Label

Jumat, 21 November 2014

Ukiran Gigi


Apakah mahasiswa Kedokteran Gigi hanya belajar seputar 32 gigi manusia dewasa? Yaelah, kalau begitu harusnya sks kita hanya berjumlah 32 dong. Kenyataannya?
Banyak yang bilang, KG itu perpaduan antara kedokteran dan teknik. Ehm, iya sih, alat-alat anak KG kan berhubungan dengan Teknik juga. Tapi, tambahan lagi selain tentang kedokteran dan teknik, kami juga menyentuh seni. Yah, dunia KG kan utamanya tentang estetika. Membengkokkan kawat itu termasuk seni. Dan praktikum ini nih yang paling berseni, Dental Anatomi.

Lima jam di lab setiap hari jumat, pekerjaan kami mengukir malam sesuai anatomi gigi. Salah satu pembelajaran efektif dan santai yang pernah kutemui.

Bunga-Bunga!!




Akhir-akhir ini, rasanya kembali seperti dulu. Ketika salah seorang sahabat sering mengajakku ke daerah itu, tempat jajaran tanaman dan bunga, di salah satu sudut kota Yogyakarta. Ketertarikan itu muncul lagi. 

Mimpi masa kecil yang sempat terlupa, punya perkebunan dan rumah kaca dengan variasi bunga hasil persilangan. Tapi untuk sekarang, rasanya kasihan jika harus melihatnya layu di depan kamarku. Lantaran aku sendiri masih belajar membagi waktu.

Tapi…, melihat senyum orang-orang itu, rasanya tidak salah menjadi aku yang dulu. Suka memborong bunga. Memperhatikan penjual merangkai bunga yang kupesan. Tapi kali ini tidak untuk diriku. Untuk senyum bahagia dan terharu mereka. Seringkali aku berpikir, “ Kenapa ya, orang suka diberi bunga?”


Senyum, Alya!



Dengan semua masalah, beban pikiran, amanah yang tak kunjung usai, semakin membuat hari-hariku berantakan. Barangkali itu ekspresi terburuk dariku. Hampir tidak ada lagi senyum. Sapa yang kadang tak ikhlas. Uluran tangan yang terasa berat. Astaghfirullaah… Hanya bisa berdoa Allah membuatku mampu melalui ini.

Hingga di puncak keterpurukan, sesampai di dalam kamar, selembar amplop biru teronggok di atas meja buku. Untukku. Dan spontan membuatku menyesal. Satu hal kecil yang kadang dianggap remeh, tapi sebenarnya itu mungkin berarti untuk orang lain. 



Mungkin inilah ukhuwah yang disatukan oleh iman. Meski aku menjauh, beban ini akan tetap sampai pada dia yang peduli. Meski aku mendadak bungkam – tak seceriwis biasanya – dia akan tetap bisa mendengar. Untuk Saudariku, Ukhti, jazakillaah…

Minggu, 16 November 2014

Diamku-Diammu




Diam, bukan berarti tanpa kata-kata. Seperti diamnya angin, bukan berarti tak ada udara di sini. Atau sunyinya malam, bukan berarti taka da kehidupan. Bahkan tumbuhan yang kau anggap, sejatinya tidak sungguh diam tanpa pertumbuhan.
       Diam yang bagaimana? Setidaknya ada tiga macam diam, berkaitan dengan jasad/tubuh (psikomotor), hati (afektif), dan pikiran (kognitif). Ketiga, diamnya pikiran. Ini terjadi ketika seseorang merasa gundah dan galau hatinya. Hanya didominasi perasaan, tanpa logika tentang hal yang membuatnya begitu. Pikirannya terdiam untuk berpikir secara logis, namun hatinya begitu ribut dengan perasaan. Terkadang itu bisa terasosiasi dengan motorik, secara sadar atau tidak melampiaskan melalui kata-kata. Kata-kata yang bahkan pikirannya tidak menyadari tentang itu.

