Label

Minggu, 10 November 2013

Jangan Kau Harapkan Kisah Cinta seperti Rama-Shinta

Pasti banyak dari kita mengharapkan kisah cinta yang romantis dan indah seperti Rama dan Shinta. Kenapa? Apa kalian tidak tahu hikayat cerita yang sangat menyedihkan dari Rama-Shinta? Siapapun yang tahu, pasti tidak akan mau merasakannya. Dan masalahnya hanya simple,kepercayaan. Cinta tanpa disertai kepercayaan, maka seperti meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan. 
 
Ya, jangan mengharapkan kisah cinta seperti Rama-Shinta ataupun Romeo-Juliet Lebih indah kisah Ali-Fatimah atau Rasulullah saw.-Khodijah.
Coba baca cuplikan kisah Rama-Shinta ini, insya Allah bermanfaat (bukan sekedar pelajaran bahasa jawa tentang wayang kok)!
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siapa yang tidak mengenal Rama, pangeran gagah dari kerajaan Kosala. Ia tampan tak terkira.Ia pintar tiada dua. Dan jangan tanya soal kepribadiannya, Rama adalah pemuda tiada tandingan. Semua orang akan terpesona hanya dengan menatap wajahnya. Lantas siapa yang tak mengenal Shinta, gadis rupawan, putri kerajaan Wideha? Ia cantik tak terperi. Ia pintar tiada tanding. Dan jangan tanya soal  budi pekertinya, Shinta adalah gadis yang tumbuh dalam asuhan luhur. Semua orang bahkan terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya.

Mereka berdua seperti ditakdirkan menjadi pasangan abadi, dan sudah abadilah kisah mereka.

Pemuda gagah itu, Rama, sedang dalam misi berbahaya, menumpas para raksasa di hutan rimba saat ada kabar Raja Wideha mengadakan sayembara pemilhan suami untuk Shinta.. Semua kerajaan berduyun-duyun mengirimkan pangeran mereka.

"Kau harus ikut serta, Kakanda." Laksmana, adik Rama yang setia menemani mereka berpetualang, membujuk Rama.

" Astaga, kau ingin kakakmu ini mendapatkan jodoh melalui sebuah sayembara? Itu jelas bukan awal isah cinta sejati, tidak akan ada Resi yang pernah menulisnya," kata Rama, menggeleng.

" Apa salahnya mencoba? Setidaknya Kakanda melihat dulu putri itu. Matanya mampu meruntuhkan dinding kseombongan. Dan hatinya bahkan bisa menaklukkan senjata paling hebat di dunia."

Baiklah, seperti apa omong kosong kecantikan gadis itu, Rama mendengus. Mereka berputar haluan menuju ibu kota Wideha. Ketika semua pangeran sudah berkumpul di balai agung ibu kota Widehs, Rama yang terlambat justru salah masuk ruangan. Di rungan itulah ia terpesona ketika melihat seorang gadis membantu dayang-dayang yang tak sengaja menumpahkan nampan berisi buah-buahan. Rama tertegun, mencengkeram lengan Laksmana, "Siapakah gadis itu?"

Shinta lebih dulu menoleh, para dayang berseru kaget melihat laki-laki memasuki bangunan khusus perempuan.

" Maaf, sungguh maafkan kami," kata Rama. " Kami sedikitpun tidak bermaksud buruk. Kami salah masuk ruangan."

Itulah pertemuan pertama mereka. Percakapan yang pendek, patah-patah, malu-malu, tapi mengesankan. Dan sayembara itu amat mudah sekali, bukan tentang memanah, mengejar, membunuh raksasa, bukan tentang fisik. Mereka hanya diminta menarik busur, pusaka kerajaan Wideha. Itu bukan busur biasa, itu busur milik Dewa Siwa yang dihadiahkan ke bumi. Jangankan menarik talinya, mengangkat busur itu saja tidak ada yang mampu. Dan tentu saja Rama yang memenangkan sayembara itu. Tidak ada yang tahu kekuatan apa yang ia miliki, mungkin kekuatan cinta. Dan di kursi singgasana, Sinta tersipu  malu, ikut bersorak senang. Dan alhasil, pernikahan mereka pun dilangsungkan.

