Label

Senin, 17 Februari 2014

DPA-ku Sang Profesor

Based on true story. Its about my friends.
Dengan sedikit perubahan nama, setting, dan gaya bahasa.
Semoga bermanfaat dan menginspirasi.



DPAku Sang Profesor!

Sepasang kelopak mataku menyipit, tetap fokus pada untaian jalan yang mengular panjang di depanku. Rupanya kaca mata pelindung mata plus dilapisi kaca helm tidak terlalu berguna mencegah abu masuk ke mata.
Kota berwarna abu-abu, dikelabuhi udara panas dan kering di sekeliling. Dari hidung sampai dagu terasa pengap karena ikatan maskerku yang terlalu kuat, unuk mencegah abu merosot ke sela yang berlubang antara wajahku and masker. Jas hujan  yang kukenakan menjadi warna apek, kusam.
Pagi tadi kota ini menerima tamu abu-abu dari gunung Kelud yang terbangun marah. Hari krs-an terakhir yang seharusnya jumat ini ditunda sampai senin besok, karena seluruh wilayah di kota ini dipenuhi kotoran berwarna abu-abu. Partikel berukuran mili itu bahaya bagi pernafasan jika bisa menembus masker. Penyebab iritasi mata karena partikelnya yang runcing.
Semua orang akan lebih memilih berada di dalam rumah kost karena keadaan kota yang seperti mati ini, kosong, berdebu, hanya sesekali mobil melintas dan langsung menyebabkan debu berhamburan di jalan – menutup jarak pandang. Sama seperti yang kulakukan seharian ini, hari pertama abu turun. Mengunci diri di dalam kamar, tanpa memberi celah sedikitpun bagi abu untuk masuk. Berjuang hanya memakan roti dan susu seharian. Aku lebih beruntung masih punya stok makanan di kost, banyak temanku yang kelaparan di dalam kost, atau bahkan rela menerjang abu demi mencari warung-warung makanan yang mau membuka pintu.
Tapi sialnya ada pada siang ini. Karena DPA (Dosen Pembimbing Akademik)ku cuti pada hari pertama krs – kamis, dan kami anak asuhnya sudah terlanjur janji di hari jumat ini. Kakak angkatan 2012 dan 2011 yang satu DPA denganku, meninggalkan kami dan tidak memberi info bahwa mereka hendak ke rumah DPA itu.
Aku dan Prabu, teman satu DPA yang kebetulan dari daerah yang sama, Jepara, ditinggal berdua. Hari jumat yang kelabu itu aku memaksakan diri mendatangi akademik di kampus, untuk bertanya alamat sang DPA, namun mereka hanya bisa memberi nomor hp. Kami merasa takut untuk menghubungi professor yang satu itu, takut membuat kesalahan. Akhirnya kami putuskan bertanya pada mbak Nina tentang alamat sang profesor. Sambil menunggu balasan smsnya, kami juga segera sms sang profesor bahwa kami akan ke rumahnya untuk meminta tanda tangan krs. Sekitar jam 12 kami mendapat balasan sang profesor, “Saya di rumah sekarang.”
Parahnya kami belum juga mendapat balasan dari mbak Nina, karena ternyata dia sedang ada rapat BEM. Barulah setengah dua siang balasan itu ada  tentang alamat DPA. Prabu yang selalu sms DPA, dengan kalimat yang aku diktekan, tentunya dengan pemikiran lama memilih kata mana yang sopan dan mana yang tidak, apalagi untuk ukuran dosen bertitel profesor. Namun balasan DPA membuat kecewa kami.
“ Kan tadi saya udah kasih waktu sampai jam 12, kalian kenapa baru sekarang?”
