek! Kami berdua menoleh. Ups, rok akhwat berjilbab krem itu kecantol ujung pagar yang runcing, dan sobek membelah garis lurus sampai paha, untungnya dobelan celana panjang. Aku langsung menarik tangan Ime, “ Ayo, kita jalan aja!”

Sekilas cerita itu, hingga kami sudah berkeringat berjalan 15 menit menelusuri jalan Kaliurang, kemudian masuk gerbang merah yang dibuka, dan menelusuri wilayah dalam UGM – GSP, Perpustakaan, Rektorat, sampai tiba Balairung Utara. Dan pertolongan Allah masih berlanjut, rupanya acara baru saja dibuka ketika kami sampai di sana.

Maha suci Allah, yang selalu menjawab setiap keraguan, menegur baik sebelum atau setelah kita berbuat salah. Dan semoga kita bisa mengambil ibroh tanpa perlu saya jelaskan dengan kata-kata. Singkatnya, jilbab adalah identitas sebagai muslimah, identitas orang islam. Dimanapun kita berada, selama jilbab itu masih melekat, siapapun yang memandang, identitas itu tidak pernah berubah. Wallahu a’lam.(AL)