Label

Selasa, 18 Maret 2014

HAL-HAL PERTAMA DALAM HIDUPKU

Sabtu, 15 Maret kemarin, aku mengikuti rangkaian acara Diklatsar (Pendidikan dan Pelatihan Dasar) Pertolongan Pertama oleh Unit Kesehatan Mahasiswa UGM (Ukesma UGM). Rangkaian acara terakhir adalah Simulasi, yang dilaksanakan hari sabtu dan ahad di sekitar wilayah UGM. Sesibuk apapun praktikum dan tugas, aku menyempatkan diri datang terlambat selama tiga jam, karena hari itu ada praktikum dari jam 8 sampai jam 3 siang. Setelah jam 3 aku baru sibuk mencari alat yang harus dibawa simulasi, mendadak emang karena tidak ada waktu lagi kemarin.

Ketika aku datang semua peserta masih checklist barang bawaan. Tidak boleh berangkt jika semua belum lengkap. Aku sempat ribet karena lupa dimana aku menaruh barang-barang kecil di tasku. Entahlah, semester dua ini seperti bukan diriku. Yang dulu biasanya selalu mempersiapkan segala sesuatu jauh hari, sekarang aku suka deadline (karena waktu yang selalu padat).

Rangkaian acaranya seru. Kami dibagi 16 kelompok, berdasarkan tinggi badan. Kami mulai berjalan membawa dragbar buatan kami dari gelanggang menuju fak.Teknik. Lumayan jauh. Menjelang magrib, barulah kami berjalan lagi dibagi shift menuju pos-pos. Untunglah kelompokku dapat shift , jadi tidak terlalu malam. Pos 1, kami diberi kasus dan harus mengingat. Suatu hari ada gempa bumi, pasien A cedera kaki kan fraktur tungkai bawah kanan, jantung sekian, tekanan darah sekian, GSS sekian....

Berjalan menuju pos selanjutnya, masih di Teknik, tiba-tiba terdengar suara sirine dan teriakan minta tolong. Para panitia bermain sandiwara seakan baru saja ada kejadian dan beberapa menjadi korban, kamilah penolong. Kami mengevakuasi salah satu korban yang termasuk triage merah (darurat). Setelah diberi pertolongan pertama, kami membawanya dengan dragbar menelusuri marker yang dibuat panitia. Inilah saat tersulit.

Kami berjumlah sembilan orang, membawa satu korban. Kami bergantian menjinjing dragbar di atas pundak, bera tauu. Apalagi medan yang kami lalui sangat sulit, berasa mengevakuasi korban beneran. Melewaati tangga-tangga sempit dari teknik menuju sungai Code - sungai di belakang fak.Teknik. Itulah pertama kalinya dalam hidupku. Malam-malam menelusuri jalan setapak di pinggir sungai, membawa senter dan beban berat di pundak, mencari-cari penunjuk jalan, sesekali tertarik rumput-rumput yang tinggi. Tak ada suara apapun selain aliran sungai. Langit kosong waktu itu, hanya bulan purnama yang agak keruh karena awan.

jalan setapak yang amat sangat panjang berhasil kami lalui, sesekali menanjak. Kami tiba di Teknik Fisika, dan bertemu pos selanjutnya. Setelah itu kami harus bisa melewati pagar di teknik fisika yang erbatasan langsung di jalan menuju sardjito. Pagar setinggi kepalaku, dengan uung runcing. Itula pertama kalinya aku memajat pagar, melewati tembok di pinggir pagar, kemudian loncat. Dari seberang menangkap dragbar yang diulurkan temanku. Ketika memanjat pagar itulah aku teringat novel Notasi, kisah nyata (katanya) anak Teknik Elektro UGM dan FKG UGM. Nino (Tek.Elektro) berkata pada Nalia (FKG) setelah memanjat pagar di ujung jalan yang membatasi FK dan FKG., " Cewek. Calon dokter gigi lagi. Manjat pagar. Hh."
Lucu juga.