Ada sebuah intrik dari ibu tiri Rama, hingga membuar Rama dan Shinta dibuang ke hutan rimba selama 14 tahun. Dan Shinta, selalu menemani. Itulah bukti cinta yang tiada tara. Mereka berdua, ditemani Laksmana, tinggal di dalam hutan. Dan rintangan hidup tidak sampai di sana.

Hari naas itu, Shinta meminta Rama mengejar anak kijang yang lucu. Pergilah Rama mengejarnya, dan tinggallah Shinta dan Laksmana. Tentu saja kijang itu hanya tipuan Rahwana, raja para raksasa. Rama berhasil memanah kijang itu, yang seketika berubah bentuk dan berteriak menirukan suara Rama meminta tolong. Laksmana menyusul mengikuti arah suara itu, dan tinggallah Shinta sendirian. Dengan kelicikan dan tipu daya Rahwana, Shinta berhasil diculik dan dibawa terbang ke kerajaan Alengka, yang berada di seberang lautan daratan India. Dan dimulailah kisah mahsyur itu, yang semua orang tentu tahu pengorbanan Rama menyelamatkan Shinta.

Rama meminta bantuan wanara, alias manusia kera. Bahkan ia pun mengancam Baruna (dewa samudra) untuk membantunya. Semua pekerja dikerahkan siang-malam untuk membangun jembatan yang membentang atas nama cinta  - sebagai jalan menuju seberang lautan. Dan di tempat itulah kedua pasukan bertarung. Panah sakti milik Rama menghujam jantung Rahwana. Dan Shinta berhasil diselamatkan.

Kisah itu belum berakhir. 

inilah masalah baru pasangan Rama-Shinta. Rakyat bersorak senang melihat Rama membawa pulang Shinta, bertepatan berakhirnya masa pembuangan mereka selama 14 tahun. Dan saat itu, Rama diangkat menjadi raja. Kesenangan tu hanya sebentar. Entah bagaimana awalnya,  ada bisik-bisik kotor memasuki kerajaan Kosala. Apalgi kalau bukan kabar burung: Shinta sudah tidak suci lagi.

Rama berdebat lama dengan Laksmana di suatu ruangan.
" Bagaimana mungkin kau tidak memercayainya, Kakanda?" kata Laksmana. "14 tahun Shinta menemani di hutan riba, tahan hidup penuh penderitaan, berbulan-bulan ditahan Rahwana. Bagaimana mungkin kau tidak percaya padanya?
" Berbulan-bulan," Rama mendesah. "Karena berbulan-bulan itulah, Laksmana, siapa yang tahu apa yang terjadi di Alengka?"
" Aku tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutmu, Kakanda. Aku bersumpah, Shinta tidak akan berkhianat. Seharusnya Kakanda tidak percaya bisik-bisik mereka! Dimana mereka saat Kakanda 14 tahun di hutan rimba. Dimana mereka saat Kakanda berbulan-bulan menyelamatkan Shinta? Kenapa sekarang mereka peduli dengan sesuatu yang bukan urusan mereka?"
" Tapi mereka rakyatku, Laksmana. Au tidak akan bisa menjadi raja yang baik jika mereka tidak mempercayai ratunya." Dan keputusan besar itu diambil Rama. Maka ujian kesucian digelar oleh Shinta. Melewati api yang berkobar tinggi. ika Shinta selamat melaluinya, maka tidak akan ada keraguan lagi.
" Maka Kakanda telah melakukan kesalahan besar. Kepercayaan adalah fondasi penting sebuah cinta. akanda telah kehilangan fondasi itu. Besok, Shinta akan berhasil melewati kobaran api itu, tapi Kakanda tidak akan berhasil memadamkan keresahan itu." Laksmana izin oamit, melangkah menuju pintu keluar.

