Label

Senin, 26 Mei 2014

Pemimpin Cerminan Diri Rakyat





Jumat, 4 April 2014 Kammus menggelar acara Kantin (Kajian Rutin) di halaman rumput mushola Al-Ikhsan FKG UGM. Kajian yang digelar rutin setiap dua pekan pukul 16.00 WIB kali ini dihadiri sekitar 30 mahasiswa FKG UGM. Mengangkat tema ‘Cerdas Memilih untuk Indonesia’, dr.Raehanul Bahraen selaku pembicara menjelaskan secara terbuka bagaimana menanggapi demokrasi pemilu dan memilih pemimpin yang baik.
dr. Bahraen mengungkapkan, bahwa demokrasi hukum asalnya adalah haram. “ Profesor nyoblos dibandingkan dengan dua orang yang baru aja keluar dari rumah sakit jiwa nih, tetap yang menang adalah suara dua orang yang keluar dari rumah sakit jiwa. Begitulah demokrasi. Tapi Islam itu tidak kaku. Kalo memang harus memilih, pilihlah yang terbaik, yang minimal dia beriman dan sholat.”
            Dosen FK Universitas Mataram itu juga menyampaikan pesan dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka.”
            Pemimpin adalah cerminan diri rakyat, begitulah yang sering terulang dalam kalimat dr. Raehanul Bahraen. Sehingga jangan hanya fokus menuntut pemimpin sempurna yang harus begini begitu, tapi juga harus berpikir bagaimana memperbaiki rakyat dan masyarakat.
            Beliau juga mengungkapkan, seorang pemimpin yang baik belum tentu rakyatnya juga baik. Jaman dahulu Bani Israil adalah kaum yang dipimpin oleh para nabi, diantaranya nabi Musa as., nabi Harun as., dan nabi Sulaiman as. Namun perilaku mereka mendatangkan laknat Allah bahkan ada yang dikutuk menjadi kera. Sehingga hancurnya rakyat belum tentu disebabkan oleh pemimpin. Namun pemimpin adalah cerminan diri rakyat. Sehingga lebih baik kita fokus memperbaiki diri sandiri dan masyarakat terlebih dahulu.
            Jika harus mengubah negara, kita memang harus menguasai konstitusi. Dan untuk mengubah negara menjadi islam, maka harus menguasai konstitusi pula. Namun untuk melakukan itu di negara itu butuh proses lama dan sulit. dr. Bahraen kembali mengingkatkan bahwa kita harus memperbaiki rakyat terlebih dahulu. Beliau bercerita tentang kisah Najashi, raja Etiopia. Ketika menjadi raja di negara itu, Najashi justru menyembunyikan keislamannya.
            “ Jangan fokus mengisi parlemen dengan orang islam, siap nggak rakyatnya?” kata dr. Bahraen. Beliau menjelaskan bahwa masalah di negara Indonesia itu banyak, jadi jangan hanya fokus memasukkan orang islam di parlemen lalu mengubah menjadi negara islam. Sebelum mengarah ke jauh, lebih baik memperbaiki hal-hal sederhana rakyat, misalnya menyembah kubur sebagai perbuatan syirik, berzina, memakan harta rakyat, dan sebagainya. Bahkan kepemimpinan Rasulullah saw. selama 10 tahun hanya memperbaiki keimanan umatnya.
            So, gunakan hak pilihmu dengan baik. Jadilah rakyat yang memenuhi hak Allah, insya Allah, Dia akan memberikan pemimpin yang baik untuk kita.Wallaahu a’lam. (AL)
           