Masih ada banyak rintangan panjang, jalan setapak, mengarungi beberapa fakultas UGM, melelahkan dan hari semakin malam. Kemarin malam aku tidak tidur, dan malam ini tidak tidur lagi. Berakhir di Fakultas Biologi, evakuasi berakhir. Kami berjalan sejenak sampai jalan kaliurang. Di pos selanjutnya seakan ada telepon bahwa ada korban di gunung Balairung. Kami bergegas berlari, menyeberang jalan, terengah-engah.

Rupanya yang menjadi korban masih orang yang sama, hanya berbeda keluhan. Setelah memberikan penanganan pertolongan pertama, kami harus meloncat pagar besi berkarat menuju hutan milik Fak.Kehutanan. Inilah pertama kalinya aku mengarungi hutan di tengah malam. Hutan yang tanahnya lembek, banyak nyamuk, ranting-ranting tajam yang bisa melukai siapapun, bahkan ada rintangan pohon besar yang melintang di depan jalan kami. Otomatis kami harus melompati pohon itu. Agak susah.

Masih membawa korban, kami masih berjalan panjang, melewati rintangan buatan panitia, seperti ranjau yang tidak boleh kami lalui. Kami harus klesotan di tanah dan bagaimana caranya agar tidak menyentuh ranjau itu.

Berjalan lebih lama lagi, lelah, ngantuk, sampailah kami di Fak. Perikanan. Kami berhenti di antara kolam-kolam, agak susah mensejajarkan langkah kami. Rintangan selanjutna, turun melewati parit tajam menuju sungai dan gorong-gorong di bawah jalan. Dengan amat sangat hai-hati dan dipantau panitia di pos itu, kami menuruni parit sungai yang sempit dan licin. Berusaha sebisa mungkin ketika membawa korban tidak terpeleset. Butuh waktu lama untuk turun. Selanjutnya menuju gorong-gorong gelap di bawah jalan yang lumayan panjang. Panitia berteriak mengingatkan agar tidak ada barang yang ketinggalan. Akhirnya aku berbalik naik ke atas untuk mengambil bidai yang ketinggalan, turun lagi ke parit, sementara kelompokku dan korban sudah di ujung gorong-gorong. Aku tidak membawa senter. Mengumpulkan segenap keberanian mengarungi aliran air yang kotor itu, sebenarnya takut jika di dinding gorong-gorong ada hewan-hewan berbahaya - kayak di film-film itu. Untungnya seorang panitia berbaik hati menyinari dengan senternya dari ujung gorong-gorong. Aku lebih tenang. Dan itulah pertama kalinya melewati jalan itu.

Berjalan di jalan setapak lagi, di sepanjang bendungan di lembah UGM. Entah apa nama bendungan kecil itu. Ada rintangan lagi. Kami harus membawa korban ke seberang bendungan dengan satu gethek berukuran sedang. Gethek itu hanya boleh dimuati dua orang, tidak boleh bolak-balik. Panitia memberi kami semua bau pelampung. Aku menelan ludah berkali-kali. Aku tidak bisa berenang. Dan harus mengapung di air kotor itu, malam-malam lagi, dingin. Dua orang temanku sudah terjun untuk menahan gethek. Panitia mulai berteriak karena kami tidak segera mengambil tindakan. Agak susah memikirkan bagaimana caranya memindahkan korban dengan drabarnya ke gethek, supaya gethek tidak miring. Aku mengumpulkan keberanian lagi, mengeratkan tali pelampung, dan nyemplung pelan-pelan ke air. Kakiku tidak mampu menyentuh dasar, ya iyalaah. Sambil membantu mengangkat dragbar + korban dari tempatku berada, dan kami berhasil. Seorang temanku, korban, dan tas kami di atas gethek. Aku sudah mulai sesak bahkan sebelum berjuang menggerakkan gethek. Dingin. Sejujurnya aku takut tenggelam. Tapi jika teman-temanku bisa, kenapa aku nggak? Kami berjuang menggerakkan gethek itu, aku berusaha semampuku menggerkkan kakiku, yang mungkin hanya membantu sedikit. Sesak, dadaku di bawah air. Itulah pertama kalinya aku berenang dengan dasar yang tidak bisa diraih kakiku, malam-malam pula, sekitar jam 1 malam.