Akhirnya kami memutuskan menerjang abu sampai ke Seturan. Sesekali aku menepi apabila ada mobil atau truk meintas, karena kehadiran mereka menyebabkan debu mengepul ke atas, menyelimuti seluruh udara di sekitarnya. Jika seperti itu aku tidak bisa melihat apapun lagi karena tertutup debu.
Prabu melesat di depanku. Bagai kota mati. Semua warung di sepanjang jalan tutup, tak ada seorang pun di jalan selain kendaraan tertutup. Belum lagi jika kami harus berputar mencari alamat itu. Berkali-kali mencoba menemukan orang untuk ditanyai dimana alamat itu berada. Setelah cukup lama kami bolak-balik menyusuri jalan, akhirnya tampak rumah besar berwarna putih bernomor 16, sesuai alamat.  Di gerbangnya tertulis “ Dilarang parkir di sini.” Kami memarkirkan motor agak jauh dari pintu gerbang.
Aku tertawa saat Prabu melepas kacamatanya. Bulu matanya memutih karena abu. Rupanya kacamata pelindung itu tidak terlalu efektif. Aku membuka hp dan menemukan sms sang DPA, “ Besok saja kesini. Ini masih banyak abu di jalan, bahaya.”
Aku mendesah menunjukkan sms itu ke Prabu.
“ Terus gimana nih?” tanya Prabu, suaranya terdengar samar-samar, seakan gelombang bunyi terhambat oleh masker.
“ Ya ampun, kita udah dibela-belain sejauh ini.”
“ Apa kita masuk aja? Ntar bilang aja kita udah terlanjur di dekat rumahnya.”
Aku mengangguk lesu. Setelah berkali-kali memencet bel, terbukalah pintu garasi dan seorang perempuan berdaster dan bermasker keluar membawa payung.
“ Dokter Ami ada, Mbak?” tanyaku, sedikit berteriak supaya terdengar jelas meskipun memakai masker.
“ Sudah membuat janji?”
“ Udah belum ya, Prabu?” tanyaku bingung, karena profesor itu tidak menjawab dengan pasti.
“ Udah kok, Mbak,” sahut Prabu.
Perempuan itu membuka gerbang dan menuntun kami masuk ke garasi mobil. Aku dan Prabu segera melepas jas hujan. Sambil berjalan masuk ke dalam rumah aku membuka masker. Rumah yang besar itu kental dengan ukiran-ukiran jawa. Taman di depan rumah bergaya rumah bali, ada sebuah kolam dan pendopo.
Kami dituntun masuk ke ruang makan, dan menunggu beberapa saat perempuan itu memanggil majikannya. Hingga akhirnya wanita bermasker dan memakai tongkat berjalan ke arah kami. Wanita itu masih terlihat muda, baru kali ini aku melihatnya memakai tongkat.
“ Maaf, Dok, tadi saat saya baca sms Dokter, kami sudah sampai di depan rumah Dokter,” kataku selembut dan sesopan mungkin.
“ Kalian kenapa baru sekarang? Tadi yang lainnya sudah datang jam 11 kalian kemana? Saya kan sudah bilang tadi, saya hanya menerima sampai jam 12 saja. Kalau begini caranya kalian mengganggu waktu istirahat saya! Kalian ndak tahu apa saya kemarin cuti karena sakit, ini jalan aja masih pake tongkat begini,” kata sang dosen, sambil mengangkat-angkat tongkatnya.
Kakiku gemetar, meyakinkan diri, tidak mungkin seorang profesor memukul mahasiswanya dengan tongkat.
“ Maaf, Dok, saya baru dapat alamat Dokter siang ini,” jawab Prabu.
“ Ndak ada inisiatif tanya di akademik ya? Kalo kalian tanya alamat saya di akademik pasti dikasih! Mereka punya datanya,” seru wanita itu.
