Label

Sabtu, 23 November 2013

Bipolar at Sweet Seventeen



BIPOLAR At SWEET SEVENTEEN
( Karya: Alya Nur Fadhilah)


“ Aaa!!” jeritku sambil sesekali tanganku menyambar benda-benda di sekeliling kamar dan membuangnya. Aku masih menjerit-jerit penuh emosi, sekalipun ibu berusaha memelukku dan menahan gerakan anarkis tanganku.
“ Sayang...., tenang, Nak,” bisik ibu dengan suara parau di telingaku.
“ Aaa! Lepasin!”
Aku seorang gadis penderita bipolar disorder , kelainan mental berupa sensitifnya suasana hati yang cenderung naik atau turun secara drastis. Seorang penderita bipolar kadang merasa sangat senang yang begitu hiperaktif. Namun sesaat kemudian bisa berubah menjadi sangat sedih atau marah dan melemparkan semua benda di sekeliling, menjerit-jerit, dan bahkan bertindak sangat arogan. Dan itulah yang menimpa gadis malang sepertiku.
Aku, penderita bipolar yang bahkan tidak tahu mengapa perasaan labil itu bisa terjadi, tidak ada yang tahu penyebabnya. Tapi, yang kutahu, kelainan ini ada sejak aku kehilangan ayahku karena perceraian dan selanjutnya panggilan Tuhan akan dirinya.
Beberapa minggu yang lalu, aku ditempatkan di rumah sakit yang mengamankanku untuk menjalani beberapa tes. Di sanalah aku mendapatkan pengobatan terbaik dan pelajaran penting tentang kesulitan yang dihadapi bila hidup bersama penderita kelainan ini. Sejak itulah aku berusaha menata hati semaksimal mungkin saat menjalani kehidupan di sekolah. Ya, kehidupan bersama teman-temanku.
Dan kini, entah kenapa suasana hatiku benar-benar kacau, sangat kacau.
“ Aku pengen nulis! Aku pengen jadi penulis! Aku pengen nulis novel! Aku pengen jadi penulis! Tapi aku nggak punya laptop!”
“ Sabar, Sayang. Ibu pasti akan....”
“ Gimana caraku mengetik naskah??! Buku ini nggak akan diterima penerbit!” seruku sambil menyobek beberapa bagian buku yang merupakan kumpulan karyaku. “ Aku benci! Ini gara-gara Ibu! Ini karena Ibu miskin! Di mana ayah, Bu??!”
Ibu berusaha merangkulku, tapi aku selalu mengelak dan bertindak lebih brutal. “ Keluar! Keluar!” Aku mendorong tubuh kurus ibuku agar keluar kamar. Dan setelah itu, aku akan mengunci pintu dan tidur di kolong ranjang sambil menutup kepala dengan bantal. Tidur dalam keheningan, tidur dalam kesenyapan, tidur dalam kedinginan.
***
Dengan semangat aku melangkah menuju sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang cukup dekat, tidak terlalu melelahkan bagiku untuk berjalan kaki. Tentu saja berjalan kaki, karena aku juga tidak punya sepeda motor seperti teman-temanku lainnya.
Di sisi lain, di tengan perjalanan saat KBM dimulai, rasa bosan dan malas pastinya akan melanda kebanyakan siswa, terutama aku. Dan suasana seperti itulah yang paling aku benci. Sebab aku juga harus berusaha menahan rasa iri atas apapun yang bisa dilakukan teman-temanku. Semua hanya akan menimbulkan berontak akan keinginan yang sulit untuk menjadi kenyataan.
Tentu saja, aku hanya selintas memandang temanku yang sibuk dengan BB-nya di laci. Atau, aku akan memikirkan sesuatu agar pikiranku tidak sempat memikirkan perbincangan teman-temanku tentang fashion, tentang film, atau bahkan tentang gaya hidup luar biasa mereka – karena aku tahu itu tidak terjadi padaku. Dan yang paling miris, aku hanya akan menggigit bibir saat melihat kebanyakan temanku membawa laptop. Sedangkan aku??