Kami kembali melewati jalan di sekitar fakultas,  dengan tubuh menggigil kedinginan. Jaket kami digunakan untuk alas korban pada dragbar. Tibalah di pos yang mengharuskan kami memasukkan korban ke ambulance. Kami dan korban menuju rumah sakit Sardito dengan ambulance itu Turun di depan gerbang Rumah Sakit, semua orang yang sedang makan di warung menoleh heran. Malam-malam, ada ambulance tanpa sirine membawa nak-anak basah kuyup dan kotor. Inilah tempat evakuasi korban terakhir. Kupikir semua telah berakhir, rupanya belum.

Satu per satu dari kai disuruh berjalan menuju ujung rumah sakit dan diarahkan untuk berbelok ke suatu bangunan gelap. Seorang penitia di depan pintu menyuruhku masuk ke sebuah ruangan. Deg. Ruangan bertuliskan Ruang Perawatan Jenazah. Sedih, kenapa harus ada acara beginian. Aku takut, iya takut. Berkali-kali mengeluh pada panitia.
" Nggak mau, Mbak. Di sana pasti ada jenazahnya," kataku, pengen banget rasanya lari.
" Nggak dek, nggak ada apa-apa. Kalopun ada nggak ngapa-ngapain. Kamu tinggal masuk, di ujung ruangan ada lilin. Di deket lilin ada kertas presensi kamu tanda tangan,terus isi checklist kegiatan kamu malam ini. Habis itu keluar bawa checklistnya. Itu aja kok, nggak lama."
" Nggak mau mbak. Kalo gitu sama Mbak masuknya."
" Tadi temen-temenmu pada berani."
Dalam hatiku. Ya iyalah, dua kelompok sebelum kelompoku kan semuanya laki-laki. Dan yang pertama disuruh masuk di kelompoku adalah aku. Tapi dalam hatiku berpikir juga, jika mereka bisa, kenapa aku harus takut. Emang sih sudah praktikum Anatomi, tapi kadafernya dalam bentuk tulang-tulang aja. Nggak jasad utuh. Kalo cuma tulang sih aku nggak takut. Tapi di ruang ini pasti jenazah baru. Aku maih mencari alasan.
" Mbak liat deh aku basah dan kotor, sepatuku banyak tanah. Kalo aku masuk, bikin kotor ruangan itu, trus mereka marah gimana mbak?"
" Tadi temen-temenmu juga pada basah, nggak papa,Dhek."
" Mbak, tapi aku kedinginan. Pasti di dalam lebih dingin lagi," kataku, ngeles.
" Cuma bentar aja kok."
Seorang bapak-bapak yang sepertinya penjaga ruangan itu mendekatiku. " Nggak papa, masuk aja. Nggak ada apa-apa kok."
" Kalo ada apa-apa, siapa yang bertanggungjawab?" tanyaku.
" Nggak papa, kau yakin aja. Kamu tinggal tanda tangan sama centang. Habis itu ketuk pintu ini, ntar aku bukain dari luar. Janji deh aku di sini, nggak bakal ninggalin kamu."

Panitia itu membuka pintu, aroma formalin yang memuakkan mulai terhirup. Terlihat tiga kasur, dua diantaranya terbaring jenazah ditutup kain. Dan ranjang di tengah kosong. Aku masuk. Di sebelah ruangan ada ruangan berkaca yang didalamnya terdapat lemari box-box berwarna oranye. Pasti itu tempat penyimpanan jenazah. Aku berlari menuju ujung ruangan, memilih tumpukan bolpoin di sampingnya. Macet. Ambil lagi, macet. Ingin aku berteriak kesal, tapi takut menganggu jenazah itu. Dapat bolpoin hidup segera centang checklist harian malam ini, tanpa pikir panjang yang penting segera keluar. Telingaku selalu awas, jika ada langkah di belakangku. Mataku lebih awas lagi, jika ada bayangan sesuatu. Selanjutnya mencari namaku di daftar presensi. Ternyata tidak urut abjad. Aku mencari tulisan fakultas Kedokteran Gigi, tidak ada namaku. Tiga kali membalik tumpukan kertas itu, tidak ada namaku!  Sementara aku sudah semain takut.

