Label

Senin, 11 Agustus 2014

Rumah Cahaya (eps 2)

Bulan purnama berwarna merah oranye, sesekali keruh sebelah tertutup awan hitam. Di bawah atap kelas ini, setelah lampu padam beberapa saat, diiringi isakan tangis, dan suara seseorang yang menggiring kami dalam muhasabah. Menyadari betapa banyak dosa-dosa kecil yang bertumpuk, maupun dosa besar yang semakin menggunung.

Malam ini, dengan tangan yang saling menggenggam, kepala tertunduk dengan sisa tangis, kami melantunkan lagu ini dengan lirih dan dalam. Ini hanya permulaan, doa yang terlantun dalam nada lagu, yang selalu mengikatkan ukhuwah kami, bersama-sama menimba ilmu. Ada satu pesan, tidak akan abadi mimpi-mimpi dunia kita. Saatnya, tulislah mimpi akherat, sebab kita tidak pernah tahu kapan ajal datang. Tidak ada yang tahu kejutan Allah akan datang. Tidak ada yang tahu, sementara kita semakin sibuk dengan urusan dunia.

Doa rabithah, bisa kalian jumpai di Al-Ma'tsurat halaman terakhir:

Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah berpadu.
Berhimpun dalam naungan cintaMu.
Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan.

Kuatkanlah ikatannya, tegakkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya.
Terangilah dengan cahyaMu, yang tiada pernah padam.
Ya Rabbi, bimbinglah kami.

Lapangkanlah dada kami dengan karunia imanMu, dan indahnya tawakkal padaMu.
Hidupkan dengan ma'rifatMu, matikan dalam syahid di jalanMu.
Engkaulah pelindung dan pembela

Minggu, 10 Agustus 2014

Rumah Cahaya



Petang itu, ketika aku sudah lelah dengan segala aktivitas kampus sejak pagi. Sebenarnya mata ini sudah lesu, namun siapa yang tidak tergoda melihat sebulat cahaya di hadapannya, sekalipun masih berdiri di ambang pintu masuk.

Di atas deretan kamar-kamar tempat aku menimba ilmu akherat, yang telanjang dari atap bentuk apapun, sehingga terpampang jelas lukisan langit. Bulan purnama. Aku tidak pernah bosan untuk mengatakannya indah.

Cahaya yang tepat berada di tengah telanjangan atap asrama. Asrama? Ehm, sebenarnya lebih dari sekadar asrama sih. Ada namanya. Tetapi, kami para penghuni dan mantan-mantan penghuni menyebut tempat ini "Rumah Cahaya". Entah, aku juga tidak tahu filosofinya. Barangkali tempat sederhana inilah, dimana mereka memperoleh cahaya, cahaya dalam artian lebih dalam. Karena di sini, kita belajar lebih dari apa yang dipelajari para mahasiswa di luar sana. Belajar agama? Pastinya, tapi rupanya yang kami peroleh lebih dari itu. Tentu saja. Jika kita bisa menggenggam ilmu agama, dunia juga mudah kita raih. Ya Allah, semoga semua yang berada di bawah atap ini memperoleh keridhoan untuk Kau titipkan ilmuMu. Aamiin.

Kamis, 07 Agustus 2014

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana

Dari dulu, sampai sekarang, aku selalu kagum dengan puisinya Sapardi Djoko Damono.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

^_^

Rabu, 06 Agustus 2014

Sholat Nunggu Niat?

Hari itu, aku hanya berdiri memandangi sebuah gundukan tanah yang tidak terawat. Ummi, kakek, dan sodaraku tertunduk berdoa dalam hati. Beberapa menit, kemudian menaburkan bunga tujuh warna. Aku masih terdiam, berpikir.

Jasad yang pernah menjadi nenekku, di bawah tanah sana. Nenekku yang kata orang cantik, 10 tahun lalu meninggal. Dan ini baru kali pertama aku berziarah ke makam beliau. Seingatku, nenek itu baik dan sayang sama aku. Tapi..., aku tidak tahu mesti berdoa apa. Ya Allah, aku ingat sekali. Idul Fitri katika nenek masih hidup, aku bertanya pada ummi, kenapa nenek tidak sholat. Hingga aku sudah cukup bisa berpikir, kenapa pula di desaku itu tidak pernah terdengar adzan. Memang tidak ada yang sholat fardhu - barangkali hanya sebagian kecil. Sholat hanya ramai ketika lebaran.

Lalu, aku harus berdoa bagaimana? Bahkan ketika meninggal nenek tidak disholatkan, karena memang tidak pernah sholat. Apakah doa seorang cucu sepertiku bisa mengurangi beban siksaannya di sana?

Masih ada seorang berusia 80 tahunan, adik dari buyutku yang hingga kini masih diberi kesempatan menghirup napas dan berjalan di atas bumiNya. Aku pernah mendengar ummi menyuruh beliau sholat. Apa jawabnya? " Kamu ini gimana tho, nyuruh orangtua sholat, kalo apa itu namanya, rukuk? Kalo rukuk langsung jatuh gimana, terus mati? Mau tanggung jawab? Sujud aja encok sakit ini!" Aku hanya bisa tertawa ketika itu, belum mengerti.

Bahkan hingga Lebaran ini, mukena dan sajadah memang hanya untuk Lebaran. Meski alhamdulillaah, beberapa pemuda yang pernah merantau di luar desa, sudah mulai menyadari kewajibannya untuk ibadah. Adzan dari sebuah mushola kecil di pinggir sungai - yang ketika hujan deras, uapan air sungai akan menggenangi mushola - meski hanya adzan maghrib dan isya.

Hingga di sebuah ruangan kamar milik kakek di desa, aku hanya mendengarkan percakapan mereka.  Ketika seseorang yang lebih muda bertanya pada yang lebih tua, " Dhe, mboten sholat?"
Dan yang lainnya hanya menimpali, " Ah. yo biarin. Kalo belum ada niat juga nggak bisa dipaksa. Kalo ddipaksa sholat nggak niat juga nggak dapet apa-apa."

Aku merenung, masih dalam duduk sholatku seusai dzikir. Benarkah pikiran itu? Sungguh aku ingin tahu. Jika mereka beribadah menunggu niat untuk ibadah, memang benar, segala ibadah harus dengan niat karena Allah. Tapi, untuk hati dan jiwa yang tak pernah mengenal Allah, bagaimana niat itu akan hadir? Sampai kapan mereka akan menunggu hadirnya niat itu? Dan bagaimana menghadirkan niat itu? Padahal mereka sudah menelan getir hidup yang cukup susah di desa ini, selama puluhan tahun. Tak cukupkah segala kesusahan hidup mengingatkannya pada sesuatu yang Maha di sana?

Bahkan ketika Rasulullah saw. menyuruh keluarga Ali untuk bangun menunaikan sholat tahajud, mereka menjawab " Jiwa kami ada di genggaman tangan Allah. Jika Dia menghendaki, maka kami akan bangun dan sholat." Kemudian apa jawab Rasul? " Dan manusia adalah makhluk yang banyak membantah."

Entahlah. Kenyataannya sejak kecil, ketika aku belum mengerti kenapa keluarga dari ummiku tidak sholat, hingga aku sudah sebesar ini, aku hanya bisa diam. Aku belum cukup mengerti tentang tarbiyah itu. Ampuni aku, ya Allah. Beri aku kesempatan suatu hari nanti.