Sedetik aku melirik matanya yang terbelalak, tanda orang marah. Setelah itu aku hanya menunduk, takut. Padahal tadi aku sudah ke bagian akademik fakultas, tapi mereka tidak mau memberi alamat. Aku mendesah di balik masker.
“ Kalian itu ndak punya sopan santun ya? Siapa yang dari tadi sms saya? Apa pantas mahasiswa sms dosen kok ya begini,” kata sang profesor sambil membuka blackberry, dan menghadapkan ke wajah kami berdua berkali-kali. “ Sms saya kok pake ‘Anda’! Kalian ndak tahu tata krama ya? Kata ‘anda’ itu buat sebaya, bukan buat orangtua!”
Aku menggigit bibir. Sungguh aku tidak tahu tentang sms itu. Selama ini memang Prabu yang sms dosen, tapi itu dengan kalimat yang aku dikte. Dan tentang sms itu aku sama sekali tidak tahu.
“ Siapa yang sms?”
“ Maaf, saya, Dok,” jawab Prabu.
“ Kamu ini orang mana?”
“ Jepara, Dok.”
“ Kamu?” tanya dosen padaku.
“ Jepara juga, Dok.”
“ Nah orang jawa lho padahal. Kalian itu orang jawa! Seharusnya tahu gimana unggah-ungguh sama orangtua. Sms dosen kok pake ‘anda’!” seru dokter Ami, kali ini amarahnya hanya tertuju pada Prabu.
“ Haduuh, Prabu, kenapa kamu sms begitu...,” batinku dalam hati.
“ Saya ndak bermaksud gila hormat. Meskipun saya juga sudah profesor, jabatannya sudah tinggi, tapi kamu juga sadar harus panggil apa, apalagi sama dosen sendiri!” seru beliau lagi. “ Apalagi kalian orang jawa, ndak peduli kamu ini pinter bahasa inggris, toeflmu 600, kalo orang jawa juga seharusnya tahu bahasa yang baik. Meskipun saya ini juga bisa bahasa inggris, pergi ke luar negeri berkali-kali, tapi saya juga tetap mengutamakan budaya jawa.”
“ Oh iya, kenapa selama ini aku panggil ‘dok’ ya? Harusnya ‘prof’,” batinku dalam hati,  lagi.
Aku mendengar Prabu meminta maaf berkali-kali begitu mendengar seruan itu.
Akhirnya profesor dokter Ami menandatangani krs kami berdua. Setelah itu aku menyerahkan logbook pada beliau untuk ditandatangani juga.
“ Ini apa maksudnya? Kok ndak ditulis krs?”
Ups, ternyata aku lupa menulis di buku logbook. Seharusnya sudah aku tulis sebelum ditandatangani. “ Maaf, Prof, saya lupa,” kataku.
Profesor itu melemparkan logbookku ke meja begitu saja. Sejujurnya aku sakit hati, kenapa harus dilempar segala. Padahal bisa diserahkan baik-baik. Aku segera memungut logbook dan menulis di kolom sebelum kuserahkan lagi pada beliau.
Selesai. Seusai berpamitan dan mengucapkan terimakasih, kami berbalik keluar. Kami berdua melewati depan dapur, terlihat wanita yang sudah sepuh sedang mencuci piring. Kami berlalu begitu saja, setelah mengangguk sebentar, karena tidak tahu siapa wanita paruh baya itu.
 Tiba-tiba sang profesor berseru lagi, “ Kalian masih ndak sopan sama orangtua ya! Lewat di depan ibu dosennya ndak salaman, ndak menyapa!”
Ups, salah lagi. Kami berdua segera mencium tangan wanita sepuh itu. Ternyata ibu profesor dokter Ami.
“ Ndak papa, Mbak, saya ini orangnya baik kok,” kata ibu itu, kubalas dengan senyuman.
“ Kalian sudah tahu kan kenapa dimarahi tadi?” tanya wanita itu lagi.
Aku mengangguk dan tersenyum.
“ Besok lagi jangan begitu. Kata ‘anda’ itu buat orang yang sebaya dengan kalian. Sekarang sudah mengerti, ya?”