Keesoka harinya, Shinta menjalani uji kesucian itu. Laksmana benar, satu menit Shnta melangkah anggun keluar dari kobaran api. Bahkan api tak kuasa membakar seujung kuku pakaian yang dikenakan Shinta. Dan cerita, masih terus berlanjut.

Beberapa bulan sejak prosesi itu, orang-orang berbisik bahwa prosesi api itu bohong. Shinta bisa saja menggunakan ilmu sihir untuk menembus kobaran api. Itu sangat mudah dilakukan.

" Kau tidak akan melakukannya, Paduka Rama," kata Hanoman, manusia kera, bangsa wanara.
" Siapa yang bisa bersaksi Shinta tidak sedang menipu kita semua?" tanya Rama.
" Astaga Paduka Rama, tidak ada yang terjadi di taman Asoka. Bukankah kau sendiri yang menyuruhku mengintai Alengka selama berbulan-bulan. Dan istrimu adalah perempuan terhormat. Akulah saksinya.
Rama menggeleng.
"Paduka tidak percaya padaku?
"Aku tidak bisa lagi percaya pada siapapun dalam kondisi seperti ini, Pamanda." Rama menjawab pelan. Dan keputusan kembali diambil. Shinta diusir dari Ayodya, keputusan itu dibacakan sendiri oleh Rama, di hadapan rakyat yang gegap gempita menyambutnya.
Hanoman tertunduk dalam. "Apa kau masih mencintai Shinta, Paduka Rama?"
" Tentu saja, Pamanda," jawab Rama. "Aku mencintainya. Tapi rakyat Ayodya membutuhkan bukti bahwa Shinta akan mampu melewati masa pembuangannya."
Hanoman menggeleng sedih. "Camkan ini, Paduka. Esok lusa, Shinta akan berhasil melalui masa terbuangnya, tapi Paduka tidak akan mampu melewati resah itu."


Shinta mengangguk mendengar keputusan oengusiran itu. Ia memang sedih, sama sekali tidak meragukan cinta Rama, tapi kesedihannya karena tak kunjung meyakinkan rakyat Ayidya, dan ia sedih karena harus berpisah dengan suami tercinta.
" Jangan cemaskan aku, Kakanda," bisik Shinta. "Aku akan baik-baik saja. Apalah arti sepuluh tahun demi membuktikan cinta kita akan abadi. Jangan cemasan aku Kakanda."


Sendirian, Shinta dilepas meninggalkan istana, meninggalkan gerbag ibu kota Ayodya. Melangkah menuju barisan rapat pohon-pohon di hitan rimba. Tanpa seorang pun tahu, bahkan Rama, bahwaa Shinta sedang mengandung anak mereka.

Hutan gela menyambut langkah Shinta. Terdengar suara beruang raksasa, Shinta berseru pias. Ia terseok-seok melarikan diri dari kejaran binatang buas itu. Hingga kakinya tersangkut akar, napasnya tersengal hampir habis. Dan beruang raksasa itu siap menerkam.

Persis sepersekian detik kuku itu menyentuh wajahnya, dari pepohonan gelap, melesat belasan panah. Itulah panah Resi Walmiki (penulis syair0syair kisah Ramayana), dan segera membawa Shinta ke padepokannya. Rei Walmiki adalah pertapa dengan kemampuannya melihat watak seseorang hanya  dengan melihat wajahnya. Dan dengan melihat wajah Shinta, ia memutuskan menampung Shinta di padepokannya.

Tidak ada yang tau siapa Shinta sebenarnya, hanya Resi Walmiki yang tahu. Para penghuni padepokan adalah murid-murid Resi yang belajar tentang kebijaksanaan hidup, bercocok tanam, dan sedikit memanah. Di sana, setiap pagi Shinta hanya duduk termenung mengingat wajah suaminya. Malam-malam Shinta sering menatap langit penuh bintang. Setiap hela napas menyebut nama suaminya. Sambil berkata lirih, aku baik-baik saja, Kakanda. Aku akan mampu meleati masa-masa ini.