         Kedua, diamnya hati. Seseorang yang barangkali jarang berkutik tentang hati. Melakukan segala sesuatu hanya berdasarkan pikiran dan logika otak. Lantas merealisasikannya dengan aktivitas motorik. Orang seperti ini hatinya tidak pernah bicara, entah tentang kebenaran atau keburukan. Hatinya sudah terlalu lelah meraung-raung padanya, semesntara dia tidak pernah mendengar kata hati.
Pertama, diamnya jasad. Seperti aku padamu, dan kau padaku. Bibir mungkin tak merangkai kata melalui suara dengan frekuensi yang bisa kau dengar. Tubuh juga tak lantas memberi sinyal hijau padamu. Tangan tak saling memberi pertolongan kecil. Hingga langkah kaki tak pernah bergerak saling mendekat. Mata juga terus diam menunduk malu-malu. Seperti diamku padamu, dan diammu padaku selama ini.
Tapi, bukan berarti hatiku diam untuk merangkai benang-benang harapan. Bukan berarti pula pikiranku diam tentang dirimu. Di hadapanmu, aku mungkin terbungkam. Di hadapanmu mungkin aku diam, tak mendekat. Atau bahkan mataku diam untuk tak melihatmu. Namun, ada sisi tak terlihat, yang tak pernah diam, membahas tentangmu. Sisi tak terlihat itu, terlalu malu menampakkan di depanmu. Sungguh bukan suatu keengganan untuk sekadar melihatmu. Andai kau tahu, betapa pikiran dan hati ini risau dan selalu ramai bertengkar. Antara perasaan yang meluluhkan, dan segala kesadaran pikiran yang menguatkan.
Sadar, bahwa aku haram unuk sekadar melihatmu. Sadar, bahwa diri ini bisa saja menganggu kesucian hatimu. Sadar, bahwa suara ini barangkali mengusik ibadahmu. Sisi tak terlihat itu, bagian dari diriku. Meskipun tak terlihat, aku berharap kau tetap menganggapku ada. Meski hanya sekadar pernah melihat seorang gadis di rumah itu. Meski hanya itu.
Lalu, bagaimana dengan dirimu? Bagaimana maksud diammu? Apakah diammu sama denganku? Ah, mungkin hatiku terlalu ramai berharap. Atau barangkali diammu adalah wajar, untuk orang yang tak kau kenal, dan merasa tak perlu mengenalnya. Aku sedih jika kalimat terakhir memang benar adanya. Dan ramainya pikiranku kembali berkata, ini rasional. Karena kita memang bukan siapa-siapa. Aku dan kamu, bukan saling siapa-siapa.

Surakarta, 19 Oktober 2014.

 
    

