Label

Senin, 26 Mei 2014

A vs. B vs. AB vs. O



By: Alya Nur Fadhilah
      Suatu ketika saya mendengar percakapan dua perempuan yang duduk di bangku stasiun. “ Bagaimana bisa kita berjodoh, golongan darah dia AB sementara aku A. Kita tidak akan bisa bersatu.”
          Saya sempat heran. Dalam hati, "Hah? Alay banget sih." Pertama kali perbedaan golongan darah menjadi permasalahan. Sebenarnya sudah sering mendengar bahwa karakter seseorang bisa ditelusuri melalui golongan darah. Hal ini sangat dipercaya oleh orang Jepang, yang lebih mengaitkan karakter dengan golongan darah daripada shio dan zodiac.
            Pada tahun 1927, seorang ilmuwan Jepang, Takeji Furukawa, melakukan riset besar-besaran yang melibatkan sekitar 10.000 responden. Riset tersebut tertulis dalam papernya berjudul “The Study of Temperament through Blood Type”. Paper itu menjelaskan bahwa keempat golongan darah – A, B, O, dan AB – masing-masing memiliki protein tertentu yang membangun semua sel di dalam tubuh dan turut berkontribusi dalam psikologi manusia.
          Setelah mendapat respon positif dari kalangan masyarakat Jepang, pemerintah rela memberikan dana besar untuk risetnya. Hal itu bertujuan untuk membuat suatu pasukan tentara yang hebat. Namun ternyata pasukan tersebut tetap gugur dalam peperangan. Bahkan beberapa perusahaan di Jepang mencari karyawan dengan melihat golongan darah. Misalnya kriteria pemimpin adalah bergolongan darah O dan A, sekretaris bergolongan darah A, seniman bergolongan darah B, dan sebagainya.
         Apabila sedikit mengintip dari buku “Membaca Karakter Melalui Golongan Darah” karya Toshitaka Nomi, telah diuraikan jelas kepribadian masing-masing golongan darah. Misalnya golongan darah A yang berkepribadian terorganisir, teliti, konsisten, teratur, perfeksionis, berkebalikan dengan golongan darah B yang cenderung santai, easy going, tidak mau diatur, paling menikmati hidup. Berbeda pula dengan golongan darah O yang berjiwa besar sehingga dianggap lebih layak menjadi pemimpin, mudah bergaul, tapi tidak mau mengalah. Pun halnya dengan golongan darah AB yang dianggap unik, banyak akal, berkepribadian ganda karena penggabungan dari A dan B.
        Bagi sebagian dari kita yang memahami buku tersebut, mungkin banyak berpikir bahwa itu benar lalu menyetujui begitu saja. Atau bisa jadi mulai mengamati tingkah polah orang lain di sekelilingnya. Dan sering pula pemilik golongan darah merenung tentang kekurangan yang tergambar dalam tipe darah yang ia miliki. Misalnya, seorang golongan darah A cenderung lebih sering membuat orang menjauh karena sifat perfeksionisnya. Orang tipe darah B cenderung lebih sering dimarahi sang bos karena tidak pernah on time. Pasti ada sebagian orang berpikir, “ Saya tidak mau seperti itu. Tapi bagaimana jika itu sudah menjadi karakter dari sana, tipe golongan darah saya tidak bisa ganti.” Begitu pula percakapan yang pernah saya dengar di atas, bagaimana bisa orang ragu memulai hubungan hanya karena masalah golongan darah. Mungkin lebih spesifik tentang perbedaan kepribadian mereka.
            Sebenarnya apakah sama antara kepribadian dan karakter? Dalam bukunya tersebut, Toshitaka Nomi mendefinisikan karakter adalah sesuatu yang biasanya tampak di luar sadar, dapat juga dikatakan karakteristik yang membedakan kecenderungan tindakan dan juga ekspresi yang keluar secara mudahnya. Dia menyimpulkan bahwa karakter yang dimiliki manusia itu dapat berubah, tentunya dengan usaha dan membiasakannya. Lalu bagaimana dengan kepribadian? Menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006), kepribadian adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