Lamunanku terbuyar saat tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
“ Kamu jangan melamun, Safa,” ucap gadis itu padaku. “ Jangan buat pikiranmu jadi kacau, oke?”
Aku tersenyum manis pada Kezi, teman yang paling dekat denganku. Gadis blasteran arab-indo itu yang lebih banyak mengerti tentang persoalan hidupku, karena kami memang sudah akrab sejak SMP – saat hidup bahagiaku bersama kedua orangtua.
“ Ini, kamu mau?” Kezi menyodorkan bekalnya padaku.
“ Lhoh, emang udah istirahat, ya?” tanyaku yang langsung membuat Kezi terkekeh. Dengan senang aku mengambil sepotong brownies dari wadah. “ Makasih, ya.”
“ Kamu mikirin apa, sih?” Aku hanya menggeleng dengan pertanyaan itu.   “ Oh iya, besok malam Vio ulang tahun lho. Sweet seventeen, jadi acaranya pasti meriah. Dan dia juga mengundang seluruh anak kelas sebelas.”
Vio, siapa sih yang tidak mengenal dia? Gadis cerdas, cantik, dan sangat kaya. Sosok sempurna bagi siapapun.
“ Kita datang, yuk! Pasti nggak rugi deh,” ajak Kezi.
“ Tapi aku....” Aku sempat berpikir sebelum melanjutkan kalimatku. Sedangkan mulai kulihat gurat kecewa wajah Kezi. “ Tapi aku..., aku nggak punya baju pesta, Zi.”
Seketika Kezi tertawa. “ Ya ampun, jadi selama ini kamu slalu menolak undangan ultah sweet seventeen hanya gara-gara baju pesta? Kamu kan tinggal bilang sama aku, ntar juga aku pinjami kok.”
Aku menunduk.
Kezi merangkul pundakku. “ Safa, sweet seventeen itu mungkin jadi momen bahagia tiap orang. Di hari ulangtahunnya ke tujuh belas, dia pasti sangat bahagia dan ingin mengajak banyak orang untuk bahagia. Jadi, sangat disayangkan banget kalo kita nggak turut merayakan kebahagiaan oranglain, apalagi teman sendiri,” jelasnya.
“ Ya udah, ntar kamu ke rumahku, silakan kamu pilih baju pesta yang ada. Dan besok, kita berangkat bareng, oke?” lanjut Kezi.
***
Aku menari-nari bahagia di depan cermin yang melukiskan seluruh bayang tubuhku dengan gaun putih selutut. Berkali-kali kurapikan rambut sebahuku yang juga nampak indah dengan pita putih di atas kepala. Aku tersenyum, menampakkan aura kecantikan wajahku yang terbalut make up tipis oleh ibuku.
“ Sayang, ini sepatunya.” Ibu meletakkan high heels di dekat kakiku.
“ Ibu, Safa takut jatuh kalo pake kayak gini.”
Ibu tersenyum. “ Sayang, masak kamu mau pakai sepatu selop? Terlihat aneh lho.”
Aku berpikir sejenak. “ Ya udah deh. Aku harus tampil maksimal di hari bahagia temanku. Dia ulang tahun yang ke tujuh belas lho, Bu. Jadi inget, hari spesial Safa beberapa hari lagi,” jelasku sambil mematutkan diri dengan high heels itu. Ya, beberapa hari lagi aku akan seperti Vio dan beberapa temanku lainnya – merasakan gejolak kebahagiaan sweet seventeen.
Dari cermin kulihat gurat sedih pada wajah ibu. Ibu termenung, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“ Ibu? Ada apa, Bu?”
Ibu tersenyum. “ Sepatu ini pinjam tetangga, jadi jaga baik-baik, ya.”
Aku tertawa. “ Jadi tadi ibu mikirin sepatu ini? Oke deh, demi Ibu.”