Jumat, 07 November 2014

Komitmen : Pondai Konsistensi




Dalam teori psikologi, begitu seseorang mengkomitmenkan diri pada seseorang atau sesuatu maka dia akan lebih bersedia memenuhi permintaan untuk melakukan perilaku yang konsisten dengan hal itu. Secara umum dirinya ingin berperilaku secara konsisten, sehingga begitu committed terhadap seseorang atau sesuatu itu,
Komitmen bukan sekadar janji, yang apabila janji terpenuhi, maka selesailah perilaku yang mewujudkan janji itu. Buah dari perjuangan sebuah komitmen selalu berkesinambungan. Ia menarik poin-poin alfabet lain untuk diperjuangkan, meskipun sebenarnya komitmennya hanya untuk salah satu huruf alfabet. Ibarat salah satu huruf A misalnya, maka ia seolah menarik kehadiran huruf B sampai Z.
Penarikan poin-poin lain selain spesifik pada apa yang diperjuangkan, adalah buah dari konsistensi. Sebab konsistensi merupakan panglima dalam proses pencapaian sebuah komitmen. Terkadang, keadaan tak selamanya memihak untuk mendukung komitmen, namun hanya konsistensi yang membuat kesadaran bahwa tujuan akhir komitmen bukan di ujung perjalanan, melainkan selama prosesnya itulah yang akan berkesinambungan secara sadar maupun tidak.
Sebagai contoh dalam pernikahan, sepasang suami istri saling mengikat komitmen untuk saling setia. Bertahun-tahun lamanya pernikahan mereka, sebenarnya keadaan tak selalu mendukung komitmen untuk kesetiaan mereka. Buah-buah dari komitmen itu bukan hanya setia, tapi bisa menarik sikap peduli, tolong-menolong, kertergantungan, bahkan jika salah seorang diantaranya telah meninggal, lantas tidak meluruhkan kesetiaan itu. Sebab proses yang bernama konsistensi itu yang terpenting.
Contoh lain, ketika seorang mahasiswa berkomitmen untuk lulus dengan predikat cumlaude. Ia konsisten dengan keputusannya untuk belajar tekun, rajin mengunjungi perpustakaan untuk belajar banyak dari buku lain, atau tak jarang pula berdiskusi dengan dosen di luar kelas. Namun, apabila akhir cerita cumlaude itu tidak dia peroleh, dia tetap mendapatkan buah-buah dari konsistensi itu. Buah-buah itu misalnya pengetahuan dari buku-buku yang banyak dibaca, relasi dengan para dosen, yang ternyata sangat berpengaruh pada karirnya. Atau jika ternyata dia memang berhasil mendapat predikat cumlaude, secara tidak sadar jiwa-jiwa ketekunan itu telah melekat dalam dirinya. Sebab ketekunan itu telah terbentuk secara konsisten.
Kuat atau tidaknya konsistensi seseorang dalam keputusan untuk berkomitmen atau bahkan perwujudan komitmen, diantaranya:
  1.    Kebutuhan
Manusia akan selalu memiliki kebutuhan. Namun masing-masing berbeda dalam menggolongkan apakah ia termasuk kebutuhan primer, sekunder, atau tersier. Semakin ia merasa butuh akan buah-buah komitmen itu, semakin kuat pula usaha untuk mewujudkan konsistensinya. Kebutuhan inilah yang menjadi alasan bagi dirinya. Semakin kuat ia memiliki alasan yang akan selalu terngiang, semakin kuat pula perwujudan komitmen. Sekalipun komitmen itu tertuju pada seseorang atau sesuatu yang lain, namun semua tetap akan kembali pada dirinya sendiri.
   2.    Pengetahuan dan pengalaman
Pengetahuan yang membuatnya tahu diri akan resiko dan tantangannya. Setidaknya seseorang yang memutuskan untuk berkomitmen umumnya pernah mengalami pengalaman ketika dirinya berperilaku tanpa komitmen. Atas dasar pengalaman itu terbersit keinginan kecil dalam hatinya sebagai bentuk penyesalan, kecewa, atau kehati-hatian, yang selanjutnya menyentil keputusan besar untuk berkonsisten dalam berkomitmen.
     3. Tingkat komitmen untuk mengubah diri
Semua perilaku sekalipun tertuju untuk orang lain atau sesuatu yang lain, tetap akan kembali pada diri sendiri. Ini masih berkesinambungan dengan poin 1, seberapa besar kebutuhan yang tercapai itu akan berpengaruh dalam hidupnya. Komitmen dengan usaha berdagang misalnya. Semakin ia menyadari bahwa hasil usaha itu sangat berpengaruh dalam hidupnya, atau hidupnya bergantung pada penghasilan itu, semakin kuat pula komitmennya. Segala usaha untuk membuat penghasilan konsisten atau bahkan penghasilan itu mengalami peningkatan setiap hari menjadi unsur yang mewakili komitmen itu.
   4.  Identifikasi diri dengan obyek
Identifikasi dan penyatuan obyek dalam diri akan mempengaruhi emosi yang melibatkan hati terdalam. Ketika sebuah konsistensi dilanggar, secara tidak sengaja ada keganjalan di hati, ada sesuatu yang kurang, ada sesuatu yang dianggap berdosa. Secara sederhana menyangkut seberapa kemampuan mengidentifikasi diri dengan obyek yang akan diperjuangan melalui komitmen itu. Semakin banyak hal teridentifikasi, semakin melekat pula dalam dirinya.
Ketika seseorang berkomitmen pada usia 24 tahun harus sudah bekerja misalnya, identifikasi obyek bisa dijabarkan dari perjalanan kuliah. Bahwa sebelum usia 24 tahun, ia harus sudah lulus. Sebagai syarat lulus cepat, ia tidak boleh mengulang mata kuliah yang bisa mengulur waktu. Salah satu jalannya yakni memperoleh nilai terbaik mata kuliah dalam sekali ambil. Lebih spesifiknya dengan cara belajar sungguh-sungguh. Pasti akan ada kejanggalan bila terjadi masalah dalam semangat belajarnya. 
   5.  Keteguhan
Semakin teguh komitmen, semakin kuat pula usaha dalam merealisasikannya. Semakin kuat perilakunya, semakin resisten ikrar itu akan berubah. Ia akan lebih stabil dari waktu ke waktu. Akhirnya akan memberikan dampak yang besar. Karena perjuangan yang tertatih akan semakin menempa jiwanya, dan dalam pula bekasnya untuk selalu diingat. Disinilah berlaku teori, membalik pikiran dan komitmen awal membutuhkan kerja keras.
   6.  Penghargaan
Setiap manusia punya kodrat untuk dihargai. Ketika dirinya berkomitmen untuk seseorang misalnya, kemudian seseorang itu menganggap penting komitmennya, maka semakin kuat pula konsistensi itu. Sama halnya ketika berkomitmen untuk diri sendiri, kemudian hasilnya mengundang penghargaan dari orang lain, semakin ia bersemangat menjalani proses komitmen itu.

Konsistensi sejatinya berjalan beriringan dengan sebuah komitmen. Sebab sebuah keputusan untuk berkomitmen, maka konsekuensinya itu bukan sekadar janji. Konsekuensi lain yakni terus-menerus. Keputusan itu tetap ada, dalam berbagai kondisi hidup. Terkadang, ketika kita sudah mengikrarkan sesuatu, maka tubuh akan turut bersinergi . Hingga tak jarang, secara tidak sadar pikiran mampu menangkap sesuatu yang salah bila konsisten itu mulai merosot. Kembali pada diri sendiri, seberapa ia mampu menangkap sinyal dari diri sendiri. Ada banyak hal yang mendukung untuk berkonsisten. Selama kebutuhan dan identifikasi melekat erat pada keputusan untuk teguh. Sebab komitmen tinggi dibuktikan dengan adanya sikap kuat dalam perilaku dan pertahanannya. (AL)