A vs. B vs. AB vs. O



By: Alya Nur Fadhilah
      Suatu ketika saya mendengar percakapan dua perempuan yang duduk di bangku stasiun. “ Bagaimana bisa kita berjodoh, golongan darah dia AB sementara aku A. Kita tidak akan bisa bersatu.”
          Saya sempat heran. Dalam hati, "Hah? Alay banget sih." Pertama kali perbedaan golongan darah menjadi permasalahan. Sebenarnya sudah sering mendengar bahwa karakter seseorang bisa ditelusuri melalui golongan darah. Hal ini sangat dipercaya oleh orang Jepang, yang lebih mengaitkan karakter dengan golongan darah daripada shio dan zodiac.
            Pada tahun 1927, seorang ilmuwan Jepang, Takeji Furukawa, melakukan riset besar-besaran yang melibatkan sekitar 10.000 responden. Riset tersebut tertulis dalam papernya berjudul “The Study of Temperament through Blood Type”. Paper itu menjelaskan bahwa keempat golongan darah – A, B, O, dan AB – masing-masing memiliki protein tertentu yang membangun semua sel di dalam tubuh dan turut berkontribusi dalam psikologi manusia.
          Setelah mendapat respon positif dari kalangan masyarakat Jepang, pemerintah rela memberikan dana besar untuk risetnya. Hal itu bertujuan untuk membuat suatu pasukan tentara yang hebat. Namun ternyata pasukan tersebut tetap gugur dalam peperangan. Bahkan beberapa perusahaan di Jepang mencari karyawan dengan melihat golongan darah. Misalnya kriteria pemimpin adalah bergolongan darah O dan A, sekretaris bergolongan darah A, seniman bergolongan darah B, dan sebagainya.
         Apabila sedikit mengintip dari buku “Membaca Karakter Melalui Golongan Darah” karya Toshitaka Nomi, telah diuraikan jelas kepribadian masing-masing golongan darah. Misalnya golongan darah A yang berkepribadian terorganisir, teliti, konsisten, teratur, perfeksionis, berkebalikan dengan golongan darah B yang cenderung santai, easy going, tidak mau diatur, paling menikmati hidup. Berbeda pula dengan golongan darah O yang berjiwa besar sehingga dianggap lebih layak menjadi pemimpin, mudah bergaul, tapi tidak mau mengalah. Pun halnya dengan golongan darah AB yang dianggap unik, banyak akal, berkepribadian ganda karena penggabungan dari A dan B.
        Bagi sebagian dari kita yang memahami buku tersebut, mungkin banyak berpikir bahwa itu benar lalu menyetujui begitu saja. Atau bisa jadi mulai mengamati tingkah polah orang lain di sekelilingnya. Dan sering pula pemilik golongan darah merenung tentang kekurangan yang tergambar dalam tipe darah yang ia miliki. Misalnya, seorang golongan darah A cenderung lebih sering membuat orang menjauh karena sifat perfeksionisnya. Orang tipe darah B cenderung lebih sering dimarahi sang bos karena tidak pernah on time. Pasti ada sebagian orang berpikir, “ Saya tidak mau seperti itu. Tapi bagaimana jika itu sudah menjadi karakter dari sana, tipe golongan darah saya tidak bisa ganti.” Begitu pula percakapan yang pernah saya dengar di atas, bagaimana bisa orang ragu memulai hubungan hanya karena masalah golongan darah. Mungkin lebih spesifik tentang perbedaan kepribadian mereka.
            Sebenarnya apakah sama antara kepribadian dan karakter? Dalam bukunya tersebut, Toshitaka Nomi mendefinisikan karakter adalah sesuatu yang biasanya tampak di luar sadar, dapat juga dikatakan karakteristik yang membedakan kecenderungan tindakan dan juga ekspresi yang keluar secara mudahnya. Dia menyimpulkan bahwa karakter yang dimiliki manusia itu dapat berubah, tentunya dengan usaha dan membiasakannya. Lalu bagaimana dengan kepribadian? Menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006), kepribadian adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