Terdengar suara klakson mobil, yang pastinya itu mobil Kezi. Aku segera bergegas mengambil tas kecil dan mencium kedua pipi ibu. “ Mobil untuk menjemput Putri Safa – anak tercantik Ibu – udah datang,” kataku, girang sekali.  “ Love You, Mom!”
“ Love You,” balas ibu.
***
Tidak butuh waktu banyak bagi mobil Kezi untuk sampai di pesta yang diadakan di hotel berbintang. Kami berdua tersenyum bahagia saat melihat kemewahan acara pesta dan disambut dengan hangat oleh Vio dan keluarganya. Kezi segera mengambil dua gelas minuman – untuk dirinya dan untukku.
“ By the way, konsep pestanya mewah banget ya.” Terdengar suara itu saat kami melewati kerumunan orang.
“ Jadi pengen deh, Fa,” kata Kezi setelah mendapat tempat duduk.
“ Ya udah. Kamu kan dua bulan lagi, cukup banyak waktu kok untuk mempersispkan pesta yang lebih dari ini,” sahutku.
“ Hh, kamu ini kayak nggak tahu keluargaku aja. Mereka terlalu sayang uang untuk acara kayak begini.”
Kami berkumpul saat acara inti akan dimulai. Peniupan lilin dan pemotongan roti sudah berlangsung. Hari ini Vio terlihat cantik sekali. Dia memang sudah sangat cantik, tapi aura kebahagiaan terpancar jelas pada matanya. Apalagi saat kedua orangtuanya memberi surprise tentang sesuatu yang seakan menghancurkan pestanya. Ya, sebuah mobil mewah yang tiba-tiba datang dan menabrak meja makanan.
“ Aaah..., surprised banget ya, Fa. Kayak cerita novel yang kamu pinjami dulu deh,” kata Kezi, sempat membuat senyumku memudar.
Novel? Ya, aku sempat berpikir, kapan novelku kuselesaikan dan mulai kuketik di laptop. Berusaha menepis mimpi-mimpi itu untuk sementara. Dan aku kembali terhanyut oleh iringan musik pesta.
***
Aku mengerjapkan mata saat cahaya silau berada di atas wajahku. Aku berusaha duduk dan mencoba mengingat kenapa aku ada di sini, di ranjang putih, kasur putih, dan ruangan dengan cat putih. Semua serba putih.
Aku mendengus saat teringat kejadian kemarin. Saat tiba-tiba aku kembali dengan perasaan sedih dan marah. Aku memecahkan kaca almari besar dengan tanganku - hingga sekarang tangan kananku masih diperban. Dan saat tiba-tiba beberapa pasang tangan menyeretku dari kolong ranjangku kemudian menyuntikkan jarum di tanganku.
“ Ibu??” panggilku.
Aku yakin, pasti ibu yang kembali memasukkanku di rumah sakit. Akhir-akhir ini memang aku sering memberontak, dan itu berarti pengobatanku harus diganti. Seorang bipolar sepertiku, kadang harus menjalani pengobatan yang berbeda dari sebelumnya. Proses kimiawi berubah dan menyebabkan obat tidak berhasil, sehingga harus menjalani pengobatan baru.
Seorang perawat menengokku dari jendela pintu. Dan tiba-tiba saja pintu terbuka dan Kezi datang membawa kue ulangtahun dengan lilin berbentuk angka tujuh belas. Di belakangnya disusul beberapa perawat.
“ Happy Birthday, Safa. Happy Birthday Safa. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Safa. Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga.”
Aku tersenyum bahagia dan menangkupkan kedua tanganku untuk make a wish. “ Ya Allah, hari ini aku berulang tahun di rumah sakit. Hari ini, aku bahagia Engkau masih memberiku kebahagiaan di tujuh belas tahun ini. Terimakasih padaMu atas seorang ibu yang selalu menyayangi aku dan sabar menghadapiku. Terimakasih Engkau juga mengirimkanku seorang teman seperti Kezi. Dan terimakasih atas semua anugerahMu, ya Allah. Tetaplah Engkau beri kebahagiaan di hati kami dan di hati ayah yang kini bersamaMu. Sungguh, aku tidak mengharapkan hadiah spesial dari ibuku ataupun oranglain. Karna aku yakin, hadiahMu jauh lebih spesial dari apapun yang ada di bumi ini. Ya, hadiahMu pasti jauh lebih spesial,” do’aku dalam hati.
