Label

Sabtu, 05 April 2014

Apa Adanya



 APA ADANYA
(Alya Nur Fadhilah)

“Haloo, Pak Direktur sudah makan?”

            Suara itu, segera membuatku menoleh dan tersenyum. Gadis berkulit putih, mata bulat, hidung pesek, dan perawakan sedang.

***

“Misalkan Anda di bagian customer service. Tamu complain karena seprai dan selimut bau,  ada bercak kotoran dari tamu sebelumnya. Bagaimana cara meyakinkan agar mereka percaya bahwa segala fasilitas kamar sudah dibersihkan dan diganti?”

            Keningku berkerut menatap tiga wajah laki-laki berjas di seberang meja. “Maaf, memangnya seprai dan selimut tidak pernah diganti?”

            “Hey, kau jawab saja pertanyaan. Urusan itu sudah diatur berapa bulan sekali harus mencuci dan mengganti fasilitas kamar.” Jari salah satu juri menudingku.

            “Sebagai pegawai hotel bintang lima yang jujur saya akan menjawab, ‘Maafkan keteledoran kami. Kami akan segera mengganti seluruh fasilitas di kamar Anda.’”

***

            “Bagaimana Anda meyakinkan pelanggan bahwa sofa ini, bahannya adalah busa impor dan memiliki pengaruh kesehatan karena sirkulasi udara yang sudah diatur.”

            Aku manggut-manggut sambil berpikir. “Kalau begitu saya harus tahu dulu, busa impor itu memiliki tipe apa, proses pembuatan dan pengaturan sirkulasi udara, sampai proses pembuatan busa itu sendiri apakah melalui tahap sterilisasi dan sebagainya.”

            “Kenapa malah balik tanya? Aku suruh kau merangkai kata-kata supaya pembeli percaya ini sofa bagus makanya mahal!” Laki-laki berambut keriting duduk di sofa itu. “Sarjana ekonomi harusnya tahu, bagaimana memperoleh keuntungan maksimal dengan modal minimal.”

            “Maaf, ilmu ekonomi juga mengajarkan tentang kejujuran. Saya akan mengatakan jenis sebenarnya sofa itu. Jika memang harus dikaitkan dengan kesehatan, saya bisa mengatakan bahwa busa yang empuk bisa memberikan kenyamanan dan mempengaruhi pikiran yang tenang. Atau…”

            “Stop! Saya bisa rugi punya pegawai sepertimu. Sofa seperti ini banyak, tapi masing-masing punya keunikan sendiri dalam pemasaran supaya menarik pembeli. Silakan cari pekerjaan lain!”

***

            “Jika kamu sebagai bagian pemasaran, bagaimana kalimat meyakinkan bahwa tahu bakso ini no-formalin dan no-boraks.”

            Aku menerima sepotong tahu bakso mentah dari uluran perempuan yang rambutnya mulai memutih. Mengamati subjek itu lekat dari balik kacamataku.

            “Bagaimana, Mas?”

            “Tahu ini, kenyal, sudah diproduksi beberapa hari lalu.”

            Wajah perempuan itu mulai memerah. “Saya tidak meminta Anda mengamati tahu!”

            “Maaf, saya tidak berbohong. Seharusnya jika memang produk Anda ingin mengalahkan produsen lain, gunakan cara yang inovatif dan berbeda dalam rasa atau harga, bukan komposisi bahan yang terlarang.”

            “Anda itu lulusan ekonomi, bukan ahli pangan. Sikap seperti ini, sudah berapa kali Anda ditolak?”

            Wajah sinis itu tidak mengubahku. “Mau ditolak seratus kali tidak akan mengubah prinsip saya. Bisnis itu bukan tentang penipuan, tapi strategi. Anda seharusnya sekolah di ekonomi dan bisnis dulu sebelum membuka usaha. Permisi.”

            “Lancang!”

***

            “Kamu maunya bagaimana? Sudah sembilan wawancara ditolak.” Ibu berkata tenang, badannya sudah kurus kering, bukti perjuangan membesarkan dua anak.

            “Dulu Ayah selalu memukulku jika aku berbohong. Sekarang memang tidak ada yang memukulku lagi. Tapi tetap pada prinsip, aku akan mendapatkan rejeki yang barokah dari kejujuran.”

            Ibu mengangguk. “Jika itu prinsip, tetap peganglah. Pasti ada pekerjaan baik untukmu.”

            “Maafkan Zikri, Bu. Zikri tahu dua bulan lagi Ilma harus daftar kuliah.”

            “Tenang, Ibu masih punya tabungan untuk kuliah Ilma.”

***

            Laki-laki itu melempar map. “Saya tidak butuh nilai, IPK, prestasi akademik. Semua pegawai keuangan di sini IPK cumloude, lulus sangat memuaskan, tapi…,” katanya sambil menggelengkan kepala. Suaranya sudah serak dan lemah. “Yakinkan saya bahwa kamu orang jujur.”

            “Saya ditolak sembilan kali sebelumnya, karena selalu mengatakan apa adanya tentang kasus yang mereka berikan. Dan putus dengan pacar pertama bernama Zia, karna saya jujur mengatakan Laili – sahabat sejak kecil, jauh lebih cantik daripada Zia. Dia mengira saya menyukai Laili, dan tidak percaya bahwa saya mencintainya apa adanya.”

            Aku tersenyum melihat anggukan laki-laki itu, setelah mendengarkan kisah panjang dariku.

            Di sanalah semua bermula. Aku hanya ingin mencari rejeki barokah. Tahun pertama hanya 1juta/bulan di staf keuangan bank lokal itu. Direktur keuangan dipecat dan aku gantikan hingga kini.

            “Haloo, Pak Direktur sudah makan?”

            Aku tersenyum. “Jika aku sudah jadi suamimu, apa kau akan tetap memanggilku ‘pak direktur’?”

            Zia tersenyum. “Ini nasi goreng. Beri komentar ya.”

            “Dulu keasinan, sekarang tidak ada rasanya.”

            Zia cemberut sebentar. “Aku akan berusaha belajar masak lagi, jadi istri yang baik.”

            Kami berdua tersenyum. Dia menerima kejujuranku.

Tunggu ya terbitan bukunya..., ^_^