Hari-hari berlalu. Shinta melahirkan bayi kembar laki-laki bernama Lawa dan Kusa. Kehadiran kedua bayi itu, membuat Shinta sedikit lebih baik. Dua anak kembar itu tumbuh sehat, mewarisi ketampanan Rama, , cerdas, dan menguasai syair-syair panjang kebijaksanaan orang dewasa. Dan mereka tumbuh menjadi kesatria yang baik, pemanah yang handal. Resi Walmiki menghadahkan busur panah kembar dari Dewa Brahma, itu bukan panah mematikan seperti milik Rama, namun memiliki rahasia tersendiri.

Hingga sepuluh taun masa pengasingan itu berakhir, Shinta masih termenung, menunggu suaminya hendak menjemput dengan pasukan kuda kerajaan. Ia selalu menunggu. Bahkan tak mau membiarkan suaminya datang sementara ia sedang tertidur. Ia hanya terjaga, terus menunggu.

Rama tidak akan pernah datang menjemput Shinta. Resi Walmiki tahu itu. Karena ia diam-diam menyamar datang ke istana Ayodya, dan amat tahu bahwa Raja yang gagah perkasa itu, kini aamat ringkih hatinya, lapuk hatinya. Apakah Rama masih mencintai Shinta? Tentu saja. Cinta itu sama besar sejak mereka bertemu pertama kali dulu. Tapi, cinta tanpa disertai kepercayaan, maka ibarat meja kehilangan tiga dari empat kaki-kakinya, runtuh menyakitkan.

Satu hai berlalu, satu minggu, satu bulan, bahkans atu tahun lebih, Shinta semakin putus asa. Penghuni padepokan ikut sedih melihat Shinta yang terus menunggu. Dan dua anak kembarnya, yang telah menginjak usia dua belas tahun, menemukan catatan Resi Walmiki, syair tentang Rama dan Shinta. Dan mereka tahu semuanya.

Dan busur milik si kembar menampakkan rahasianya: Kebencian. Busur itu akan berlipat-lipat menjadi lebih kuat jika menemukan alasan kebencian yang direstui Dewa. Mereka tahu ibunya diasingkan selama 10 tahun hanya karena prasangka. Dan setelah masa pembuangan erlalu, ayahnya tidak tergerak untuk datang menjemput.

Lawa dan Kusa menggenggam tangan satu sama lain, bersumpah membals perlakuan ayahnya pada ibu mereka. Tanpa diketahui penghuni padepokan, mereka berangkat menyerbu kota demi kota kerajaan Kosala. Mereka menghukum semuanya, menghancurleburkan kerajaan Kosala. Bahkan pasukan besar di bawah pimpinan Hanoman yang dikirmkan Rama pun sia-sia, kalah oleh mereka. Rama berseru marah. Ia memerintahkan seluruh pasukan kerajaan Kosala berkumpul di ibu kota Ayodya.

Dan kecamuk itu baru didengar para penghuni padepokan. Shinta dan Resi Walmiki segera berangkat menuju Kosala. Sementara di halaman istana, napas prajurit dan rakyat jelata tertahan melihat kedua anak kembar itu memasuki gerbang istana.. Yang membuat  napas mereka semakin tertahan, dua anak kembar itu datang sambil menyanyikan lagu prosesi ujian milik Shinta, saat ia hendak melalukan uji kesucian dan uji pengasingan 10 tahun:

Dusta takkan bercampur dengan jujur
Hina takkan bercampur dengan mulia
Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan iar
Kebaikan takkan bercampur dengan keburukan
Kesetiaan takkan bercampur dengan pengkhianatan
Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina

Rama berdiri dari singgasananya, menyiapkan busur dan anak panahnya.

"Hentikan!" Suara perempuan terdengar dari gerbang kota. " Hentikan, aku mohon." Shinta berseru datang, memeluk kedua anak kembar itu.

" Shinta, kaukah itu?" Rama menurunkan anak panah, menuruni anak tangga.
"Lepaskan kami, Ibu!"
" Dia ayah kalian, Nak!"
" Tidak! Dia bukan ayah kami!. Dia bukan siapa-siapa kami. Kami akan membalaskan sakit hati Ibu. Kami akan menghukum seluruh Ayodya.

