Label

Selasa, 28 Oktober 2014

Tak Ada Cinta yang Memiliki Abadi



Kala itu, Salman Al-Farisi memang sudah siap menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya seagai wanita sholehah telah mengambil hatinya. Tentu bukan sebagai kekasih, tapi sebagai pilihan yang tepat. Pilihan menurut akal sehat, perasaan yang halus, dan ruh yang suci.
Bagaimanapun ia merasa asing di Madinah karena bukan penduduk asli di sana, Madinah memiliki adat, bahasa, dan budaya yang belum ia kenal. Ia berpikir, melamar seorang penduduk asli tentu bukan urusan yang mudah bagi pendatang. Harus ada seseorang yang membantunya berbicara saat khitbah nanti. Maka disampaikanlah maksud hatinya pada sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
“ Subhanallaah, walhamdullillaah,” girang Abud Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenum dan saling berpelukan. Setelah segala persiapan, berangkatlah keduanya ke penjuru kota Madinah, menuju kediaman wanita sholehah lagi bertakwa.
“ Saya adalah Abud Darda;, dan ini saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakannya dengan islam, dan dia telah memuliakan islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah sampai beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini untuk melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” fasih Abud Darda’ berbicara.
“ Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah. “ Menerima Anda berdua ya sahabat Rasulullah yang mulia. Dan kehormatan bagi keluarga ini bermantukan sahabat Rasulullah yang utama. Akah tetapi hak ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Sang tuan rumah menunjuk kea rah hijab yang dibaliknya berdiri sang putri.
“ Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu, ternyata sang ibu mewakili putrinya. “ Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridho Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban untuk mengiyakan.”

Keterusterangan yang mengejutkan. Apa yang akan kalian lakukan jika berada dalam posisi Salman? Kecewa, marah, membenci sahabatnya sendiri seperti kebanyakan sinetron dan film? Atau berada dalam posisi Abud Darda’, bagaimana perasaan kalian? Seorang putri lebih tertarik pada pengantar daripada pelamarnya! Sungguh ironis. Cinta dan sahabat bergejolak pada satu hati yang sama.
Tapi…, mari kita dengar kalimat Salman.
“ Allaahu akbar!” seru Salman. “ Semua mahar dan nafkah yang aku persiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Subhanallaah… cinta tak harus memiliki. Kalimat ini mungkin terdengar klasik di telinga kita. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan malu,kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar, dan seterusnya. Sebuah kesadaran tentang ‘rasa memiliki’.
Rasa memiliki memang membawa kelalaian. Sebagai seorang manusia yang menghamba, adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita dan mempertahankan kesadaran bahwa ini hanya pinjaman. Bahwa kita semua milik Allah, dan hanya padaNya akan kembali. Meskipun dengan sahabat terbaik, istri paling setia, keluarga yang saling menghormati, sejatinya Allah hanya meminjamkan mereka untuk kita dan kita untuk mereka.
Ada sebuah kisah lain yang masih berkaitan dengan rasa memiliki. Cinta memang tak harus memiliki. Kisah seorang khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sejak dulu, Umar mencintai seorang gadis yang jelita parasnya. Namun perasaan itu menyebabkan kecemburuan sang istri, dan tidak pernah mendapatkan ijin untuk menikah lagi.
Di tengah kejayaan pemerintahannya, fisik Umar semakin lemah dan kurus. Demi melihat itu, maka istrinya pun menawarkan Umar untuk menikahi gadis yang dicintainya itu sebagai dukungan moral agar Umar memerintah lebih semangat. Sebagai manusia biasa Umar senang alang kepalang hatinya walau tak ditunjukkannya di depan istrinya. Karena tak ada yang salah jika Umar menikah lagi, atas inisiasi istrinya pula. Sebagai khalifah semua tentu tak ada yang berani melarang.
Namun, apa yang selanjutnya terjadi? Umar menolak tawaran itu. Apakah cinta Umar tenggelam? Dimana cinta Umar yang dulu ada?
Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!”
Andaikan Umar tak lebih mengedepankan amanah yang dia emban, saatnya Umar menerima tawaran tersebut. Namun ada cinta yang lebih agung dari pada itu, Cinta kepada Allah dan Rosulnya. Karena amanah yang dia emban demi Allah dan kekasih Nya yaitu Rasulullah.
Dan itulah kisah-kisah indah yang pernah tertoreh dalam sejarah peradaban jaman sebelumnya. Betapa besar rasa tanggungjawab Umar dalam pemerintahan, hingga merasa tskut perasaan itu kelak akan menganggunya. subhanallaah.., wallahu a’lam bis showab.

Sumber:
Jalan Cinta Para Pejuang (Salim A. Fillah)

Minggu, 19 Oktober 2014

Tertawan

Ada yang beku : bibir
Ada yang tertahan : nafas
Ada yang tak berkedip : kelopak mata
Ada yang berdegup kencang : jantung
Ada yang berdesir deras : darah
Ada yang tertawan : hati
Ada yang berhenti berputar : bumi
Ada yang berhembus pelan : angin
Ada yang hening berbisik : rerumputan

Ada yang jatuh cinta padamu : aku ^_^

Ja(t)uh