Label

Sabtu, 28 Desember 2013

Ketika kau memandangnya dengan matamu, jelas itu hanya nafsu. Cobalah melihatnya dengan sesuatu yang lebih dalam : Hati.  (Alya Nur Fadhilah)

Sabtu, 21 Desember 2013

Dunia Jalan Raya Emang Keras

Kalian Tahu??

Kalian sebenarnya tahu, karena ini adalah bagian dari keseharian kalian. Hanya saja kalian tidak peduli. Bahwa dunia jalan raya itu amat keras.

Pernahkah kalian terburu-buru hendak ke sekolah, kampus, kantor, mengejar waktu agar tidak terlambat? Tidak peduli kendaraan lain di sekitarmu, yang kau lakukan hanya semaksimal mungkin memanfaatkan ruang, bahkan meskipun hanya sedikit di jalan. Berbelok-belok dengan gesit menyapu seluruh ruang di antara kendaraan lain, mendahului mereka tanpa memperhatikan lampu rating mereka, tanpa mempedulikan bahwa mereka khawatir kalau-kalau kau menabrak mereka. Bahkan kau tidak peduli dengan keselamatanmu sendiri, berkali-kali rem mendadak, berkali-kali menerobos lampu merah. Apa bedanya dengan hidup kita? Ketika kita terlalu berambisi pada sesuatu, siapa yang kau pedulikan? Kau hanya peduli pada ambisi dan tujuanmu, memanfaatkan segala cara, tanpa peduli ada orang yang khawatr, tanpa peduli apa saja yang membahayakan dirimu. Kau hanya bergerak cepat, tak mengijinkan seorang pun mengambil jalanmu lebih dulu, bahkan seringkali menghalalkan segala cara dan menolak segala aturan. 

Pernahkan ketika kamu berkendara, di depanmu ada kendaraan lain yang berjalan pelan, atau ada orang dan kendaraan lain yang hendak menyeberang, apa yang kau lakukan? Apakah dengan sopan menunggu kendaraan tersebut menyeberang? Apakah dengan sabar mencari celah untuk mendahului kendaraan yang berjalan lambat? Yah, mungkin hanya beberapa. Tapi kebanyakan, lebih memilih untuk menekan klakson. Klakson panjang, ataukah pendek? Sama halnya ketika kau merasa ada orang lain yang mengganggu perjalanan hidupmu. Masalah apapun dari orang lain yang mengganggu perjalanan hidupmu, hadapilah dengan bijaksana. Kau tak perlu marah-marah, dengan nada klakson yang tinggi dan panjang. Ada banyak kendaraan di jalan itu, semua menginginkan haknya. Ada milyaran manusia di bumi ini, semua menginginkan haknya, begitu pula kau. Bersabarlah, berikan kesempatan orang lain untuk mendapat haknya. Jangan ganggu ketenangan orang lain. Masalah itu ada ketika kau punya tujuan. Jika kau tidak perlu ngebut, kau pun tidak perlu klakson kendaraan yang berjalan pelan di depanmu.

Ada masalah lain. Pernahkah kau melihat orang yang jatuh dari kendaraannya, kecelakaan dan segera membutuhkan pertolongan, kau dengan kendaraan motor atau mobil, bersediakah menghentikan kendaraan dan menepi untuk membantu? Bukan menghentikan kendaraan untuk menonton! Lebih lagi jika mengantarkan korban dengan  mobilmu? Kebanyakan pasti enggan, kan? Ada urusan yang lebih penting, toh masih banyak orang  di jalan itu. Bayangkan jika semua orang berpikiran begitu, tak ada satupun yang akan menolongnya. Dan lihat beberapa kasus kecelakaan itu. Siapa yang berinisiatif menghampiri, menolong, bahkan membawa ke rumah sakit? Kebanyakan adalah pedagang di pinggir jalan, tukang becak, orang-orang yang sedang berjalan kaki. Jarang sekali orang  berkendara yang  mau menghampiri untuk menolong. Yang menolong korban adalah orang-orang kecil, tukang becak. Mereka juga punya urusan lain, kamu pun juga punya urusan lain, lalu apa yang membedakan?

Dalam konteks yang lain, ketika ada razia dari polisi mengenai SIM dan STNK. Kamu yang tidak memiliki SIM - kebanyakan, dan tiba-tiba menjumpai razia dari polisi. Atau kamu yang saat itu tidak memakai helm, atau teman yang kau boncengi tidak memakai helm, dan bertemu polisi. Apa yang terjadi? Memberikan uang 50 ribu dan semuanya selesai. Semudah itukah? Semuadah itukah perkara yang menyangkut keselamatan berkendara dibayar dengan uang 50 ribu. Begitu pentingnyakah uang menyelesaikan urusan, bahkan dalam urusan pelanggaran peraturan. Jangan heran, jika negara kita banyak yang korupsi. Bahkan aparat pun secara tidak langsung mengajarkan korupsi secara kecil-kecilan di jalan raya. Bukan hanya itu. Bahkan untuk memperoleh SIM bagi mereka yang tidak lulus tes dan tidak mencukupi umur 17 tahun pun, lagi-lagi diselesaikan dengan urusan uang --> nembak begitu mereka menyebutnya. Ada apa itu? Jika memang belum mencukupi umur berkendara, belum mampu untuk lulus tes, demi keselematan, kenapa aparat mengijinkan?

Tapi kehidupan di jalan raya, adakalanya membawa sisi positif. Ada konvensi bahwa kendaraan mendahulukan pejalan kaki dan sepeda. Memang begitulah seharusnya hidup. Antara orang-orang kecil dan besar harus saling menghormati. Lebih-lebih bagi orang besar, jangan merasa sombong dan berkuasa, hargailah orang -orang kecil, lebih baik jika bisa membantu.

Semoga bermanfaat...

Jumat, 06 Desember 2013

Pecinta Dunia Miskin Kebahagiaan

Dulu pernah hidup dua pemahat hebat. Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya. Mereka diberikan sebuah ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan. Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain. Sempurna membatasi, memisahkan, sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat yang lain. Mereka diberikan wantu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu  masing-masing.

Pemahat pertama memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membuat pahatan indah di tembok batunya. Dai juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan, dan segalanya. Orang itu terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga akhirnya menghasilkan seuah pahatan yang luar biasa indah. Siapapun yang melihatnya sungguh tak akan bisa membantah betapa indah pahatan itu.

tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama. Meski dia sudah bekerja keras siang-malam, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya. Berkilau indah. Berdesir si pemahat pertama. Berseru kepada Raja, dia akan menambah elok pahatannya! Berikan dia waktu! Dia akan mengalahkan pemahat kedua. Maka tirai ditutup lagi. Tanpa henti pemahat pertama mempercantik dinding bagiannya, berhari-hari. Hingga dia merasa saingannya tidak akan bisa membuat yang lebih indah dibandingkan miliknya.

Tirai dibuka untuk kedua kalinya. Apa yang dilihat pemahat pertama? Sungguh dia terkesiap. Ternganga. Dinding di seberangnya lagi-lagi lebih elok memesona. Dia berdesir tidak puas.  Berteriak meminta waktu tambahan, dan dia selalu saja merasa dinding batu miliknya kalah indah dibandingkan milik pemahat kedua.

Tahukah kau? Pemahat kedua sejatinya tidak melakukan apapun terhadap dinding batunya. Dia hanya menghaluskan dinding itu secemerlang mungkin, membuat dinding itu berkilau bagai cermin. Hanya itu! Sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama.

Itulah beda antara orang-orang yang terlalu mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapi hidupnya. Orang yang terus merasa hidupnya kurang maka dia tidak berbeda dengan pemahat pertama, tidak akan pernah merasa puas. Tapi orang bijak, orang yang berhasil menghaluskan hatinya secemerlang mungkin, membuat hatinya bagai cermin, maka dia bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekalipun.

(Dikutip dari " Rembulan Tenggelam di Wajahmu" Tere Liye)
Semoga Bermanfaat...