"Shinta istriku." Rama sudah dekat dengan Shinta. Langkahnya tertahan, tidak mengerti. " Siapa mereka, Shinta?"
" Dia anak-anakmu, Paduka Raja." Resi Walmiki yang menjawab.
" Anak-anakku?" Rama berseru tertahan. " Mereka sungguh anak-anakku, Shinta?" Rama bertanya, memastikan.

Shinta mengangguk lemah. Rakyat Ayodya berbisik. Tidak mungkin. Bagaimana mungkin raja memiliki anak kalau istrinya yang ternoda itu dibuang belasan tahun di hutan rimba? Bagaimana ia hamil?

Dan urusan ini, kata Laksmana belasan tahun lalu benar. Shinta akan berhasil memadamkan api suci, tapi Rama tidak akan pernah berhasil memadamkan resah di hatinya. Kalimat Hanoman juga, Shinta akan berhasil melalui masa-masa pembuangannya, tapi Rama tidak akan berhasil mealui resah di hatinya.

Rama menggeleng, tidak mungkin, mereka bukan anakku. Shinta tertunduk, menangis tersedu. Oh ibu, lihatlah etelah begitu banyak pengorbanan yang ia lalukan, setelah begitu besar harapan yang ia bangun, siang ini disaksikan ribuan orang suaminya menolak percaya atas anggukan pelannya tadi. Apalah artinya cinta jika tanpa sebuah kepercayaan?

Sebelum semua orang menyadarinya, Shinta menciumi kedua anaknya sebelum ia mengakhiri semuanya. Ia berlari menjauh dari Rama, sambil berseru, " Oh Ibu, dengarkan anakmu! Dengarkan anakmu!" Shinta memanggil keadilan.

Resi Walmiki hanya menelan ludah. Ia tahu apa yang akan dilakukan Shinta.

" Oh Ibu, belahlah tanahmu! Belahkah perutmu!" Shinta berlari, hingga akhirnya tersungkur. " Oh Ibu, bukalah pintumu! Buktikanlah ke seluruh semesta. Jika anakmu ini memang ternoda, maka tolaklah diriku yang hina. Lemparkan aku kembali ke langit tanpa nyawa. Tapi jik aku memang suci, terimalah anakmu kembali, kumohon. Aku sungguh tidak kuat lagi."

" Jangan lakukan!" Rama akhirnya paham melihat pengorbanan itu. " Jangan lakukan, Shinta, demi aku!"

" Ibu, bukalah pintumu," Shinta memukul-mukul tanah seperti orang gila.

" Dengarkan aku, Shinta," Rama berlutut, berusaha menggapai tubuh istrinya. "Maafkan aku, maafkan aku yang tidak mempercayaimu. Kebalilah padaku, Shinta. Demi anak-anak kita."

Sejengkal lagi tangan itu menahan Shinta, bumi lebih dulu merekah. Shinta berurai air mata, tanpa berpikir panjang langsung melompat.

Rama terkesiap, segera berdiri gagah menarikk busur pusakanya, hadiah Dewa Siwa. "Wahai Ibu Pertiwi, kembalikan Dewi Shintaku, atau kululuh-lantakkan tubuhmu!" Sayangnya Rama tak pernah tahu, busur Dewa Siwa itu juga menyimpan rahasia. Busur itu sejatinya milik Shinta. dan hanya bsa ditarik oleh orang yang diinginkan Shinta. Itulah kenapa dulu Rama memenangkan sayembara itu, karena Shinta mencintainya dan menginginkan ia menjadi suaminya. Shinta telah ditelan bumi. Tidak ada yang merestui busur itu. Rama berseru-seru, memanggil, memohon, tapi semua sudah terlambat.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apalah arti cinta tanpa sebuah kepercayaan.

(Cuplikan "Sepotong Hati Yang Baru" Tere Liye)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar