Label

Rabu, 25 September 2013

Firasat Manusia

Firasat seorang mukmin sudah pasti benar, karena bisa jadi hal itu dari Allah. Namun, belum tentu seseorang yang dianugerahi firasat, isa menghindari hal-hal yang difirasatkan. 

Salah satu contoh pengalamanku. Suatu hari, aku berangkat kuliah jam 7 dan di sepanjang jalan menuju kuliah ada begitu banyak polisi berjajaran, tidak seperti biasa. Saat itu aku berpikir, mngkin mereka hanya menertibkan lalu lintas yang lagi padat. Aku memiliki jadwal kuliah hingga sore. Namun ternyata dua mata kuliah kosong, sehingga mahasiswa pulang jam 9 pagi. Biasanya  begitu kuliah selesai dan tidak ada urusan apapun, aku ingin segera pulang. Apalagi sat itu au ingin segera mencuci pakaian yang sudah menumpuk seminggu di kamar. Perjalanan kelas ke parkir cukup jauh. Dan selama au berjalan tersbut, ada suatu keraguanku untuk pulang. Ya, aku berjalan pelan-pelan sambil berpikir, seperti ada perasaan tidak enak. Karena takut terjadi sesuatu tentang polisi-polisi yang berjaga pagi tadi atau ada sesuatu denganku di perjalanan, sesuai firasatku, aku berbalik dan menuju ke pepustakaan sendiri, karena teman-temanku sudah pulang Jam sepuluh kurang, aku mulai keluar parkir kampus. Firasatku sudah mulai terkontrol. Namun apa yang terjadi? Ternyata ada razia polisi dan aku tdak bisa mengelak.

Apa kesimpulannya? Firasat kadangkala hanya pertanda, membuat kita siap meghadapi kenyataan yang telah kita rasakan di pikiran. Tapi belum entu kau bisa mengelak dan meghindar. Hanya saja, kau bisa menunda waktu terjadi, tapi itu pasti terjadi. Seperti pengalamanku, aku mungkin ditakdirkan bertemu polisi jam 9 jika au segera pulang. Tapi karna memang sudah takdirku bertemu polisi, aku akan tetap bertemu meski di waktu yang berbeda karna aku memutuskan tidak jadi pulang jam 9.

Sering kita melihat fil Final Destination. Si tooh utama, sudah diberi tanda atau firasat tentang kematian kawan-kawannya. Tapi apa kenyataannya? Kematian tetap dialami kawan-kawannya satu per satu. Kalaupun suatu saat ia bisa memanfaatkan firasatnya untuk memantu kawannya, kematian itu tetap akan datang, hanya saja waktunya ditunda.

wallahu a'lam

Jumat, 20 September 2013

Kriteria Orang Sukses

Memang sulit menentukan kriteria orang sukses. Di dunia ini ada banyak orang kaya, tapi apakah sukses itu diukur dengan materi? Banyak juga orang pintar dan cerdas, lalu apakah sukses diukur berdaarkan kemampuan yang sudah diberi oleh Tuhan? Einstein untuk menjadi ilmuwan sukses pun tidak memiliki IQ yang cerdas. Apakah orang sukses adalah oang terkenal? Tidak masuk akal lagi jika kesuksesan hanya berdasarkan eksistensi.

sukses dan berhasil itu berbeda maksud. Jika ada orang yang memiliki impian lalu bisa mendapatkannya, ia hanya berhasil. Jika kata orang sukses adalah orang yang bisa mendapatkan semua impiannya, berarti tidak akan ada orang sukses di dunia ini. Jika ada seorang yang memiliki 100 impian dalam hidupnya, apakah yakin ia bisa mendapat semuanya? Semua orang pernah gagal, semua orang sering mendapatkan apa yang tida sesuai keinginan. Itu hanya cobaan,, ujian, bahkan masalah yang justru membuat kita dewasa.
Lalu, sukses itu yang bagaimana?? Sukses itu hanya masalah kepribadian. Kepribadian pantang menyerah, kepribadian tangguh menghadapi masalah, slalu berpikir positif, bahkan kepribadian yang menjadikan ia bermanfaat untuk banyak orang.Apalah artinya pangkat tinggi, kedudukan terhormat, tapi itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, sama sekali tidak berpengaruh buat sekitar. Kesuksesan itu bukan sekedar untuk diri sendiri, tapi perubahan apa yang bisa ia bawa untuk sekitar, buat orang lain. Contoh kecil seorang presiden, banyak yang mengatakan beliau orang sukses. Tidak, beliau hanya berhasil menjadi presiden. Tapi apakah orang nomor 1 di negara, bisa membawa perubahan bagi negara itu sendiri?

Kepribadian orang sukses itu, cenderung melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oranglain, memikirkan apa yang tidak dipikirkan oranglain.

Rabu, 18 September 2013

Kedewasaan Seseorang

"Salah satu yang menciptakan kedewasaan bagi seseorang adalah masalah. Dan untuk melihat tingkat kedewasaan seseorang, kita cukup melihat bagaimana cara ia menyelesaikan masalahnya.
Orang yang selalu berpangku tangan pada orang lain dalam menghadapi masalah, selamanya ia kan menjadi pribadi yang membutuhkan orang lain. Tidak bisa mandiri, tidak yakin pada kemampuannya sendiri."

by Alya Nur Fadhilah

Senin, 09 September 2013

Buat Kamu yang Sakit Hati

Ayolah, Kawan... Apa yang membuatmu meratapi sakit hati, patah hati, cemburumu pada orang yang kau suka? Kau boleh saja mencintai seseorang, tapi jangan pernah itu mampu mengubah dirimu sendiri. Cukuplah kau jatuh cinta hanya sebentar, setelahnya bagaimana caranya kau mampu membangunkan perasaan itu dengan indah. Indah dalam konteks tetap menjaga iman dan tidak akan bisa mengurangi kebahagiaanmu.

Bila ternyata seseorang yang kau cinta menyukai orang lain, dekat dengan orang lain, atau bahkan menunjukkan sikap tidak welcome padamu, jangan kau salahkan dia. Pada dasarnya, rasa sakit hati itu hanya kau yang ciptakan sendiri. Jika sejak duku kau tidak pernah mencintainya ataupun memiliki perasaan apapun padanya, semua sikap dan perilakunya tidak akan berpengaruh buatmu, apalagi menyakitimu.

Memang banyak sekali yang bilang, bahwa perasaan cinta, suka, itu datang tanpa terduga. Namun statement itu belum seratus persen benar. Perasaan suka pada seseorang bisa terjadi karena beberapa hal:

1. Ujian buatmu. Hanya Allah-lah yang mampu membolak-balikkan hati semua manusia. Siapa yang dikehendakiNya, pasti akan terjadi. Belum tentu semua hal yang Ia berikan adalah anugerah. Bisa jadi itu adalah ujian, sejauh mana kau mampu mengendalikan keimanan dan nafsu syahwatmu. Sebab tidak semua manusia mampu lolos dari jeratan hawa nafsu, perang yang paling hebat bagi seorang muslim.

2. Karena salahmu sendiri. Why? Dalam agama islam, kita sudah diperintahkan untuk menundukkan pandangan dan manjaga kemaluan. Menundukkan pandangan, hal iu diwajibkan karena mampu menghindarkan dari zina mata. Skema perasaan bisa jadi dari mata lalu turun ke hati. Dan dari mata itulah semua zina-zina akan berlanjut. Maka dari itu, jagalah pandanganmu...

Sebenarnya konsepnya mudah sekali. Hati kita tidak akan sakit, jika kita tidak mengijinkan seseorang menyakitinya. Semua itu, tergantung paradigma kalian. Bagaimana kalian meposisikan sakit hati itu dalam cerita hidup. Bagaimana kalian mampu mengambil hikmah dan pelajaran kedewasaan, yang tidak akan kalian pelajari di bangku sekolah. Semua masalah,itu pasti akan bermanfaat buat kita. 

So, keep smile..:)

Puisi Kalkulator Perasaan

1 hari ditambah 1 hari tidak otomatis jadi 2 hari
Jika itu rindu, maka hasilnya bisa berminggu-minggu waktu, mana tahan
Jika itu pertemuan, maka hasilnya hanya sekejap saja, cepat sekali terasa

1.000 km jarak ditambah 500 km jarak tidak otomatis jadi 1.500 km
Kalau itu dekatnya hati, maka hasilnya nol saja, selalu dekat di hati
Tapi kalau itu perjalanan menemui belahan hati, maka aduh terasa jauh sekali

Urusan perasaan kadang tak sesederhana kalkulator

Golongan darah O menikah dengan golongan darah O, pastilah anaknya O
Tapi benci bertemu benci, tidak otomatis berpisah, kalau jodoh tidak akan kemana
Pun cinta bertemu cinta, tidak otomatis bersatu, kalau tidak jodoh tidak akan terjadi

Aduhai, urusan perasaan tidak sepasti teori biologi

Dan jelas tidak macam sedang download sesuatu, berapa persennya ketahuan
Kita tidak pernah bisa mengukur persentase rasa suka
Dan jelas tidak seperti penunjuk kecepatan, berapa kilometer per jam
Kita tidak pernah bisa menghitung kecepatan berkurang atau bertambahnya rasa sayang