Aku segera meniup lilin diiringi tepuk tangan.
“ Selamat ulangtahun ya, Safa. Semoga panjang umur,” kata Kezi, memelukku. “ Sekarang, potong kue pertama untuk orang spesial.”
“ Tapi, dimana ibu?”
“ Mungkin ibumu sedang membelikan hadian spesial untukmu, Safa,” sahut seorang perawat.
Aku tersenyum membayangkan ibu tiba-tiba datang membawa sesuatu yang spesial untukku. Aku mengambil pisau dan memotong kue dengan tangan kiriku – sebab tangan kanan masih sakit. Merasa agak susah, tangan kananku membantu memegang kue yang hendak kupotong untuk orang spesial – ibu. Dan tiba-tiba saja....
“ Aww!”
“ Ya ampun, tangan kananmu berdarah lagi. Suster? Tolong ini.”
Aku sempat memandangi sepotong kue – yang hendak kuberikan untuk ibu – terdapat bercak darahku. Seketika aku menjatuhkan sepotong kue itu, hingga seorang dokter berlari mendatangiku dan mengatakan bahwa aku harus bersabar.
“ Apa maksud Dokter?” tanyaku heran dengan pikiran mulai kacau.
Dari pintu yang terbuka, aku bisa melihat dengan amat sangat jelas sebuah ranjang didorong dengan membawa sebujur kaku berlumuran darah. Dan seseorang iu adalah....
“ Ibu?? Ibu!” Aku berlari keluar dan menahan ranjang itu. Kuusap wajah itu dari darah yang menutupinya. “ Ibu?? Nggak mungkin! Ibu! Ibu!”
“ Safa....,” isak Kezi sambil memelukku.
“ Dia bukan ibuku, Zi. Ibuku akan datang membawa hadiah spesial. Dan hadiah spesial itu dari Tuhan, karena memberi rejeki agar ibuku membelikan sesuatu!” Tiba-tiba aku tersentak dengan kalimatku. Dan hadiah spesial itu dari Tuhan.
“ Ibu ini tertabrak truk. Dan kami sempat menemukan ini di dekat tangannya,” kata seorang polisi.
Aku menerima sebuah tas dan kuambil sebuah laptop yang layarnya sudah retak di dalamnya. Kembali aku terisak dan semua ini, sama sekali tak pernah terpikirkan olehku. Tentu saja, ini semua sebuah kejutan. Surprise dari ibu yang tersayang, dan surprise spesial dari Tuhan. Hanya beberapa menit yang lalu, aku berdo’a padaNya, berharap Dia memberiku hadiah spesial di usiaku yang ke tujuh belas. Dan ternyata, menjadi yatim piatu adalah hadiah spesial bagi seorang penderita bipolar disorder. Kehidupan yang amat memuakkan.
Aku langsung membanting laptop itu hingga remuk setelah menghantam dinding. “ Laptop itu nggak jauh berharga dari Ibu! Ibu, maafkan aku! Ibu, bangunlah! Seorang ibu yang jahat yang meninggalkan anaknya sendiri!! Aku nggak butuh itu!” Semua orang berusaha menarikku menjauh dari tubuh ibu yang kuguncang amat keras, pelampiasan amarah dan kecewaku. “ Aku nggak butuh laptop itu!! Aku benci Ibu!! Aaa!!!”
 Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)

RAINBOWNiSTAR of LOVE





RAINBOWNiSTAR of LOVE
(Karya: ALYA NUR FADHILAH)

(Kamis,26/04)
Polisi kembali kehilangan jejak FPT (Federasi Pembasmi Teroris) yang menjalankan aksinya kemarin, 25 April 2012 di salah satu apartemen yang pemiliknya ditemukan sudah tergantung. Kelompok organisasi ilegal itu nampaknya sudah dilatih penuh untuk mensukseskan misinya, yakni membunuh secara tidak hukum anggota teroris, bahkan tanpa ditemukan jejak sedikitpun. Tidak ada yang salah dari sebuah misi mengentaskan terorisme, namun sikap dan cara yang tidak kemanusiaan menjadikan mereka terperangkap dalam buronan seluruh kepolisian daerah.
***
Sesekali rintik-rintik hujan mengguyur malam pekat berbulan separuh pisang. Hawa dingin nan syahdu agaknya tidak tepat ada sebuah adegan di sebuah jalan kecil daerah persawahan.
Dengan menarik gas penuh sementara mata sipitnya menajam menembus kabut dan aliran gerimis, di belakangnya disusul tiga motor dengan pengendara serba hitam. Ia semakin menekankan gasnya, hingga roda melaju dengan kecepatan di luar semestinya.
Hawa dingin semakin menusuk-nusuk tubuhnya yang hanya berkemeja panjang – tidak berjaket tebal. Bila saja mereka adalah para ghost rider, akan terbentuk api yang saling menyusul. Hingga salah satu pengendara berpakaian serba hitam berhasil mensejajarinya dan tanpa babibu menendang tubuh kedinginan itu.
SREETTT!!! BLAK!
“ Agaknya kita bisa membunuhnya sekarang juga!”
“ Kamu yakin, dia seorang teroris??” Sebuah suara perempuan menengahi.
Samar-samar, cowok yang kini menggelepar lemah masih bisa mendengar suara percakapan itu.
“ Hey, toloong! Ada yang kecelakaan! Di sana!”
“ Gawat! Ayo kita pergi!”
***
Goresan kuas yang menampilkan warna lamat-lamat secara perlahan mulai menghapus warna putih. Tangannya yang kekar, kini hanya mampu sekedar menggoreskan seni yang ada dalam otaknya. Dan semua itu, semua yang ada dalam pikiran dan hatinya sekalipun, tak pernah bisa terungkap dengan sebuah suara.
Tiba-tiba tangannya menyenggol sebotol cat warna dan membuatnya menggelinding harmonik hingga di bawah sebuah kaki bersandal warna pelangi. Cewek itu berjongkok mengambil botol. Membiarkan rambut lurusnya jatuh tergerai ke pipinya.
“ Ini punyamu?” tanya cewek itu, tersenyum manis.
Aldi hanya memandang takjub pada gadis itu. Pada mata tajamnya di balik lensa kaca mata. Pada tas berwarna pelangi. Pada anting-anting bermanik lingkaran dengan warna pelangi pula. Dan semua itu mengingatkannya akan seseorang.
“ Namaku Pelangi. Kamu?”
Aldi hanya menyambut uluran tangan itu dan langsung menuliskan sesuatu di kertas.
“ Ooh, nama kamu Aldi? Senang berkenalan denganmu. Tapi, kamu sendiri di sini?”
Aldi kembali menuliskan sesuatu. Iya, aku sedang sendiri. Tapi jika aku butuh teman, aku bisa sms adikku.
“Ooh, boleh aku menemanimu di sini? Kebetulan aku lagi butuh temen. Nanti kalo kamu mau pulang, aku juga bisa nganter kok. Rumah kamu nggak jauh dari sini, kan?”
Aldi menyipitkan matanya - membuatnya semakin sipit. Seakan bertanya, “Bagaimana kamu tahu?”
“ Oh, tentu saja aku tahu. Aku sering melihatmu di taman ini, dan aku juga pernah liat kamu sama adikmu itu keluar dari rumah. Cuma kebetulan.”
Gadis itu duduk di bangku di samping kursi roda Aldi. Ia tersenyum sambil mengamati hasil lukisan cowok manis di sampingnya itu.
“ Lukisanmu bagus banget. Kamu hebat deh,” puji Pelangi.
Matahari mulai menyingsing hingga ke barat, membiarkan mereka berdua tenggelam – seperti dirinya yang berganti malam – dalam keasyikan. Aldi merasa, ia sudah sangat mengenal lama pribadi gadis itu. Dan jauh dalam lubuk hati yang terdalam, gadis itupun merasakannya. Namun dalamnya sebuah niat atas misi itu, lebih mampu menutupi apa yang masih bisa dikata perasaan.
***
“ Hai, Rindu!”
“ Mbak Pelangi?? Itu mas Aldi lagi di ruang tengah.”
Sejenak tangan Adi berhenti saat matanya menangkap sosok gadis yang tersenyum ceria menghampirinya. Kini ia mengenakan rok berwarna-warni – seperti pelangi.
Pelangi mengamati lukisan di hadapan Aldi. Sebuah bebek boot di atas air, dan dua bocah kecil menaiki bebek boot itu. Alam bawah sadarnya bergejolak, meminta dirinya segera bangun dan mengaktifkan kembali memori itu. Tapi itu dirasa tidak perlu untuk menjalankan misinya.
Aldi mengibaskan tangannya, membuat Pelangi tersadar.
“ Eh, maaf. Ehm, lukisanmu yang ini bagus kok.” Pelangi berjalan mengelilingi ruangan yang semua sisinya terpajang lukisan hasil karya Aldi. “ Al, gimana kalo kamu buat pameran lukisan aja. Daripada lukisanmu cuma dipajang di sini, kamu kan bisa memperoleh keuntungan.” Mata Pelangi menangkap sebuah lukisan yang sepertinya masih dalam proses penyelesaian. Sebuah pelangi yang setengah melingkar indah di atas rumput hijau, dan setitik bintang kecil. Namun tak dihiraukannya keheranan itu, dan melanjutkan mengamati lukisan lain.
“ Hallo, semua. Nih, ada pisang goreng buatan Rindu. Ayo, cobain, cobain!” seru gadis remaja yang kini meletakkan sepiring pisang goreng.
“ Ehm, enak nggak nih?” tanya Pelangi mulai menyomot pisang itu.
“ Yee, pasti enak dong.”
Aldi masih sibuk mengelap tangannya yang kotor beberapa warna cat. Pelangi yang memperhatikan itu langsung menyuapkan pisang ke mulut Aldi.
***
“ Tapi aku nggak bisa!” seru cewek itu, berdiri dari duduknya dan memandang bangunan-bangunan tinggi dari jendela lantai 5.
“ Kapan lagi?! Kamu selalu mengelak, nggak ada kesempatan-lah, nggak bisa nglakuin sendiri-lah, bahkan sampe lupa aja dijadiin alesan. Emang apa sih yang kalian lakukan selama ini?!” seru Riko, yang mulai tak bisa mengendalikan emosi.
“ Riko, aku butuh….”
“ Butuh satu bulan lagi?? Udah satu bulan berlalu,!” Riko menggebrak meja, hingga cowok perokok yang duduk di sisinya beranjak keluar kamar. “ Teman-teman kita masih sibuk mengentaskan teroris lain di sana. Dan selama ini, kita nggak pernah menyelesaikan misi sampe satu minggu lebih, nggak pernah! Tapi kamu? Target orang cacat aja sampe satu bulan! Kamu bisa nggak sih?”
Cowok perokok kembali tanpa membawa puntung rokok. Ia mendekati cewek itu dan berdiri di sampingnya, mengamati bangunan dari jendela. “ Ada sesuatu denganmu? Katakanlah!”
Cewek itu berusaha menyembunyikan mata merahnya. Berusaha membendung air yang sedari tadi ingin mengucur. Ia memendam perasaan yang bahkan tidak bisa ia artikan maknanya.
“ Aku hanya merasa nggak sanggup aja, Mas. Aku merasa, ada sesuatu antara aku dan dia. Tapi nggak tahu itu apa,” ucap cewek itu.
“ Kamu kasihan dengan orang cacat?”
“ Bukan masalah itu. Tapi, ada sesuatu, sesuatu tentang masa lalu yang bahkan aku udah melupakannya.”
“ Aku tahu, kita semua tahu. Masa lalumu itu adalah bagian terburuk dalam hidupmu. Tapi sekarang, kita semua sedang berusaha membalas dendam atas masa lalu kita itu,” jelas cowok itu. “ Mungkin sekarang kamu sedang merasa bosan, itu wajar. Tapi, ingatlah kedua orangtuamu yang tiba-tiba saja meninggalkanmu, ditarik paksa petugas, difitnah sebagai teroris, diadili dan dibunuh oleh mereka dengan kejam. Dan bahkan masa kecilmu dulu, kau habiskan dalam pengejaran petugas, dikucilkan karena dianggap keluarga teroris, dan siapa yang menyelamatkanmu dari itu semua?? Ingat itu! Kumohon, ingat dan jangan pernah lupakan!”
Cewek itu menghela napas dalam, seperti ada kelegaan yang menutupi sebagian keraguannya.
“ Baik, sekarang kamu udah tenang. Dan, lakukan sekarang!”
***
Aldi menatap semua lukisan yang terjajar rapi. Matanya menerawang begitu jauh, apa makna hasil karyanya itu. Perlahan kenangan itu terkuak.
“ Bintang, nanti kamu mau jadi apa?”
“ Aku pengen jadi pembalap. Tapi kata mama, aku bisa jadi pelukis.”
“ Aah, itu cita-cita murahan. Aku mau jadi pelangi.”
“ Iya juga ya. Nanti kamu jadi pelangi, dan aku bintangnya. Bagus!”
“ Hey, kau ini ikut-ikut saja! Bintang kan pas malam, mana mungkin ada pelangi di malam hari?”
“ Bisa dong. Nanti, kita harus membuat itu bisa, Pelangi.”
Aldi menutup matanya, membulirkan setitik air di pipi.
“ Ayo kita naik bebek boot!”
“ Sayang, mama harus ikut dong, buat jagain kalian!”
“ Aah, mama sama mamanya Bintang naik aja sendiri. Kita maunya cuma naik berdua. Kan ada Bintang yang jagain Pelangi, Ma!”
“ Iya, Tante. Bintang bisa kok sama Pelangi.”
“ Yee, ada ikan oranye!
“ Pelangi, jangan nengok-nengok gitu, nanti kamu nyebur lho.”
BYUUR!!
“ Pelangi! Aduh, Pelangi?? Mama, Tante, Pelangi jatuh! Pelangi, aku akan bantuin kamu,” kata bocah itu sebelum nyebur menyusul gadis kecil yang meraup-raup di air.
Aldi semakin mengusik kenangan.
“ Bintang, hiks. Mama dan papa ditangkap. Mereka nggak bersalah! Tolongin mereka.”
“ Pelangi, aku akan jagain kamu. Kamu jangan sedih dong. Ada mamaku juga kok. Iya, kan, Ma?”
“Iya, Sayang. Mama dan papamu pasti baik-baik saja. Mereka tidak akan diapa-apain sama petugas itu.”
“ Mereka bilang, mama dan papa itu – apa namanya – anggota teris, Tante. Pelangi nggak ngerti teris itu apa.”
Dan sebuah suara di gelapnya malam gerimis itu, menjatuhkan ia hingga melumpuhkan bagian otak yang mensarafi kaki dan pita suaranya.
“ Kamu yakin, dia seorang teroris?”
Aldi menatap sebuah ID-Card dalam genggamannya. ID-Card, sebagai tanda anggota sebuah organisasi ilegal yang selama ini jadi buronan.
“ Hai, Aldi!” seru Pelangi yang ternyata sudah berdiri di belakang Aldi.
Aldi segera menyembunyikan ID-Card itu.
“ Ke taman,yuk! Aku punya kejutan lho.”