Aku berlari menuju pintu sambil membawa kertas itu, mengetuk pintu. Dan panitia membukakan pintu. " Mbak,namaku nggak ada!
" Ada, Dek. Seua pesrta ada di situ."
" Tapi liat deh mbak, yang Kedokteran Gigi nggak ada namaku. Adanya cuma nama temen-temenku aja."
' Ada kok dek, masuk lagi, dicek di dalam."
Tiba-tiba mataku menangkap tulisan KG, atas nama temanku. Ah, barangkali punyaku senagaja disingkat KG.

Aku masuk kembali sambil berlari, semakin dingin. Bolak-balik kertas lagi, sulit menemukan namaku. Akhirnya ketemu. Berdiri, berlari lagi menuju pintu keluar. Haduh, semoga aja suara sepatuku yang berlari tidak mengganggu mereka.

" Sudah, kan? Ada namamu? Mana checklistnya? Kan tadi suruh bawa."
" Mbak, lupa! Ahhh, nggak mau, Mbak. Aku takut."
" Nggak papa, cuma ambil aja."

Aku masuk berlari lagi, sama aja masuk tiga kali. Ah, ini gara-gara aku panik! Ngambil kertas dari tumpukan aja susah, kesangkut kertas di bawahnya mulu. " Ya Allah, tolong aku!"  Balik, berlari lagi melewati ranjang jenazah. Akhirnya berhasil. Itulah pertama kalinya lagi, masuk ke ruang jenazah sendiri.

Kami berjalan dari Sadjito menuju Gelanggang. Sampai di Gelanggang jam 2, segera mandi dan sempat tidur. Untungdapat shift tiga, jadi bisa tidur. Shift terakhir aja jam enam pagi baru pulang, mereka nggak ada waktu tidur. Pertama kalinya juga di gelanggang Mahasiswa UGM malam hari. Meliha aktivitas anak-anak organisatoris. Sekre-sekre organisasi masih dipenuhi oran. Bahkan anak pancak silat masih latihan, beberapa tidur di lapangan sambiil menutup mata - untuk melatih tenaga dalam katanya. Mereka hebat.

Itulah kisahku. Semoga bermanfaat..



Sabtu, 08 Maret 2014

Bintang Tak Berkedip

Setiap shubuh, aku selalu menatap langit. tidak peduli apa yang terinjak dalam langkahku, karena kepala ini menengadah ke atas sana. Apa yang kulihat?

Bintang Tak Berkedip.

langit seluas itu, hanya ada satu bintang itu di waktu shubuh. Besar. Puth terang. Tenang. Entah kenapa semua orang menganggapnya bintang, mereka menyebutnya bintang kejora. Padahal kata guru SDku, itu adalah planet Venus. Disebut juga bintang fajar, karena selalu muncul di setiap fajar. Tidak berkedip, karema itu bukan bintang. Dan cahaya itu, bukan miliknya sendiri, melainkan hanya pantulan sinar matahari.

Ada banyak hal yang kupikirkan. Dia hanya benda mati, memancarkan cahaya seperti yang dilakukan bintang pun tidak bisa. Tapi, kenyataannya dia jauh lebih indah, lebih besar, lebih terang. Kenapa? Karena dia memanfaatkan kekurangan itu mencari kelebihannya. Jika memang tidak bisa memancarkan cahaya, apakah lantas dia akan bersembunyi, jauh tak terlihat? Itu hanyalah orang-orang yang pasrah sebelum berusaha.

