Label

Sabtu, 06 September 2014

Mahar Paling Mulia

Kalian kenal Ummu Sulaim? Yaah, minimal pernah mendengar namanya? Siapa ya dia?

 Ummu Sulaim ra., salah satu wanita mulia yang dijamin masuk surga, yang mengajari kita tentang pernikahan dalam konteks dakwah. Dia menjadikan keislaman suaminya sebagai mahar dalam pernikahan.

Dalam kitab Imam An-Nasai, dikisahkan pinangan Abu Thalhah pada Ummu Sulaim. Ia mengatakannya melalui putra Ummu Sulaim. Sungguh Abu Thalhah telah melamar Ummu Sulaim. Maka Ummu Sulaim berkata, " Demi Allah, tiada mungkin seorang seperti dirimu wahai Abu Thalhah, akan ditolak lamarannya. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah. Tiada halal bagiku untuk menikah denganmu. Tapi jika engkau masuk islam, maka itulah maharku, dan aku tidak akan meminta padamu selain itu."

Maka Abu Thalhah masuk islam, dan itulah mahar pernikahannya dengan Ummu Sulaim. Tsabit, salah seorang perawi hadits berkata, " Aku belum pernah mendengar sama sekali seorang wanita yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim, yakni islam. Setelah Abu Thalhah masuk islam dan mereka menikah, mereka dikaruniai seorang anak." (HR. An-Nasai)

Subhanallaah, jangan dikira itu menunjukkan rendahnya kualitas diri Ummu Sulaim. Justru itulah mahar terindah bagi pernikahan mereka. Semoga kita termasuk perempuan yang meminta mahar berkualitas di hadapan Allah. Aamiin...

Senin, 01 September 2014

Perpisahan Itu Nasib

Avi
Hai, rasanya sudah lama tidak menuai kalimat di sini. Aku ingin berbicara tentang temanku, yang kurasa dia sahabat baru-baru saja. Namanya Avi Nugrahaeni. Sebenarnya kami satu kelas selama 1 tahun di FKG. Selama dua semester itu pula, setiap praktikum kami selalu satu kelompok, karena absen kami yang berdekatan. Selalu bersama, kelompok presentasi, tutorial, hingga review. Bahkan kelompok di kluster yang sama saat kami menjadi panitia PPSMB (ospek) Palapa UGM 2014.

Sebenarnya semua biasa saja. Aku baru merasa hadirnya selama beberapa bulan kami dilatih kepemanduan panitia. Karena memang selama di FKG, teman main kami berbeda. Aku beruntung satu kluster dengannya, menghabiskan sekitar 3 bulan kepemanduan dan Training of Trainer untuk persiapan PPSMB. Setidaknya aku punya waktu lebih banyak sebelum dia pergi.

https://igcdn-photos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11022883_1607536516158022_206832964_n.jpg
Aku dan Avi
Meskipun badannya mungil, masih terlihat kekanak-kanakan dan imut, tapi dia lebih dewasa dan berani. Berani mengungkapkan apapun selama dia pikir itu benar. Sering banget dia mengajariku, untuk menipiskan gengsi menghadapi apapun. Berani mengungkapkan sesuatu yang benar. Dan menjadi diri sendiri.

Ada banyak kisah miris di fakultasku. Mereka yang memutuskan pindah fakultas atau kampus, bukan sekedar tidak menyukai FKG. Begitu pula dengan Avi. Bukan karena tidak suka di fakultas ini, bahkan berat buat dia untuk memutuskan pindah kampus. Tapi ada banyak alasan yang membuat seseorang melakukan suatu hal. Ada banyak alasan, yang kalian tidak boleh bilang manusia serba beralasan.

Ada satu kalimat bagus dari salah satu co-fass (pemandu), " Pertemuan adalah takdir. Perpisahan itu nasib". Ada banyak cerita di kepanitiaan ini. Yang sering membuatku kangen, merasa tiga bulan itu sungguh berlalu cepat. Kalian tahu, jika kalian ingin memiliki banyak variasi cerita hidup, bertemu dan kenalilah banyak orang. Kalian tahu, meski perjalanan jogja-solo hanya 1 jam dengan kereta, aku bisa mendapat banyak cerita di sana. Entah dari orang dewasa yang kutemui di kursi tunggu stasiun, dan mengeluhkan tentang politik. Entah dengan sesama mahasiswa yang berada di kursi kereta bersebelahan. Atau dengan mengamati tingkah laku mereka dan kita berpersepsi sendiri dengan kisah mereka.

Back to story. Semoga kamu sukses di Jakarta, Avi. Aku masih selalu ingat kalimatmu setiap obrolan kita. Aku masih sering ketawa sendiri mengingat kisahmu tentang maba yang bully kamu, hehehe. Aku juga bakal tetep ingat bully-an temen-temen cofass buat kita berdua, itu seru. Aku akan selalu ingat tawa kita membicarakan sesuatu. Dan aku tidak akan lupa semua kekonyolan kita saat praktikum. Semoga 'pertemuan adalah takdir' akan terjadi lagi, one day.

Semoga pilihanmu membawa keberkahan ya.




#Persembahan sederhana betapa beruntungnya aku mengenalmu. Ada banyak rasa dan kisah yang tak cukup dengan tulisanku yang masih berantakan. Maaf jika aku hanya memberi sedikit.