         Sehingga dapat dikatakan bahwa kepribadian seseorang mempengaruhi karakternya, sedangkan karakter itu sendiri sesuatu yang tampak. Dalam prinsip golongan darah tidak terlalu jelas yang dipengaruhi adalah kepribadian ataukah karakter. Namun dalam prinsip biologi, protein-protein dari tiap golongan darah akan bekerja secara hormonal. Sebagaimana suatu sistem tubuh, untuk menampilkan suasana depresi misalnya dibutuhkan beberapa protein spesifik yang mempengaruhi kerja hormon-hormon dalam tubuh. Yang pasti di luar tubuh juga ada faktor lain yang mempengaruhi.
       Di atas telah diuraikan bahwa pasukan yang disiapkan oleh pemerintah Jepang berdasarkan golongan darah, rupanya tetap gugur dalam peperangan. Kenapa? Karena ada yang lebih hebat dan ahli dalam peperangan. Pemenang itu lebih terbiasa, pemenang itu tidak mengandalkan apa yang dia punya secara kodrat, melainkan apa yang dia usahakan.
 Secara sederhana bahwa apa yang kita lakukan, karakter yang muncul, kepribadian yang kita miliki, bukan sepenuhnya bergantung pada protein-protein yang menyusun golongan darah. Tidak peduli bahwa golongan darah B yang cenderung pemalas, tidak suka aturan, atau sulit on time, dia bisa menjadi pemimpin bagi golongan darah O. Tidak lantas karakter seseorang hanya berhenti pada klasifikasi karakter berdasakan golongan darah. Karena kenyatannya, kepribadian bisa dibentuk ketika kita mengubah pemahaman dan cara pandang terhadap hidup. Dan karakter bisa diubah melalui pembiasaan.
           Sebagai contoh tipe B tersebut, ia bisa mengubah kepribadiannya dengan pola pikir bahwa ada banyak hal di dunia ini yang perlu dipikirkan dan dikerjakan dengan serius. Sehingga ia akan cenderung berpikir, kapan ia bisa bersikap santai dan kapan harus serius. Segala hal pemikiran dan pemahaman tersebut akan tergambar dalam karakternya. Sama halnya dengan golongan darah A, yang terkadang berpikiran negatif tentang orang lain. Dengan pemahaman hidup yang ia miliki, tipe A bisa berpikir sederhana ketika seseorang tiba-tiba marah padanya, barangkali dia sedang memiliki banyak masalah. Begitu pula tipe golongan darah lain.
          Kerja hormonal dan protein dalam tubuh bisa diatur oleh faktor dari luar tubuh. Termasuk cara pandang hidup, motivasi, visi. Sehingga segala protein dalam tubuh itu hanya berperan dasar, presentase terbesar ada pada diri sendiri dan lingkungan. Jadi tidak lantas golongan darah A tidak akan bersatu dengan golongan darah AB, tergantung bagaimana nanti akan menyelesaikan masalah. Begitu pun pekerjaan yang mengutamakan beberapa golongan darah tertentu. Menurut saya sedikit tidak fair. Kenapa?
        Secara sederhana begini. Semua orang berlomba dan bersaing memperoleh satu posisi. Rupanya yang dicari adalah orang yang sudah kodrat memiliki itu sejak lahir. Lalu dimana penilaian sebuah kerja keras dan tekad?
        Apa yang menjadi dasar bagi tubuh, tidak lantas mengisolasi diri beginilah adanya. Seringkali kita mendengar, you are what you think. Jika buih air bisa menjadi indah karena ucapan-ucapan yang baik, begitu pun dengan cairan dan unsur-unsur tubuh akan sesuai dengan pemikiran kita. Anggap segala protein dan hormon dalam tubuh itu sangat kecil, unsur berukuran mikro. Bukan mereka yang mengatur kita, tapi diri kita sendiri yang mempengaruhi kerja sistem dalam tubuh. Jadi, golongan darah bukan kontrol dalam bertindak. Tapi pemahaman dan cara pandang jauh lebih menentukan.

NB
Artikel analisis pertamaku nih. Jika ada kekurangan, boleh dikomentari lho

Minggu, 25 Mei 2014

Pengecoran Logam



Ada banyak kisah menarik dalam praktikum TKG 2 (Teknologi Kedokteran Gigi 2) di semester ini. Ada 3 bab yang harus diselesaikan, sebelumnya pembuatan plat dasar gigi tiruan dengan dua metode dan terakhir pengecoran logam gigi. Dan praktikum bab terakhir itulah yang mungkin paling berkesan.

Seperti bab sebelumnya, praktikum ini melalui beberapa tahapan. Jika sudah gagal di salah satu tahap, ya konsekuensinya mengulang tahapan dari awal.  Jadi ada berapa tahapan sih?
1.      Menempel malam pada gigi yang akan dibuat logam. Menggunakan malam inlay, berwarna ungu, mudah cair, dan berbau. Aku suka malam berwarna ungu ini.
2.      Mengukir malam itu menyerupai bentuk anatomis gigi, agak susah sih.
3.      Membuat sprue pin dan reservoir. Reservoir ini dari malam  merah yang ditempelkan pada ujung casting ring. Apa casting ring? Bentuk pipa berukuran diameter 2,5 cm dan tinggi 3,5 cm. ini nih gambarnya casting ring. Sudah jelek sih.

4.      Mengisi gips pada casting ring itu, kali ini menggunakan gips yang berwarna merah muda, lunak.
5.      Pre heating, wax elimination, dan heating. Tahapan ini menggunakan anglo/tungku yang diisi arang. Jadi untuk tetap menyalakan bara apinya, menggunakan tenaga manusia, harus terus mengipasi. Atau ada pula yang kreatif memakai kipas angin (heheheh)
6.      Pengecoran logam menggunakan alat yang di kampus Cuma ada satu.
7.      Deflasking, atau memecah gips supaya bisa mengambil hasil coran gigi
8.      Dan ini dia hasilku, setelah di polish dengan berbagai macam bur.



Gb. gigi geraham posterior


Hmm, jelek sih. Tapi wajarlah, kan baru pertama kali.

Yaah, memang susah dijelaskan dengan teori sih. Tapi itu gambaran secara umum. Kembali lagi, ada banyak kisah. Betapa banyak orang gagal dalam praktikum ini. Berapa pula orang yang menangis dan frustasi. Apa masalahnya? Masalahnya adalah alatnya Cuma satu, sehingga untuk mengecor harus rela antre dengan sekitar 150 mahasiswa, dan harus rela pulang tengah malam karena terlalu sering gagal. Kedua, ketika gagal di salah satu tahapan, harus mengulang dari awal. Yang itu berarti butuh pula material, gips, logam ( yang harganya nggak murah ya), malam, dll. Itu dia masalahnya…


Ada seorang temanku, dia sudah mengulang dua kali. Hasil pertamanya sudah sapai tahap akhir, namun ternyata logam yang dicor tidak berbentuk gigi. Hasil keduanya, setelah keluar di tungku dan masih panas, dia tidak sengaja memegang, terlempar, dan pecah gipsnya. Frustasi? Pastinya. Menangis? Wajar sih. Banyak teman yang berusaha membantu dan menghibur. Berapa banyak yang menangis malam itu, sayangnya aku tidak menghitung.

Ada pula, yang begitu mengharapkan kelahiran gigi logam itu, saat mereka meecah gips. Benar-benar layaknya ibu yang mengharap kelahiran anaknya. Ada beberapa pula yang lantas memberi nama pada gigi itu setelah lahir. Hahaha, lucu juga.

Dan hari itu, 13 mei, pertama kalinya aku masih mengendarai motor di jalan Jogja, pukul 11 malam. Untung Jogja masih rame jam segitu. Untung pula kegagalanku masih di tahap awal, saat pengisian gips yang terlalu encer, jadi mengulang hanya beberapa tahap. dan tidak perlu mengantre sampe tengah malam. Banyak lho yang jam 1 baru pulang.

Sebenarnya ada banyak pelajaran dari praktikum itu. Kerjasama dan saling membantu, itu pasti. Ketika beberapa teman sudah selesai, mereka rela membelikan titipan makanan bagi mereka yang belum selesai. Apalagi hari selasa, kuliah pagi jam 7, dilanjutkan dua praktikum beruntun sampai sore, pasti banyak yang belum makan siang atau seharian belum makan. Atau ada yang gagal, maka yang lain saling membantu dan menopang.

Kedua, aku banyak menemukan orang-orang yang memiliki wahn (cinta dunia). Sebenarnya gagal hanya masalah sederhana, toh bisa dilanjut besok. Rasa sedih berlebihan, itu tidak boleh. Apalagi, praktikum sampai malem, melupakan sholat isya’, tidak sempat sholat maghrib ( wah parah banget). Emang sih pekerjaannya harus ditunggu, apalagi kalo lagi di depan tungku, harus dijaga. Tapi kan…, ehm, tapi Allah itu lebih penting.

Ya begitulah, percuma sedih, menyesal, frustasi, berusaha semaksimal mungkin, tapi usaha itu tidak dipasrahkan ke Allah. Ingat ya, “  Ikhtiar seorang muslim itu bukan pada usahanya, melainkan pada Allah. Sedangkan ikhtiar orng kafir itu pada usahanya.”

Dan yang terakhir, di sela-sela aku menunggu antrean selama 2,5 jam, iseng membuat sesuatu dari sisa gips milik teman. ini diaa..
Sebenernya tidak penting sih, hanya mengisi waktu luang dan kebosanan aja, di sela-sela belajar buat praktikum esoknya. Aku juga bingung, kenapa mesti bentuk hati ya? Emang di dunia ini tidak ada bentuk lain selain hati? Entahlah, abaikan jika tidak penting.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 15 Mei 2014

" Jangan pernah mencintai seseorang yang tidak mencintai Allah. Allah saja ditinggalkan apalagi dirimu." (Imam Syafi'i)

"Pekerjaan yang terhormat, bukan tentang apakah ia lulusan SD, SMP, SMA, S1-S3. Tapi tentang halal dan bermanfaatnya buat orang lain." (Alya Nur Fadhilah)

#Quote 4


Akan selalu ada laki-laki baik untuk perempuan yang terus berusaha memperbaiki dirinya." (Darwis Tere Liye)

Tak Teraba





Sebuah kaki mengetuk lantai beberapa kali dengan frekuensi lama. Mereka terdiam beberapa menit. Hingga pemilik kaki merasa jenuh. Memandang sebal cowok jangkung yang duduk di batu besar taman itu.
Kakinya menoleh, hendak berbalik. Diikuti badannya yang mungil.
“ Hey, mau nikah nggak sama aku?” kata Rei, cowok berkulit putih dengan mata sipit, nada sedikit meninggi.
Ekspresi yang tidak akan pernah Rei lihat. Mata bulat Sire semakin membulat, bibir tipisnya terbuka, jantung berdegup. Tapi pikiran rasional gadis itu mengubah segalanya.
“ Kamu ngomong apa?” tanya Sire
“ Aku yakin kamu udah denger tadi,” kata Rei sambil berdiri dari duduknya, mendekat.
Sire memandang wajah teduh tapi menyebalkan itu. Bibir Rei bergerak mengunyah permen karet. “ Kamu serius?”
“ Kamu pernah lihat aku main-main tentang hati?”
“ Tapi..,apa kamu nggak bisa menyusun kalimat dengan baik? Kamu nggak tau gimana adab bicara sama cewek? Apalagi kalimat lamaran kayak gitu, nggak etis.”
Mata Rei semakin memandang tajam. “ Sejak kapan ada hukum etis lamaran? Yang pasti aku nggak akan mengulang dua kali.”
Gadis itu tertawa mengejek. “ Siapa juga yang mau dilamar dengan cara kayak gini, ekspresi menakutkan, datar, nggak romantis, dan…”
“ Oke fine,” katanya sambil meludahkan permen karet. “ Itu aku anggap penolakan.” Tubuhnya berbalik, berjalan cool, meninggalkan seorang berwajah masam dan kesal.
Sire marah, mengira bahwa Rei tidak serius. Padahal dalam ruang hatinya, ia sangat menunggu kalimat itu terucap, ia akan berkata ‘ya’. Tapi perempuan mana yang bisa terima ini.
 Ia berbalik, berjalan pelan dengan wajah memerah menahan air mata. Ia sangat mengenal Rei, cowok pujaan hati sejak SMA yang bertahun-tahun  menggantungkan hati semua gadis, termasuk dirinya. Ia sangat mengenal Rei, cowok setia yang begitu menjaga hati perempuan. Ia sangat mengenal Rei, meskipun selalu datar dan sinis, tapi itu hanya topeng atas karakter hangatnya. Ia sangat mengenal Rei, yang tidak pernah bisa terlihat untuk siapa hati itu, tidak pernah berkata cinta pada perempuan. Sahabatnya itu, pertama kalinya langsung mengajukan lamaran padanya, pada Sire. Sire yang memendam selama tujuh tahun.
“ Rei, kembali dan katakan itu lagi. Kembali. Kau nggak sedang mempermainkan aku,” bisik Sire, pelan.
Beberapa menit ia masih di sana. Telinganya awas mendengarkan langkah kaki milik Rei mendekat. Tapi itu tidak akan terjadi. Karna beberapa meter darinya, cowok itu duduk di atas motor Vixion hitam, kepalanya tersandar pada stang, tangannya mengepal. Hingga sengaja membanting helm, berteriak.
“ Bodoh! Bodoh!”
Dua hati yang tidak teraba.
***
Mata bulatnya memandang langit dari balik jendela kaca. Tangannya meminang-minang sebuah cincin. Pikirannya buyar, bukan pada objek di hadapannya. Sempat terkejut mendengar pintu terbuka. Cincin itu jatuh, menggelinding di bawah kaki Lail.
Gadis berambut keriting itu memungutnya. “ Jadi keputusanmu?”
Sire mengangkat bahu, kembali memandang langit.
“ Kamu kenapa sih, Re. Udah jelas Rei cuma mempermainkanmu, ngapain masih berharap? Di depan kamu sudah ada cowok sempurna bin idaman, malah dicuekin.”
Aku mendesah, butiran uap air membekas di kaca jendela. “ Andai kamu mengerti.”
“ Aku ngerti. Aku juga teman Rei, you know. Dan dia nggak cukup baik buat kamu,” kata Lail tegas. “ Ya dia baik sih, cool, tampan, tapi misterius banget. Siapa yang bisa jamin dia nggak mempermainkanmu?”
“ Kita udah deket sejak SMA, gimana mungkin dia tega? Aku sedang berpikir, barangkali dia nggak bisa menyampaikan itu dengan baik. Entah hanya harapan atau memang realita, aku juga merasa Rei punya rasa, karna dia peduli sama aku.”
“ Ya dia peduli karna kalian bersahabat sejak SMA.”
Sire mendesah lagi. Pikirannya seperti terbelah dua. Bermusuhan. Namun ia tidak bisa membedakan mana harapan dan realita. Reski, kakak angkatan di kampus, melamar Sire jauh hari sebelum Rei. Sebelum Rei melamar? Apakah itu bisa dikatakan lamaran?
“ Tapi aku  mau Rei,” bisik Sire. Lail hanya memandang sedih. Memandang pada mata mengkilap yang tersembunyi. Tetap rasa itu tak teraba.
Kalimat yang berulang kali mengusik hati Sire. Tapi aku hanya mau Rei.
Sire dan Rei, dua sejoli yang saling kenal sejak SMA. Teman sekelas selama tiga tahun. Masih dalam satu fakultas namun berbeda jurusan di sebuah universitas impian mereka, janji kuliah di kampus yang sama. Saat SMA mereka berlima, dengan tiga teman yang masing-masing berpencar di universitas berbeda. Hanya mereka berdua. Sifat bertolak belakang, sering berdebat dan bertengkar, namun janji-janji dan impian terwujud bagai sifat enzim Lock and Key, melengkapi. Sire yang ramah dan cerewet sangat berbeda dengan sisi Rei yang cuek dan pendiam. Sire selalu terbuka, namun Rei jarang berbagi tentang cerita hidupnya. Hanya ada satu hal yang tertutup dalam diri Sire, tentang perasaannya, tak teraba. Dan hanya satu hal yang terbuka dari Rei, ia selalu mengatakan, “ Aku hanya ingin mencintai satu cewek, dan hanya ingin menikah dengannya.”
Sire suka melukis, menggambar kartun dan animasi. Sedangkan Rei ahli bidang IT dan desain. Semua karya tangan Sire, Rei-lah yang membuatnya dalam bentuk digital. Impian terbesar mereka, hendak duet menulis dongeng modern dengan gambar animasi yang menarik.
Kini keduanya berjauhan. Mereka sudah lulus, sedang berusaha mencari pekerjaan. Namun tidak ada lagi saling kontak. Tidak ada lagi yang mengingatkan tentang janji impian terbesar mereka.
Satu bulan berlalu, Sire masih menggantungkan Reski. Dan Rei? Tak ada yang tahu, setiap hari ia menulis surat untuk Sire. Surat tak tersampaikan. Surat yang selalu terbuang di keranjang sampah kamarnya. Surat lamaran. Pengakuan diri Rei. Setiap hari menulis kalimat yang dirasa akan disukai Sire. Namun ia selalu merasa gagal menulis kalimat romantis, dibuanglah surat itu. Malam selanjutnya selalu begitu. Dengan segenap kekuatan menahan kepasrahan hati. Karena sejak dulu ia tahu, Sire sudah dilamar Reski.
***
Langkah Sire terhenti. Ia ragu. Sebenarnya ia ingin memulai hubungan baik, dia hanya ingin Rei. Kali ini ia melihat Rei ada di dalam toko emas. Tangan Sire memegang sebuah map berisi berkas lamaran pekerjaan. Sudah seharian ia berjalan menyusuri kota, masuk ke kantor berbeda-beda. Sire berdiri dengan sabar di samping tiang lampu jalan.
Matanya sedikit membulat. “ Tunggu. Kenapa Rei ada di toko emas ya?” Kepalanya menoleh, melihat jemari Rei yang menautkan sebuah cincin di jemari lain miliknya.
Rupanya mata awas Rei menangkap sosok Sire yang sedang mengamatinya. Ia segera menyelesaikan transaksi dan keluar menemui Sire, masih dengan wajah datar.
Sire terkesiap, memaksa senyum ramah, seakan tidak pernah terjadi hari buruk itu. “ Hai Rei, kebetulan tadi aku lewat sini terus liat kamu ada di dalam. Yaudah, aku tungguin aja. Apa kabar?”
Rei masih datar. “ Baik. Kamu?”
“ Aku capek banget. Nih masih muter-muter masukin berkas. Kamu nggak mau traktir aku minum es gitu, panas banget nih. Ayolah, kita kan lama nggak berjumpa. Traktir aku ya!” seru Sire, menggoyangkan lengan cowok itu, seperti anak kecil yang menarik-narik baju ayahnya ketika meminta sesuatu.
Akhirnya Rei mengangguk, berjalan mendahului Sire menuju seberang jalan. Sebuah warung kecil es kelapa muda.
“ Kemarin udah wawancara.”
Rei selalu menjawab singkat rentetan pertanyaan Sire. Sudah biasa. Selalu begitu. Hingga tidak ada yang bisa membedakan bagaimana ekspresi Rei saat bahagia, sedih, kecewa, malu. Ekspresi wajahnya selalu sama, datar. Ia seperti tubuh di balik dinding tebal, tak terlihat dan tak teraba, hanya terdengar.