Minggu, 02 Maret 2014

Cinta di Al-A'raf (Flash Fiction)



Cinta di Al-A’raf
(Alya Nur Fadhilah)

“Kenapa dulu aku mati, Tuhan?”
            Aku mendesah kecewa. Dari tempatku berpijak, ruang tak tertulis dalam bahasa manusia, mengamati pasangan putih abu-abu di taman. Agak jauh pasangan lain mengaitkan jemari. Lain halnya sekumpulan orang di clubbing.
            “Aku ingin seperti mereka.”
            Suara gaib itu menyanggah. “Bersyukurlah Tuhan segera memanggilmu, sebelum kau menanggung dosa sendiri.”
            “Heh, apa maksudmu?”
            “Kau beruntung tidak ada kesempatan mendosa, seperti yang kau lihat kini. Juga, sebelum menambah penderitaan orangtuamu.”
            Aku menunduk lesu. Ibuku…
***
            “Durhaka kamu menendang Ibu!” Mata ibu melotot.
            “Ibu juga jahat tidak memberiku uang!” bantahku.
“Ibu bekerja keras dan kamu meminta uang untuk main PS? Mau jadi apa kamu besok, Nak, jika pekerjaanmu hanya bermain?”
***
“Apa kau ingat masa SMPmu? Apa kau ingat doa ibumu?” Suara antah berantah itu lagi.
“Radja, sekarang kamu sudah baligh. Sholatlah, Nak!”
“Ibu berisik! Aku masih punya umur panjang. Sholat itu buat orang yang mau mati, segera taubat.”
“Astagfirullah…. Ibu tidak pernah mengajarkan begitu,” suara ibu, serak.
“Aku masih bisa hidup bahagia tanpa sholat. Aku titip doa ya, Bu.” Mataku tak pernah beralih dari layar hp.
“Ibu selalu berdoa semoga kau jadi anak sholeh. Dan memudahkan pertanggungjawaban Ibu di akherat.” Suara semakin serak.
“Amin.”
“Meski kau tak mengamini sungguh-sungguh, tapi ibumu berdoa tulus dan memohon. Allah yang mencintai hambaNya, pasti mengabulkan.”
Aku terdiam sejenak. “Apa ibu juga berdoa supaya aku segera mati?”
“Ibu mana yang begitu jahat? Cobalah ingat sendiri.”
***
“Ibu, pacarku minta boneka untuk kado ulang tahun.”
Ibu hanya memandangku heran.
“Kali ini Ibu harus memberiku uang.” Aku menggebrak meja.
“ Tidak bisakah kamu menghargai ibumu lebih dari penghargaanmu pada pacarmu? Surgamu ada di sini.”
Aku mengibaskan tangan, melangkah pergi.
“Radja, Ibu slalu berdoa Allah merahmatimu dan menuntunmu ke surga, meski tanpa melalui kakiku.”
***
“Doa itu tulus, Radja. Allah mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh. Rahmat Allah, kasih sayang, dan cintaNya, untuk semua hambaNya.”
Aku menggeleng.
“Cinta Tuhan tidak bisa disamakan dengan konsep cinta manusia. Jika kesetiaan cinta manusia hanya untuk satu, Tuhan untuk semua. Jika cinta manusia kadang tidak bisa memiliki, Tuhan bisa memiliki apapun, mutlak. Jika cinta manusia ibarat kuku yang sering dipotong dan berganti, ukuran cinta Tuhan bukan di bumi ini.”
Aku sedikit luluh.
“Kau ingat, ketika kau berusaha menolong kucing tergeletak di tengah jalan dan truk menabrakmu, itulah bentuk cintaNya. Dunia tidak baik untukmu, semakin kau lama hidup, semakin banyak dosa. Kucing itu menghapus dosamu, atas kehendakNya. Tidak ada yang bisa menghindar dari panggilan kerinduanNya.”
“Lalu tempat ini? Apakah surga?”
“Bukan. Ini al-a’raf. Antara surga dan neraka. Balaslah kerinduan Tuhanmu dengan rindumu, kau akan bertemu  denganNya, di surga. Juga ibumu.”

#Temui juga tulisanku lain di bukunya...