Rabu, 04 Desember 2013

Hakikat Kebahagiaan Sejati



Dalam salah satu perjalanan jauh yang pernah Ayah lakukan, Ayah tiba di perkampungan para sufi. Kau tau apa sufi? Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, di antara banyak sufi, tidak semuanya berhasil mencapai pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar tentang kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa tujuan dan makna hidup, ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagiaan hidup.

            Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekedar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati? Tidak ada dari sekelompok sufi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Merekamenggeleng, hingga akhirnya salah seorang dari merekamenyarankan agar Ayah berangkat ke salah satu lereng gunung. Di sana tinggal salah satu sufi besar, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengemas ransel,  berangkat siang itu juga.

            Ayah menemui Sang Guru. Da menerima Ayah dengan ramah, member Ayah kesempatan bertanya. Pertanyaan Ayah hanya satu. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru terdiam lama, menggeleng, berkata bahwa Ayah memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di dunia yang bisa menjawabnya. Ayah mendesah kecewa, kemana lagi harus mencari tahu. Sang Guru menatap Ayah lamat-lamat, berpikir sejenak.

            Sang Guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaan teraneh yang pernah Ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan itu. Perkampuangan itu butuh sumber mata air berupa dana. Sang Guru menyuruh Ayah membuatkan danau di tanah luas itu. Itu bukan pekerjaan mudah. Ayah tertawa pelan, membuat napas sediki tersengal.

            Sang Guru bilang, “ Ketika kau berhasil membuat sebuah danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat kebahagiaan sejati. Berangkatlah, setahun kemudian aku akan datang. Aku akan melihat, apakah danau itu sudah sebening air mata.”

            Walau tidak ad aide apapun soal danau itu, Ayah menganguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian tertinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperolah hanya dengan membaca buku atu bertanya. Ayah berangkat, meulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung.

            Kau tahu, tidak berbilang tanah yang harus dipindahkan. Erkuba licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari erbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah beru berhenti saat galian itu memliki kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan Ayah aru separuh slesai. Ayah kemudian membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang.

            Sesuai janji, Guru datang menjenguk ayah pada hari yang ditentukan. Siangnya, malam sebelum dia datang, hukan turun. Sumber mata air di hutan menadi kotor. Ayah yang semangat mengajak Guru ke tepi danah mendesah kecewa. Lihat, danau yang Ayah buat jauh dari bening. Sang Guru berkata, Ayah tidak boleh putus asa. Sang Guru  menepuk bahu Ayah., tahun depan sang Guru akan kembali.

            Setelah memikirkan jalan keluarnya, Ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar.

            Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk Ayah. Lihat, danau buatan Ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan Ayah. Sang Guru menggeleng. Dia mengambil sepotong bamboo panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru, mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar sajs, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung megeluarkan kepul lumpur kecoklatan. Dalam sekejap, danau being itu musnah. Sang Guruh menepuk-nepu bahu Ayah lalu berkata, “Kau pikirkan lagi, tahun depa aku akan kembali.”

            Dua tahun sia-sia. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkin hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahu berlalu, Ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanahnya, kedalaman danau sudah 10 meter. Sang Guru datang, melihat dengan takzim Ayah yang sibuk bekerja. Dua tahun berlalu, Ayah masih berkutat mengaduk tanah. Tiga tahun berlalu, setelah kerja keras  siang malam, akhirnya Ayah berhaasil menyetuh dasar bebatuan. Air kaluar deras dari sela-sela bebatuan. Ayah tertawa senang. Semua parit Ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airna sendiri.

            Guru datang pada hari yang dijanjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai Kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit yang bocor dan sejenak membuat keruh. Sang Guru menatap Ayah, bertanya apakah Ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng, Ayah sudah tahu jawabannya.

            Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membua hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidk akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jaatan, semua itu tidak hakiki. Itu dtang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat itu semua datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

            Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dla hati itu onkret. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebehagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, Karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih,bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gellisah. Padahal apa susahnya ikut senang.

            Itulah hakikat kebahagiaan sejati. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, apa adanya.



Dikutip dari “Ayahku (bukan) Pembohong” Tere Liye