Aldi menutup matanya, berusaha mengorbankan semuanya. Demi sebuah cinta yang lama ia pendam sejak kecil. Cinta Bintang dan Pelangi.
Aldi membiarkan begitu saja dengan segenap ketulusan, saat Pelangi mendorong kursi rodanya. Hingga di taman itu, Pelangi membawanya ke sebuah tempat yang cukup sepi dari keramaian.
“ Aldi, kamu di sini bentar ya. Aku mau ke toilet,” kata Pelangi dengan sinar mata menyilaukan, seakan bermakna bagi Aldi.
Aldi menahan tangan Pelangi, menyelipkan sebuah kertas dalam genggamannya. matanya mengisyaratkan agar Pelangi membacanya sekarang. Namun Pelangi tergesa-gesa menuju toilet yang ia maksud sendiri.
Sementara tangan Aldi mengepal, menampakkan otot-otot. Ia berusaha menegarkan hati. Tak pernah ia sangka, gadis yang sangat ia cintai sejak kecil, adalah dia. Ya, dialah gadis kecil itu yang kini beranjak dewasa dan larut dalam kenangan yang mengubah seluruh hidupnya.
“ Bintang, mereka menuduh mama dan papa adalah teris. Apa itu teris, Bintang? Gara-gara teris, mama dan papa dibunuh. Aku benci teris!”
***
“ Mbak Pelangi!” seru gadis yang matanya sembab. “ Dimana mas Bintang?! Dimana?!”
Pelangi menatap tajam gadis itu. “ Dia adalah teroris. Dan teroris, berhak mendapat balasan seperti yang ia lakukan!”
“ Atas dasar apa? Haa?! Dia kakakku!”
Pelangi menggebrak meja, hingga beberapa cat warna dan kuas jatuh berserakan. “ Peduli apa aku! Mereka yang menyebabkan orangtuaku mati! Dan mereka pun harus mati! Kamu cuma bocah kecil yang nggak tahu apa-apa.” Pelangi membuka kain putih panjang yang menutupi beberapa lukisan. Ia hendak menyita semua lukisan itu.
Namun tiba-tiba, gerakannya membereskan lukisan terhenti saat kedua matanya menangkap beberapa lukisan di sudut. Lukisan bebek boot itu, lukisan dua bocah bermain layangan, dan semua aktivitas yang dilakukan dua bocah pun dilukiskan di atas kanvas. Tapi, yang paling membuatnya miris, ada sebuah pelangi besar di malam hari, dan di sampingnya ada setitik bintang terang.
“ Selama ini, mas Aldi selalu mencari Mbak Pelangi. Tapi ternyata, Mbak tega, ya.”
Pelangi segera membuka lipatan kertas yang sempat Aldi berikan.
Dulu kita pernah berjanji, akan menyatukan pelangi dan bintang agar bisa bersama. Dan aku berhasil menyatukannya dalam lukisan. Kau pun ingin menjadi pelangi, Dan kini kau lebih dari sebuah pelangi. Kau lebih dari seorang Pelangi.
Maaf, saat itu, aku tidak bisa menyelamatkanmu dari pengejaran petugas, Mereka yang menuduh keluargamu sebagai kelompok yang kau anggap ‘teris’ Mereka memang jahat, Pelangi. Tapi kau berdosa, bila membalas masa lalu yang sudah digariskan Tuhan. Terimalah, Pelangi. Terima. Seperti sebuah bintang yang menanti pelangi di malam hari.
Bintang Renaldi

Pelangi jatuh terduduk, tubuhnya lemas, air matanya bercucuran bersamaan lelahnya hati atas penantian panjang itu. Dan cinta yang ia mimpikan setiap malam, selama ini ada di hadapannya.
“ Bintang….,” isaknya.
“ Dimana mas Aldi?!”
Pelangi terkesiap. “ Riko? Riko yang membawanya!” serunya sambil berlari menuju taman, berharap mereka belum menyelesaikan misinya itu. Sebab Bintang tidak bersalah.

SELESAI

Alya Nur Fadhilah
(Januari, 2012)