“ Doakan aku ya Rei, diterima di perusahaan itu. Aku pasti doain kamu kok. Apalagi kantor tempat kamu melamar itu sesuai banget sama passion kamu, yang jago desain sama komputer gitu. Aku dukung kamu banget,” kata Sire sambil sesekali menyeruput air kelapa. “ Oh iya, tadi kamu ngapain ke toko emas itu, Rei?”
“ Beli cincin.”
“ Cincin apa?”
“ Pernikahan.”
“ Ooh, tapi kok…, maksudnya siapa yang mau nikah?”
Tenggorokan Rei sakit meski sekedar mengulum air kelapa. Tidak tega. Tapi harus. “ Aku sudah menemukan seseorang yang baik untukku.”
Mematung. Sire berharap ada kalimat lanjutan, bahwa seseorang yang baik itu adalah dirinya. Berharap kali ini Rei sungguh melamar dirinya. Beberapa menit terdiam.
“ Maksudnya siapa orang itu?” tanya Sire, memancing.
“ Aku suka jika undangan pernikahanku tulisannya R&R.” Napas Sire tercekat dengan kalimat itu. Jelas bukan dirinya. “ Namanya Rima, teman adikku. Dia baik, cantik, ceria dan cerewet kayak kamu.”
Kali ini napas Sire terhenti, beberapa saat. Wajahnya menunduk, sebutir air mata membekas di kain roknya. Rei tidak tahu.
“ Tapi kalo undangan pernikahanmu tulisannya R&S juga bagus kok, Reski dan Sire. Aku bisa bantu desain undanganmu.”
Suara datar itu, semakin menyakitkan. Menyakitkan untuk keduanya.
Sire menangkupkan hp di telinganya.  “ Iya, Pak? Iya benar. Alhamdulillah, jadi saya diterima? Sekarang harus ke sana, Pak? Lima menit? Baik, saya segera ke sana. Rei maaf aku ada panggilan kerja awal. Dah. Iya Pak sebentar.”
Tanpa memandang mata berkaca milik Rei, gadis itu segera berlalu. Rei tahu, amat sangat tahu. Hp itu, tidak ada suara apapun di seberang. Sire bermain drama.
Memang benar. Sire berlari. Menangkupkan tangannya pada bibirnya. Terpecah sudah tangisan histerinya di pinggir jembatan. Di trotoar jalan untuk kendaraan berkecepatan tinggi. Tidak ada yang menggubrisnya. Terisak sendiri semakin dalam.
Sementara Rei melaju di atas motornya tanpa fokus pada jalan. Maskernya basah. Tanpa terisak. Ima, adiknya, sudah menunggu di depan pintu rumah dengan wajah tersenyum bahagia, menyambut.
Setelah turun dari motor tanpa melepas masker, Rei merogoh saku celananya.
“ Beneran sudah pas kan sama jari mas Rei? Yah semoga aja pas juga di jari calon suamiku. Doakan ya Mas,” kata Ima ceria.
“ Pasti. Dia laki-laki yang baik. Semangat!” seru Rei, lalu berlalu, meninggalkan ekspresi curiga di wajah adiknya.
“ Mas Rei kenapa? Kok matanya merah?”
“ Kena debu.”
***
Kakinya tertatih berjalan menuju ruang itu. Ekspresinya sudah ia kendalikan. Masih ada sembab di matanya, tapi ekspresi wajah ceria bisa menutupinya. Seorang perempuan cantik dan anggun menyambutnya.
“ Eh mbak Sire, apa kabar? Mau ketemu pak Reski ya?”
“ Iya, Mas Reski ada di ruangan kan? Apa dia lagi sibuk?”
“ Ah, sesibuk apapun pak Reski dia pasti mau meluangkan waktu buat tamu spesial seperti Mbak. Mari, saya antar.”
Sire mengikuti sekretaris itu, masuk ke sebuah ruangan besar.
“ Permisi, Pak Reski, ada tamu spesial.”
Laki-laki itu memutar kursinya. Segera berdiri begitu melihat Sire, membenahi letak kaca matanya. Sire tersenyum lebar. Kini hanya mereka berdua setelah sekretaris itu pergi. Sire memandang lekat. Laki-laki cerdas saat kuliah dulu, selalu aktif di organisasi manapun, berpikir kritis dan selalu ramah, hari itu mengajak Sire bertemu dan mengungkapkan lamaran dengan santun. Sire telah membuatnya menunggu lama. Ketika Reski sudah wisuda dan langsung mengutarakan perasaan, Sire menolak dengan alasan ingin fokus kuliah. Dan ketika Sire sudah wisuda, ia menggantungkan cukup lama.
Sire masih tersenyum lebar, menunjukkan punggung tangan kirinya. Di jari manisnya tersangkut sebuah cincin. Cincin pemberian Reski.
Reski tersenyum bahagia, mengusap wajahnya yang memerah. Keduanya berpelukan.
Selesai

Jangan lupa juga, beli bukunya yaa..