Label

Kamis, 25 Desember 2014

Mengabadikan Ilmu Lewat Tulisan




Ilmu itu seperti binatang buruan. Maka ikatlah ia dengan tulisan. (Imam Syafi’i)
Kalimat itu barangkali sudah bukan frekuensi baru yang didengar telinga. Kenapa Imam Syafi’i berani mensimilekan ilmu seperti binatang buruan? Dimulai proses pencarian dan usaha mengejar yang tentu tidak mudah. Karena ilmu hanya bisa didapat dengan berjuang dan kerja keras. Seperti kata Ustad Salim A. Fillah dalam bukunya Lapis-Lapis Keberkahan, bahwa langit tidak akan menghujani ilmu pada seseorang yang hanya duduk diam di dalam rumah. Kendatipun hujan yang tidak akan membasahi seseorang di dalam rumah.
Ilmu mungkin bisa didapat darimana saja. Selintas melihat benda terbang, mendengar bunyi tertentu, menyentuh tekstur permukaan, hanya selintas. Tidak sengaja melintas. Seperti udara yang masuk telinga kanan dan tembus telinga kiri. Sedangkal itukah definisi ilmu? Mari telisik terminologinya menurut KBBI, bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.
Untuk mencapai hakikat ilmu yang sebenarnya, proses menyerapnya pun memerlukan adab. Para ulama sendiri menjelaskan bahwa sebelum belajar ilmu, maka diwajibkan belajar adab. Tapi sayangnya, dalam tulisan ini terlalu singkat jika harus membahas adab.
Poin utama yang dipelopori dalam adab berilmu adalah urusan niat. Dalam kitab para ulama seringkali bab pertama membahas tentang niat. Kenapa? Disitulah titik poin pencapain ibadah dan amalan. Pertanyaan mendasar, setelah memperoleh ilmu dan menuliskannnya, niat apa yang membuat kita konsisten?
Masing-masing diri yang suka menulis dan bermimpi menjadi penulis, tanyakan di lubuk hati terdalam. Ketika dikatakan tentang ‘penulis’, kata apa yang terlintas di pikiran kita? Keren? Jangan-jangan kita menulis hanya karena ingin disebut keren. Uang? Jangan-jangan kita menulis dan membuat buku hanya karena mengharap royalti. Like dan comment? Jangan-jangan kita yang sering menulis status di media sosial karena ingin mendapat banyak like dan comment. Mari ditafakuri lebih ikhlas tentang mencari ilmu dan menuliskannya.
Sejenak menyimak secuil kisah ulama Imam Malik. Hari itu luasnya ilmu beliau dituliskan dalam kitab Al-Mutawatho’. Hingga seseorang yang gila ketenaran menjiplak karya beliau, dan mengaku atas nama dirinya. Apakah Imam Malik menuntut? Apakah bergeolak emosinya, karena kerja kerasnya diakui orang lain? Jika jawaban iya, jelas itu bukan seorang Imam Malik. Beliau sama sekali tidak khawatir, selama ilmu yang ia sampaikan memang akan disampaikan pada orang lain. Tujuannya hanya pada urusan umat, bukan urusan nama beliau. Karena pada akhirnya semua orang lebih percaya pada nama Imam Malik, disebabkan gaya kepenulisan yang sudah khas dan dikenal orang lain.
 Niat mungkin bisa melenceng di awal. Tapi Allah tidak menutup kesempatan untuk memperbaiki niat.
Untuk bisa menuliskan ilmu supaya lebih tersampaikan, Ustad Dwi Budiyanto menjelaskan beberapa tahapan singkat penulisan:
1.      Prewriting
Disinilah segala bentuk ide, tema, dan pencarian bahan dimulai. Observasi yang terpikirkan dikembangkan dengan pencarian data yang mendukung dan pengembangan kalimat.
2.      Drafting
Pernahkah kita menulis beberapa baris kalimatatau paragraph, setelah itu semuanya berhenti tiba-tiba? Mengalami kebuntuan pengembangan ide? Mendadak lupa poin yang hendak disampaikan? Seringkali pening bagi kita untuk menuliskan poin-poin atau garis besar topik yang hendak dicantumkan dalam tulisan. Setelah itu, menulislah seperti air mengalir apa adanya. Sebab di sanalah ukuran natural sebuah ide. Tuliskan apapun. Jangan pedulikan EYD, susunan kalimat, bahkan titik koma. Mengalirlah apa adanya. Tahap kedua inilah titik kebebasan mengungkapkan ide.
3.      Revising
Pada tahap ini adalah cek kembali poin-poin atau ide yang belum tersampaikan. Masih adakah yang perlu ditambah atau dikurangi.
4.      Editing
Inilah tahap akhir sebelum disahkan bahwa tulisan siap dikonsumsi. Yakni kemasan pada kebahasaan, susunan kalimat, susunan paragraf, dan pengelompokan sesuai subtopik.

Keahlian menyusun kalimat beserta pengembangannya bukan hanya faktor kebiasaan menulis. Tradisi ini tidak pernah terlepas dari minat membaca seseorang. Seperti kata Ustad Budiyanto lagi bahwa tradisi membaca akan memperkuat tradisi menulis. Jadi, ketika merasa tertarik untuk menulis namun tidak suka membaca, sama saja bohong. Sama halnya membaca tidak dituliskan sama seperti bernafas tanpa output karbondioksida.

Maka mulai dari sekarang, tulislah meski hanya satu kata ilmu yang kita dapat. Dengan niat berbagi ilmu, kemampuan menulis akan semakin berkah. Karena dengan menulis, kita mengajarkan. Tetap berpondasi pada satu firman, sampaikan walau satu ayat. (AL)


#Tugas Forum 1 FLP Yogyakarta








Mari Berbicara Tentang Toleransi



Ilustrasi oleh Kurnia Istiqomah

Topik ini belum sampai tahap penyelesaian, belum juga berganti bab.  Bahkan seperti rekaman yang diputar berulang kali di bulan Desember tanpa adanya konklusi.  Sebab pemahaman yang berbeda atas dalil-dalil yang ada akan membawa pada sikap yang beraneka rupa. Tak Jauh berbeda dengan Desember tahun sebelumnya,  adakah toleransi dalam memberikan ucapan Natal?

Sangatlah perlu kita menyamakan persepsi mengenai toleransi itu sendiri. Apabila kita mengutip KBBI, maka akan kita temukan bahwa toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya. 

Toleransi memang ‘kebolehan’. Tidak ada yang bisa menjamin ada atau tidaknya pahala dan dosa pada hukum mubah (boleh), ditambah lagi adanya perbedaan pendapat oleh orang-orang berilmu yang insya Allah untuk menemukan kebenaran itu membutuhkan pemahaman dan kerja keras.

 Seperti Ust. Yusuf Qardawy, Dewan Fatwa Ulama Eropa, yang mengeluarkan fatwa bolehnya mengucapkan ‘Selamat Natal’. Namun fatwa ini berlaku di Eropa yang jelas berbeda kondisi dengan Indonesia. Beliau mendasari hukum “jika…., maka.” Sebab di Eropa, percaya Tuhan atau tidak, percaya Natal atau tidak, ucapan itu hanya sebagai kultur biasa.

Sementara di Indonesia, sepertinya ada atau tidaknya ucapan Natal tidak lantas merusak keutuhan bangsa. Sebab toleransi dalam urusan apapun, pada konteks ini urusan agama, selalu ada sekat pada halal dan haram. Masing-masing agama sudah pasti mengajarkan umatnya untuk bertoleransi dengan umat lain, disebabkan heterogenitas elemen di Indonesia.

Banyak sekali kalimat tanya, “Memangnya kenapa dengan kalimat ‘Selamat Natal’? Bukankah itu hanya kalimat saja, kan bukan berarti ikut percaya agamanya”. Sekarang, mari lihat cerminan pertanyaan itu. Karena masalah aqidah membutuhkan pemaparan yang panjang lebar. “Memangnya kenapa kalau tidak mengucapkan? Apakah segala ikatan akan rusak hanya karena urusan kalimat?” Jika ada fatwa bahwa halalnya ucapan itu demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, (ehm), memangnya harga kemerdekaan bisa ditukar dengan kalimat ‘Selamat Natal’?

Dalam akun twitter, Ustad Yusuf Mansur membuat simile kasus ini seperti kisah kambing dan sapi. Keduanya nyaman ada di rumput yang sama, makanan yang sejenis, tanpa perlu berebut. Toleransi yang sederhana tanpa diputar-putar maknanya. Bayangkan jika toleransi mereka berupa penyamaan suara, sapi berkata, “Mbeeeek!”. Perlu diragukan. Itu sungguhan kambing, atau sapi jadi-jadian? 

Cukup berkata, “Maaf, agama saya melarang ini.” Selesai, titik. Atau lebih molek hanya mengucap kalimat yang netral, seperti “ Selamat liburan! Have a good time!” Jika toleransi keduanya memang benar adanya, antar pihak tidak akan mempermasalahkan dalil agama.

Perlu pembedaan jelas antara tradisi agama masing-masing. Sebab kita tidak pernah tahu, bagaimana esensi ucapan itu pada umat yang merayakan Natal. Jika ucapan itu dianggap bahwa kita ikut merayakannya, nah, ini masalahnya. Jelas urusan agama dan perayaan memiliki sekat yang membedakan.

Seperti kambing dan sapi, banyak jalan untuk hidup bertoleransi dalam agama. Hidup saling bersisian, peduli, penuh kasih sayang, saling menolong, tidak mengusik ketika umat lain beribadah, justru itulah toleransi yang lebih real dari sekadar ucapan. Selama tidak mendatangkan kerugian (mudharat) yang lebih besar, menjauhi sesuatu yang meragukan jauh akan menghasilkan buah yang lebih ranum. Wallahu a’lam bis showab. (AL)


#





Senin, 22 Desember 2014

Ngantuk di Kelas

Gb. Ilustrasi Kelas Asma

Mataku samar-samar memandang ustadz yang sedang mengisi materi malam ini. Hari ini jadwal kuliah dan amanah padat dari jam 7 pagi hingga hampir isya. Belum ada waktu untuk mandi, sekadar mencuci wajah dan makan sebentar, belajar sesuatu yang lain dimulai pukul 8 malam. Kelas dimulai dengan tanda bel tiga kali. Terlambat datang ke kelas, ada iqob. Bermacam-macam, mungkin membuang tong sampah ke luar, merapikan sandal, merapikan tempat cuci dan jemuran, selalu ada pekerjaan. Selalu ada tuntutan pula bagi masing-masing tentang kesadaran diri sendiri, sebelum iqab itu dinggap hutang dan diminta di akherat.

Beberapa detik aku sadar, lalu terbuai lagi dengan kantukku. Suara ustadz pun hanya samar-samar sesekali turun naik frekuensinya. Tak terbayang bagaimana pula naik-turunnya tulisanku di buku catatan. Membosankan, terlebih pelajaran sejarah peradaban islam. Uft, aku selalu tidak suka sejarah.
Aku mencubit punggung tanganku sendiri, merintih perlahan, sakit. Saat itu pula mataku melek, menahan sakit. Entahlah, hingga saat ini pun aku belum menemukan cara ampuh mengusir kantuk ketika kelas. Minum kopi, yang ada lambungku tidak kuat. Ngemut permen, sama sekali tidak berefek. Sebenarnya aku selalu siap cemilan pedas, tapi di kelas tidak boleh makan. Padahal pemandu asrama berkali-kali mengingatkan, bahwa kita harus meniatkan sungguh-sungguh untuk belajar dan tidak mengantuk. Setali tiga uang, motivasi itu masih kalah dengan godaan setan yang menutup mata kami supaya terpejam. Seringkali aku merasa ‘pekewuh’ dengan ustadz yang mengisi materi. Apalagi hijab antara santri dan ustadz memang sengaja dibuat rendah, kira-kira setinggi pinggul. Jadi kami bisa saling bertatap muka. Ketahuan deh, kalo santri ngantuk.

“ Srott!”

Di ambang kesadaran, aku menyempatkan menoleh pada teman yang duduk di sebelahku. Mataku terbelalak melihat aksi kedua temanku. Salah seorang membuka mata lebar, seorang lagi memfokuskan semprotan burung di depan matanya. Srott! Semprotan itu tepat mengenai sepasang mata.

“ Eh, kalian ngapain?” tanyaku sambil berbisik, heran.

“ Biar nggak ngantuk,” jawab Feti, wajahnya basah oleh air di dalam semprotan itu.

“ Itu isinya apa? Pelicin setrika?” tanyaku.

“ Ya nggak mungkinlah, ini air biasa.”

Tawaku menyembur, saking tak kuatnya menahan. Beberapa santri menoleh. Awas dengan keadaan sekitar dan sekilas menangkap kalimat ceramah ustad. Astaghfirullah, ustad sedang menyampaikan kisah penyiksaan para sahabat di awal kedatangan wahyu Rasul. (AL)