Urusan perasaan bahkan lebih rumit dari rumus matematika

10 dikurang 1 tidak berarti 9
10 dikurang 10 tidak berarti 0
Kalau itu perasaan, semakin dikurangi, semakin dienyahkan, dipaksa dibuang
Hasilnya justeru berlipat ganda jadi 100 atau bahkan 1000
Tumbuh tak terbilang
 
By: TERE LIYE

Sabtu, 07 September 2013

Pengamatan Rumah Tangga

Aku sering bertanya dalam hati. Kriteria perempuan yang bagaimanakah yang diinginkan laki-laki? Aku sering melakukan pengamatan pada rumah tangga oranglain. Bukan berarti aku sudah ingin berumah tangga yaa..., tapi aku perlu mengerti sebelum menjalaninya.
Di sekitarku, ada banyak lai-laki yang ingin segera menikah, meskipun usia mereka masih cenderung muda. Memang tidak ada batasan minimal usia menikah - kecuali program pemerintah untuk mengatasi peledakan penduduk. Bahkan Islam menganjurkan bagi para pemuda yang sudah siap, maka wajib untuk menyegerakan menikah. yah, itu tidak salah. Islam menganjurkan pasti juga ada maksudnya. Supaya nafsu mereka lebih terjaga, menyempurnakan separuh  dien, membentuk keturunan sholeh dan sholekhah. Ya, itu bagus.

Tapi, ada banyak pertanyaan yang aku tidak tahu pada siapa akan kuutarakan. Merekalah para laki-laki - yang berusaha menjaga iman - yang ingin segera menikah. Sudah bukan rahasia lagi, laki-laki memang diciptakan dengan nafsu yang besar, perbandingan nafsu laki-laki dan perempuan 9:1. Bahkan perbandingan malu laki-laki dan perempuan 1:5. Kenapa bisa begitu? Yah, tulah kodrat kedua jenis kelamin itu. 
Namun, apaah pernikahan itu, hanya sarana bagi laki-laki memuaskan nafsunya? Apakah mereka memang benar-benar memiliki apa yang diinginkan perempuan? Apakah setelah semua terasa jenuh, sikap mereka pada pasangannya akan berubah? Apakah jika kulit seorang perempuan sudah berkerut, sekalipun perempuan itu masih setia dan berbakti, maka perasaan sang laki-laki akan memudar? Begitu banyak pertanyaa
n tentang apa yang sebenarnya para laki-laki itu inginkan. 

Aku selalu mengamati, mulai dari keluargaku sendiri, orang-orang terdekat yang sudah berpasang-pasangan. Sikap mereka di awal pernikahan, akan membuat semua orang yang melihatnya merasa iri, begitu mesra, lembut, romantis. Dan kenyataannya, itu tidak akan bertahan lama. Aku pernah membaca sebuah buku yang mengatakan bahwa cinta sepasang suami istri hanya bertahan maksimal tiga tahun. Setelahnya, adalah tugas mereka untuk membangun cinta agar kehidupan rumah tangga tetap harmonis. Lalu, apakah keduanya bisa?

Berdasarkan pengamatanku lagi, tidak banyak dari mereka yang bisa. Ya, meskipun sampai saat ini mereka masih berumah tangga, tapi menurutku itu sangat menyakitkan jika aku yang mengalaminya. Seorang istri, pasti akan tetap setia, berbakti, menjalankan kewajibannya, berlemah lembut pada suaminya. Tapi aku tidak pernah rela atas perlakuan balik sang suami. Semakin lama pernikahan itu, mereka tidak lagi lemah lembut pada istrinya. Mereka tidak lagi memuji istrinya, bahkan bisa saja mencemooh dan menganggap rendah. Mereka tidak lagi mau membantu istri mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah - ya meskipun itu tugas istri, apa mereka tidak berpikir bahwa perempuan sudah cukup mengurus banyak hal. Mereka akan membiarkan istri-istri mereka belanja sendiri di luar sana. Mereka tidak lagi menemani istrinya kemanapun ia pergi - lalu apa gunanya mahram yang harus selalu mendampingi kemanapun perempuan pergi?

Ada banyak fakta di dunia ini. Dan ada banyak tanya dalam diriku. Apakah mereka benar-benar hanya membutuhkan kecantikan? Jika kecantikan itu pudar, rasa sayang dan perlakuan lembut mereka akan hilang. Jadi kalimat " Yang pertama dilihat dari perempuan itu agamanya, sholekhah." mungkin itu sudah basi. Kenyataannya, kebanyakan laki-laki tidak seperti itu. Laki-laki sholeh pun bisamengubah perempuan biasa menjadi sholekhah, karena mereka memiliki label iman (pemimpin).
Tapi..., wallahu'alam. Semoga Allah memberiku laki-laki terbaik dari sisiNya, yang bisa istiqomah dan konsisten dalam bersikap. Aaamiin