Prabu mengucapkan satu kata yang tidak terdengar jelas olehku, karena dia masih memakai masker. Aku tidak memperhatikan apa yang diucapkannya barusan. Membuatku bingung ketika tiba-tiba wanita sepuh yang baik itu  mendadak marah.
“ Kamu ini ya, sama orangtua kok ngomong “ho’o”. Kamu ini orang jawa, kan? Ndak sopan begitu itu!”
Ingin rasanya aku menepuk jidatku sendiri. Bagaimana bisa Prabu mengucap kata “ho’o” pada orangtua. Dasar anak ini!
“ Kamu masih ndak sopan, ya! Sama ibu saya kok bilang begitu!”
Kembali Prabu kena semprot. Mungkin seluruh semprotan beberapa menit itu cukup membersihkan tubuhnya dari abu. Entahlah, bagaimana kalimat amarah profesor saat itu. Aku tidak habis pikir dengan Prabu.
Seruan profesor sudah selesai. Seusai mengucapkan terimakasih, kami berbalik. Ternyata, ups, salah lagi!
“ Ya ampun, di sini masih ada orangtua kalian mau pergi begitu saja. Orang jawa apa ndak tahu tho, kalau mau pergi pamitan dan bilang ‘pareng’ begitu. Kalian ini!”
Haduuh, aku jadi takut jika profesor tambah sakit gara-gara marah terus dengan kami.
Kami segera berbalik dan berkata, “ Pareng, Bu. Pareng, Prof.”
Selesai. Akhirnya benar-benar selesai. Kami keluar. Di depan motor aku langsung interogasi Prabu.
“ Sumpah, aku nggak bilang “ho’o”. Tadi aku bilang ‘iya’! Mungkin ibunya itu nggak denger, gara-gara aku pake masker. Tapi sumpah aku bilang ‘iya’ tadi,” jelas Prabu, berkali kali menunjukkan kedua jarinya – jari telunjuk dan jari tengah.
“ Terus kamu sms apa yang ‘anda’ itu?”
“ Habis dokternya itu nggak bales sms, aku sms ini nih.”
Aku membaca sms di hp Prabu yang tertulis, “ Lalu kapan kami akan menyerahkan krs kepada Anda?”
Aku mendesah, untuk kesekian kalinya. “ Kamu ini kok ya nggak sopan.”
“ Aku bingung.”
“ Kan aku udah bilang, jangan sms selain pake kalimat yang aku dikte. Kasihan kamu dimarahi terus.”
Kami segera memutar gas, beranjak dari tempat itu. Rumah besar itu, memang kental gaya jawa. Sudah jelas pemiliknya memang mengutamakan adat dan unggah-ungguh jawa pastinya.
Beberapa meter, aku ngerem mendadak, Prabu terkejut di belakangku.
“ Ya ampun, Prabu, krsnya lupa nggak dikasih ke dokternya,” kataku.
“ Krs apa?”
“ Itu kan ada tiga krs, seharusnya satunya buat dokumen DPA.”
“ Oh iya, terus gimana? Balik nih?”
“ Haduuh, takut aku.” Berpikir sejenak. “ Besok senin aja ya, kita taruh di mejanya kalo beliau masih cuti. Nggak mau aku balik ke rumah itu. Huuh, beruntung deh dokternya itu pake masker. Coba kalo nggak, aku nggak bisa tidur ntar gara-gara lihat wajahnya yang marah-marah terus,” kataku, sambil memperbaiki letak kaca mata.
Terdengar tawa Prabu. “ Udah, dibiasakan aja. Kita mau bertahun-tahun sama beliau lho, sampe lulus.”
Aku mendesah lagi. Melanjutkan perjalanan, menerjang abu, mengarungi lautan debu berwarna putih keabuan. Gersang. Kosong. Kota ini.
Semoga semua kejadian itu memberi kekuatan mental padaku. Suatu hari nanti bukan hanya aku dan Prabu yang menghadapi profesor itu. Tapi semua temanku, karena beliau akan mengajar di semester atas, saat kami bisa mencapai itu.
Rupanya belum selesai urusan dengan sang profesor.