         Sehingga dapat dikatakan bahwa kepribadian seseorang mempengaruhi karakternya, sedangkan karakter itu sendiri sesuatu yang tampak. Dalam prinsip golongan darah tidak terlalu jelas yang dipengaruhi adalah kepribadian ataukah karakter. Namun dalam prinsip biologi, protein-protein dari tiap golongan darah akan bekerja secara hormonal. Sebagaimana suatu sistem tubuh, untuk menampilkan suasana depresi misalnya dibutuhkan beberapa protein spesifik yang mempengaruhi kerja hormon-hormon dalam tubuh. Yang pasti di luar tubuh juga ada faktor lain yang mempengaruhi.
       Di atas telah diuraikan bahwa pasukan yang disiapkan oleh pemerintah Jepang berdasarkan golongan darah, rupanya tetap gugur dalam peperangan. Kenapa? Karena ada yang lebih hebat dan ahli dalam peperangan. Pemenang itu lebih terbiasa, pemenang itu tidak mengandalkan apa yang dia punya secara kodrat, melainkan apa yang dia usahakan.
 Secara sederhana bahwa apa yang kita lakukan, karakter yang muncul, kepribadian yang kita miliki, bukan sepenuhnya bergantung pada protein-protein yang menyusun golongan darah. Tidak peduli bahwa golongan darah B yang cenderung pemalas, tidak suka aturan, atau sulit on time, dia bisa menjadi pemimpin bagi golongan darah O. Tidak lantas karakter seseorang hanya berhenti pada klasifikasi karakter berdasakan golongan darah. Karena kenyatannya, kepribadian bisa dibentuk ketika kita mengubah pemahaman dan cara pandang terhadap hidup. Dan karakter bisa diubah melalui pembiasaan.
           Sebagai contoh tipe B tersebut, ia bisa mengubah kepribadiannya dengan pola pikir bahwa ada banyak hal di dunia ini yang perlu dipikirkan dan dikerjakan dengan serius. Sehingga ia akan cenderung berpikir, kapan ia bisa bersikap santai dan kapan harus serius. Segala hal pemikiran dan pemahaman tersebut akan tergambar dalam karakternya. Sama halnya dengan golongan darah A, yang terkadang berpikiran negatif tentang orang lain. Dengan pemahaman hidup yang ia miliki, tipe A bisa berpikir sederhana ketika seseorang tiba-tiba marah padanya, barangkali dia sedang memiliki banyak masalah. Begitu pula tipe golongan darah lain.
          Kerja hormonal dan protein dalam tubuh bisa diatur oleh faktor dari luar tubuh. Termasuk cara pandang hidup, motivasi, visi. Sehingga segala protein dalam tubuh itu hanya berperan dasar, presentase terbesar ada pada diri sendiri dan lingkungan. Jadi tidak lantas golongan darah A tidak akan bersatu dengan golongan darah AB, tergantung bagaimana nanti akan menyelesaikan masalah. Begitu pun pekerjaan yang mengutamakan beberapa golongan darah tertentu. Menurut saya sedikit tidak fair. Kenapa?
        Secara sederhana begini. Semua orang berlomba dan bersaing memperoleh satu posisi. Rupanya yang dicari adalah orang yang sudah kodrat memiliki itu sejak lahir. Lalu dimana penilaian sebuah kerja keras dan tekad?
        Apa yang menjadi dasar bagi tubuh, tidak lantas mengisolasi diri beginilah adanya. Seringkali kita mendengar, you are what you think. Jika buih air bisa menjadi indah karena ucapan-ucapan yang baik, begitu pun dengan cairan dan unsur-unsur tubuh akan sesuai dengan pemikiran kita. Anggap segala protein dan hormon dalam tubuh itu sangat kecil, unsur berukuran mikro. Bukan mereka yang mengatur kita, tapi diri kita sendiri yang mempengaruhi kerja sistem dalam tubuh. Jadi, golongan darah bukan kontrol dalam bertindak. Tapi pemahaman dan cara pandang jauh lebih menentukan.

NB
Artikel analisis pertamaku nih. Jika ada kekurangan, boleh dikomentari lho

3 komentar:

  1. saya kemarin sudah membaca artikel2 mu,mbak. sangat menginspirasi. saya doakan mbak sukses, selalu disana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, apa kabar Norma, aku masih inget kamu, hehehe
      Aaamiin, makasih yaa, sukses juga sekolahmu ya

      Hapus
  2. Hayo, inget apa mbak Alya?? oya, aku juga masih inget kamu, mbak. Dulu waktu kita masih di smp negeri 6 solo kamu yang dulu mesti bareng sama mbak Yusfika, mbak mahda dkk to, aku ngerti. aku ngerti dari mading...aku seangkatan sama inayah, mbak. Ojo bingung, lhooo... ahihi :)

    BalasHapus