Rabu, 12 Februari 2014

Salah Jodoh




            Aku memiliki adik perempuan tepat di bawahku, kelahiran 1999 dan saat ini masih kelas IX SMP. Setiap kita jalan bareng, selalu ada yang mengira dialah sang kakak dan aku adiknya. Yaah, tinggi badan kita memang hampir sama. Tapi itu tidak terlalu masalah jika aku dianggap adiknya, Barangkali aku terlihat lebih muda darinya (hehehe).
            Adikku punya seorang teman laki-laki satu SMP yang masih satu RT dengan kami, sebut saja dia Rohmat. Ibunya mengenal baik aku dan keluargaku. Setiap kali aku bertemu dengan ibunya, beliau selalu menyapaku dengan nama adikku. Aku sih cuek. Kebanyakan tetangga emang lebih banyak mengenal adikku daripada aku yang jarang keluar rumah, sejak dulu sibuk dengan urusan sekolah, bahkan sekarang kuliah jauh dari rumah.
            Setiap kali aku bertemu dengan ibu Rohmat dan kami punya waktu mengobrol, ibu itu selalu cerita tentang anak laki-lakinya itu, apa saja. Aku memang mengenal Rohmat, kita pernah satu TPA waktu kecil dulu. Tapi aku nggak paham kenapa ibunya itu sering cerita tentang Rohmat, yang menurutku sama sekali nggak penting buatku (hehehe). Tapi, kudengarkan saja semua cerita itu, tentang ranking-rangking Rohmat selama SMP ini, cerita Rohmat tentang guru-guru galak di SMP (kebetulan aku nyambung karna pernah sekolah di SMP itu dulu), bahkan pujian untuk Rohmat di depanku. Hingga saat itu sang ibu masih menganggapku sebagai Ma misalnya – adikku. Huft, perasaan wajah aku dan adikku beda, warna kulit kita beda, banyak hal berbeda secara fisik.
            Pernah suatu kali libur kuliah dan aku pulang ke solo. Saat kita bertemu, ibu itu tanya, “ Lhoh, Ma, libur tho?”
            “ Inggih,” jawabku sambil senyum.
            “ Kenapa? Masuk angin po?”
            “ Ndak, Bu.”
            Setelah itu kita berlalu, dan aku masih berpikir. Yang namanya liburan kuliah, kenapa harus nunggu masuk angin. Baru setelah itu aku sadar, ternyata aku dianggap adikku.
            Kata ummi, ibu itu juga sering cerita banyak tentang Rohmat kalo ketemu ummi. Bahkan dulu ibunya pernah datang ke rumah untuk menanyakan Rohmat yang sore itu belum pulang dari sekolah. Tanya, apa Rohmat maen sama Ma? Aku ejek habis-habisan adikku, sejauh apa kedekatan mereka. Ternyata adikku sama sekali nggak pernh berhubungan, nggak pernah sekelas, bicara pun tidak pernah dengannya. Dan soal ibunya, bahkan adikku mengaku jarang bertemu dengan ibunya. Kalaupun bertemu, nggak pernah menyapa seperti ibu itu menyapaku.
            “ Jangan-jangan dia itu sebenernya nggak kenal sama Ma asli. Yang terkenal cuma nama Ma aja, wajahnya nggak. Hmm, coba ibu itu tau wajah Ma yang asli, pasti nggak pernah dijodoh-jodohi sama anaknya,” kataku waKtu itu, bercanda.
            “ Yee, siapa juga yang mau sama si Rohmat,” balas adikku.
            “ Makanya, buruan liatin muka aslimu, biar ibunya itu nggak jodoh-jodohin. Ibu itu kan sukanya sama mukaku sebenernya. Tapi kalo dia tahu aku udah kuliah, nggak mungkin dojodohin sama anaknya yang masih SMP itu!. Week.”
            “ PD banget!”

Aku Tak Bisa Mengakui Rasa Itu





Sulit bagiku untuk bilang suka. Aku tidak bisa mengaku tentang perasaan itu. Entah aku terlalu sombong, atau terlalu rendah diri. Tapi ini bukan tentang itu. Karena itu berbeda.

Sebelumnya aku memang pernah menyukai seseorang. Ketika perasaan itu muncul, aku sanggup mengakui bahwa aku menyukainya. Ketika aku sedih, aku segera mengakui bahwa aku sakit hati.

Tapi perasaan ini berbeda. Dulu saat aku mampu mengakui bahwa aku suka dia, aku sering mengalami apa yang banyak orang katakan tentang cinta. Aku merasa deg-degan bahkan sekedar melihatnya. Aku selalu merasa bahagia sendiri begitu bertemu dengannya. Aku selalu berusaha mencari tahu apapun tentangnya. Aku selalu berusaha mencari cara untuk dekat dengannya. Bahkan aku tak pernah bisa berkata-kata jika berhadapan dengannya.

Dan kali ini, semua sungguh berbeda. Pertama kali aku mendengar namamu dari orang lain, aku tidak peduli. Bahkan pertama kali melihatmu dan saat itu kau tersenyum padaku, aku hanya memandang heran. Kedua kali bertemu denganmu dan kau memperhatikanku, aku masih tidak peduli. Ketiga kalinya kau tersenyum melihatku, aku masih biasa saja.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Setelah beberapa lama, aku memang memperhatikanmu karena penasaran. Dan sejujurnya aku hanya senang. Aku suka wajah teduh milikmu. Meski hanya kuintip dari  balik tirai jendela. Langkahmu yang tenang dengan pakaian rapi berjalan dengan pandangan menunduk. Tapi, aku tidak pernah  merasakan deg-degan, sekalipun berpapasan denganmu. Maksimal hanya senyum lebar dariku, lebih sering hanya senyum kecil – tanpa kau tahu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Aku memang sering mencari tahu tentangmu, sejak itu. Tapi hanya sebatas hal-hal umum. Tidak pernah seperti yang aku lakukan sebelumnya.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Jika dulu aku begitu mudah memimpikan orang yang aku suka. Bahkan aku tidak pernah bermimpi tentangmu. Mungkin pernah, dan setelah terbangun aku lupa.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Orang yang jatuh cinta, mungkin matanya akan buta melihat kekurangan orang itu. Semua hal tentangnya selalu sempurna,meskipun sebenarnya biasa saja. Dan aku tidak merasakan itu padamu. Aku memandangmu sebagai laki-laki dewasa biasa, dengan kelebihan dan kekurangan yang bahkan aku nggak peduli. Tapi anehnya, aku bahkan mengenali suara sandalmu ketika lewat di depan rumah. Suara adzan yang khas itu, masih bisa membangunkanku untuk sholat shubuh. Masa lalu burukmu, aku memahami itu hal biasa dan semua orang bisa berubah. Semua kelebihanmu kuanggap biasa dan hanya sekedar kagum. Kekurangan milikmu, aku bisa memahami itu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Melakukan kekonyolan di depanmu, lantas tak bisa membuatku malu setengah mati. Tertawa dan kehilangan keanggunan di depanmu, tak terlalu masalah bagiku. Aku jarang memperhatikan penampilanku di depanmu. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku merasa tidak perlu menyamaimu untuk menarik perhatian. Tidak perlu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi aku slalu ingin melihatmu. Aku suka memperhatikan tingkahmu. Lantas membuatku terheran-heran, membuatku merasa teduh, membuatku tertawa geli. Meski aku tak pernah sekalipun selangkah lebih maju untuk mendekatimu. Saling bertukar kata pun tak pernah. Dan aku tak pernah berkeinginan begitu.

Aku tidak bisa mengakui tentang rasa itu. Tapi kini…., kenyataannya aku merasa kehilangan saat kau pergi jauh. Pergi saat aku bahkan sedang tidak ada disitu.  Pergi dan takkan ada alasan untuk kembali lagi. Aku sedih. Ada yang hilang.

Entahlah, aku tidak bisa mengakui itu. Secara sederhana, aku memandangnya sebagai kebahagiaan atas kehadiranmu, dan kehilangan atas kepergianmu. Tanpa pernah aku melebih-lebihkan hati.

Solo, 3 Februari 2014